Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri – 4: Lada yang Menembus Dunia. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 23 Oct 2026 00:44 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 45 kali dibaca
Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri – 4: Lada yang Menembus Dunia. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Mari kita duduk sebentar di beranda ini. Saya sudah siapkan kopi, dan malam ini saya mau bercerita panjang. Tentang masa ketika butir-butir hitam dari tanah kita bukan hanya milik kita, tetapi milik dunia. Tentang lada yang menembus pasar Eropa, tentang pelabuhan yang dibangun untuk mengalirkannya, dan tentang petani yang tetap menerima bagian terkecil meskipun tanahnya kaya.
Ini cerita yang jarang kita dengar di bangku sekolah. Tapi justru karena jarang, kita perlu mendengarnya dari beranda ini.

Coba Bapak-Ibu bayangkan: akhir abad ke-19, kapal-kapal layar berlabuh di Telukbetung. Muatannya bukan hanya kain dan garam, tetapi butir-butir lada hitam yang sudah dijemur berhari-hari di bawah matahari Lampung. Butir-butir itu dibawa ke Batavia, lalu diteruskan ke Eropa.
Angka-angka dalam arsip kolonial mencatat hal yang membuat kita terkejut hari ini. Pada puncak kejayaannya, lada dari Lampung menyumbang lebih dari tujuh puluh persen ekspor Hindia Belanda. Bahkan ada periode ketika produksi kita mencapai hampir dua pertiga dari kebutuhan lada dunia.
Bukan jumlah yang kecil. Bukan kebanggaan yang dibuat-buat.
Lada dari Menggala, dari Telukbetung, dari Tulang Bawang, dikirim ke London, Hamburg, Amsterdam, bahkan New York dan San Francisco. Di kota-kota itu, lada kita menjadi bumbu di dapur-dapur pedagang, dicatat dalam buku besar perusahaan dagang, dan dijual dengan harga yang jauh lebih tinggi dari yang diterima petani kita.

Di pasar Eropa, lada Lampung dikenal karena kualitasnya. Butirnya besar, aromanya kuat, dan rasanya pedas. Pedagang di Amsterdam menyebutnya sebagai salah satu yang terbaik yang pernah mereka terima dari Hindia.
Tetapi di kampung kita, tidak ada yang tahu bahwa butir-butir itu sampai ke negeri sejauh itu. Yang mereka tahu hanyalah bahwa panen harus diserahkan, dan harga sudah ditentukan.
Sebelum ada

Pelabuhan Panjang, lada kita mengalir melalui sungai-sungai. Perahu-perahu kecil membawa hasil panen dari pedalaman ke Telukbetung. Dari sana, kapal-kapal yang lebih besar membawanya ke Batavia, lalu ke Eropa.
Perjalanan itu tidak singkat. Dari Tiyuh Kibang ke Telukbetung butuh berhari-hari menyusuri Way Tulang Bawang. Kadang perahu terjebak di musim kemarau, kadang terbalik di musim hujan. Tetapi lada harus tetap sampai. Sebab jika tidak, petani tidak akan menerima pembayaran.
Ketika perdagangan semakin ramai, Belanda membangun pelabuhan baru di Panjang. Letaknya strategis, menghadap langsung ke Selat Sunda. Kapal-kapal besar bisa bersandar tanpa harus menunggu air pasang.
Jalur kereta api dari Lampung ke Palembang juga dibangun. Rel itu membelah hutan dan sawah, menghubungkan pedalaman dengan pelabuhan. Semua itu mempercepat pengangkutan. Semua itu memudahkan lada kita sampai ke pasar dunia.

Namun jangan salah paham. Infrastruktur itu bukan dibangun untuk kesejahteraan petani. Ia dibangun untuk memastikan lada mengalir deras ke tangan kolonial, tanpa hambatan, tanpa jeda.
Petani tetap menerima bagian terkecil. Mereka menanam, merawat, memanen, tetapi harga ditentukan orang lain. Mereka menyerahkan hasil bumi, tetapi tidak pernah tahu ke mana perginya. Mereka hanya tahu bahwa lada mereka ditimbang, dicatat, lalu dibawa pergi.
Ada petuah lama di kampung saya: Orang yang menanam padi belum tentu makan nasi. Orang yang menanam lada belum tentu merasakan pedasnya di dapur sendiri.

Tahun 1930, produksi lada Lampung mencapai angka yang membuat orang terkejut: lebih dari empat puluh enam juta kilogram. Angka itu tercatat rapi dalam laporan pemerintah kolonial. Angka itu juga yang membuat Lampung dijuluki sebagai salah satu wilayah paling produktif di Hindia Belanda.
Namun angka itu tidak bercerita tentang semua hal. Ia tidak bercerita tentang kampung-kampung yang tanahnya terus digarap tanpa henti. Ia tidak bercerita tentang perempuan-perempuan yang menenun tapis sambil menunggu suami pulang dari kebun. Ia tidak bercerita tentang anak-anak yang belajar menghitung butir lada sebelum belajar membaca.
Di balik angka empat puluh enam juta kilogram, ada ribuan hektar kebun yang dirawat oleh tangan-tangan yang tidak pernah tercatat namanya. Ada musim tanam yang penuh harap, ada musim panen yang penuh kerja, dan ada musim paceklik yang penuh doa.
Petuah saya: Tanah boleh kaya. Tetapi kalau yang punya tanah tidak menikmati, kekayaan itu hanya angka di buku tuan.

Mungkin Bapak-Ibu bertanya: bagaimana caranya lada dari kampung kita sampai ke London atau Amsterdam?
Jalurnya panjang. Dari kebun di pedalaman, lada dibawa ke pasar kecamatan. Dari sana, pedagang perantara membawanya ke Telukbetung atau Menggala. Di pelabuhan, lada ditimbang, dicatat, dan dimasukkan ke gudang. Setelah cukup banyak, barulah kapal-kapal membawanya ke Batavia.
Di Batavia, lada dari berbagai daerah dikumpulkan. Ada dari Lampung, ada dari Palembang, ada dari Banten. Semua dicampur, dipilah, dan dikemas ulang. Lalu dikirim ke Eropa dengan kapal-kapal VOC.

Perjalanan dari Batavia ke Amsterdam memakan waktu berbulan-bulan. Kapal harus melewati Samudra Hindia, mengitari Tanjung Harapan, dan menyeberangi Samudra Atlantik. Kadang badai datang, kadang kapal dirampok, kadang lada membusuk karena kelembapan.
Tetapi ketika sampai di Amsterdam, harga lada melonjak berkali-kali lipat dari harga yang dibayarkan kepada petani. Di sana, lada kita menjadi komoditas yang diperdagangkan di bursa, dicatat dalam kontrak, dan menjadi bagian dari kekayaan pedagang-pedagang Eropa.
Petani kita? Mereka tidak pernah tahu bahwa lada mereka diperjualbelikan seperti saham. Mereka hanya tahu bahwa harga yang mereka terima cukup untuk membeli garam dan kain.