Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri 2: Jejak Awal, Banten, Lada, dan Marga. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Mari kita duduk sebentar di beranda ini. Saya mau bercerita tentang masa ketika tanah Lampung belum mengenal Belanda, tetapi sudah mengenal tangan yang lebih jauh ke barat: Banten.
Banyak orang mengira sejarah lada Lampung dimulai ketika kapal-kapal Belanda masuk ke Telukbetung. Itu keliru. Jauh sebelum VOC menancapkan kukunya, Kesultanan Banten sudah lebih dulu mengulurkan tangan ke Sai Bumi Ruwa Jurai. Tangan itu membawa kain, garam, dan gelar. Tetapi di baliknya, ada satu permintaan yang tidak bisa ditolak: lada.
Sejak pertengahan abad ke-16, Lampung berada di bawah pengaruh Banten. Sultan Banten tidak mengirim pasukan besar. Yang dikirimnya adalah utusan, piagam, dan janji pengakuan. Para pemimpin lokal, mereka yang nantinya dikenal sebagai Punyimbang, diberi mandat untuk memerintah kampungnya sendiri. Namun ada syarat yang melekat pada mandat itu: lada harus mengalir ke Banten.
Dalam Dalung Sukau, sebuah piagam tembaga dari tahun 1692, aturan itu tertulis jelas. Setiap penduduk diwajibkan menanam lima ratus batang lada. Bukan anjuran. Kewajiban. Dan hasilnya tidak boleh dijual ke sembarang orang.
Bagi orang Lampung yang hidup dari tanah, menanam lada bukan hal baru. Tanah kita cocok, iklimnya ramah. Yang baru adalah aturan mainnya.
Lada yang tadinya tumbuh untuk keluarga, kini harus tumbuh untuk memenuhi permintaan orang di seberang laut.
Pada tahun 1670, sebuah prasasti tembaga ditanam di Bojong. Hurufnya Arab, bahasanya Jawa Banten. Isinya bukan doa, melainkan perintah. Salah satu bunyinya, dalam terjemahan sederhana: siapa pun yang membawa lada ke Banten harus membawa cap yang sah dan surat keterangan tentang jumlah lada yang dibawa.
Yang menarik bukan hanya isinya, tetapi nadanya. Aturan itu keras. Pedagang yang membawa lada tanpa cap resmi dianggap melakukan perdagangan ilegal. Barangnya boleh disita. Kapalnya boleh ditenggelamkan.
Mengapa Banten begitu tegas? Karena lada adalah nyawa bagi mereka. Dan Lampung adalah salah satu sumber utamanya. Tetapi bagi petani di Tiyuh Kibang atau di tepi Way Tulang Bawang, aturan itu terasa seperti tali yang mengikat leher. Mereka menanam, merawat, memanen, tetapi harga dan tujuan panen bukan lagi urusan mereka.
Di antara petani dan Sultan Banten, ada satu sosok yang menjadi jembatan: jenang. Ia adalah wakil Sultan di Lampung, yang bertugas menerima lada dari para petani sebelum dikirim ke Banten. Di beberapa daerah, ada pula djenjen yang mengumpulkan lada dari para jenang untuk diteruskan ke seberang.
Di tingkat kampung, Punyimbang memegang peran. Ia mengatur pembagian hasil, menjaga agar tidak ada yang curang, dan menegakkan Piil Pesenggiri, harga diri, di tengah sistem yang cenderung menguntungkan pihak luar. Tetapi tidak semua Punyimbang bisa berdiri tegak. Tekanan Banten terlalu besar, dan gelar yang diberikan, Pangeran, Ngabehi, Tumenggung, datang dengan harga: lima belas pikul lada untuk gelar Pangeran, sepuluh pikul untuk Kyai-Arya.
Gelar itu bukan sekadar kehormatan. Ia adalah tanda bahwa seseorang telah terikat pada sistem. Dan sistem itu tidak selalu berpihak pada rakyat.
Petuah saya: Jangan salahkan jenang karena zaman. Tetapi ingat, jenang yang baik adalah yang tidak menjual rakyatnya kepada harga.
Sejarah resmi sering mencatat perang besar, raja yang berani, dan benteng yang runtuh. Tetapi sejarah lada Lampung juga berisi perlawanan yang tidak pernah masuk buku besar: penyelundupan.
Sebelum tahun 1760-an, para petani di Tulang Bawang merasa harga yang ditawarkan Banten terlalu rendah. Mereka juga muak dengan sikap represif para pejabat Banten. Maka mereka melakukan apa yang naluri manusia ajarkan: mencari pembeli lain. Palembang, tetangga di utara, menawarkan harga lebih baik dan syarat yang lebih ringan. Lada pun mengalir ke sana, diam-diam, melewati jalur sungai dan hutan.
Di wilayah Semangka, di barat daya Lampung, pembelinya bukan Palembang, melainkan Inggris. Pedagang-pedagang dari Bengkulu, yang saat itu dikuasai East India Company, secara diam-diam membeli lada dari nelayan dan petani kita.
Belanda marah. Mereka membangun pos pengawasan di Tulang Bawang pada tahun 1756 dan di Semangka pada tahun 1762. Tetapi sungai-sungai di Lampung terlalu banyak, dan malam terlalu panjang untuk diawasi sepenuhnya.
Apakah ini pengkhianatan? Saya tidak percaya begitu. Ini adalah naluri mempertahankan hidup. Ini adalah cara orang biasa mengatakan: kami juga punya harga diri.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid.” (HR. Bukhari dan Muslim). Para petani itu tidak mengangkat senjata. Mereka hanya menjual ladanya kepada siapa yang mau membayar lebih.
Tetapi di bawah tekanan sistem yang menindas, bahkan tindakan sekecil itu adalah bentuk pembelaan atas hak.
Pada tahun 1735, sesuatu yang lebih besar terjadi. Dua ribu orang dari Belambangan dan Pakuan, daerah penghasil lada di pertemuan tiga sungai, datang menghadap Sultan Palembang. Mereka meminta perlindungan.
Permintaan itu bukan tanpa alasan. Banten mengirim tujuh puluh kapal untuk memperkuat posisinya di Tulang Bawang. Rumah-rumah dibakar. Para kepala suku yang tidak setia dipenjarakan. Bagi orang-orang di tepi sungai, Banten bukan lagi pelindung. Banten adalah beban.
Palembang menyambut mereka. Sultan memberikan gelar kepada seratus pemimpin dari Pakuan, Pagar Dewa, dan Menggala. Gelar-gelar itu, lagi-lagi, adalah alat politik. Tetapi bagi orang-orang yang rumahnya terbakar, perlindungan apa pun terasa lebih baik daripada tangan yang terus menekan.
Sejarah lada Lampung bukan cerita hitam-putih. Tidak ada pahlawan tanpa cela, tidak ada penjahat sepenuhnya. Yang ada adalah manusia-manusia yang berusaha bertahan di tengah tarikan kepentingan besar: Banten, Palembang, Inggris, dan kemudian Belanda.
Mungkin ada yang bertanya: mengapa kita masih membicarakan masa lalu yang begitu rumit? Mengapa tidak cukup bangga dengan lada Lampung yang pernah mendunia, tanpa mengungkit luka-luka yang menyertainya?
Karena sejarah yang hanya berisi kebanggaan adalah sejarah yang setengah matang.
Piil Pesenggiri mengajarkan kita untuk menjaga harga diri. Tetapi harga diri tidak lahir dari cerita indah tentang kejayaan. Harga diri lahir dari keberanian melihat kenyataan: bahwa nenek moyang kita pernah ditekan, pernah diatur, pernah dipaksa menanam untuk orang lain. Dan mereka tidak menyerah. Mereka menyelundupkan lada, mereka berpindah pembeli, mereka meminta perlindungan ke mana pun yang mau mendengar.
Itulah harga diri yang sejati.
Nemui Nyimah mengajarkan kita ramah dan suka memberi. Tetapi kita juga perlu belajar bahwa memberi bukan berarti menyerahkan segalanya. Nengah Nyappur mengajarkan keterbukaan. Tetapi keterbukaan bukan berarti menerima apa pun tanpa bertanya.
Lada Lampung pernah menjadi emas hitam. Bukan karena butirnya berkilau, tetapi karena di balik setiap butir ada keringat, ada keberanian, dan ada doa orang-orang biasa yang tidak pernah masuk buku sejarah.
Mereka menanam, merawat, dan memanen. Mereka juga bertahan.
Tabik pun.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Piil Pesenggiri, Harga Diri yang Tak Pernah Padam. Hatipena.
3. Karsiwan. Sejarah Lada: Lampung dan Dinamika Perdagangan Lada. Repository Metro Uniw.
4. Masroh, Laelatul. “Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942”. Jurnal Sejarah dan Budaya. Universitas Negeri Malang.
5. “Eksistensi Kesultanan Banten di Lampung Barat Abad XVIII Berdasarkan Naskah Dalung Sukau”. Purbawidya. BRIN.
6. Andaya, Barbara Watson. To Live as Brothers: Southeast Sumatra in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. University of Hawaii Press.
7. Lembaga Adat Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti.
8. Shahih Bukhari, no. 2480; Shahih Muslim, no. 141.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar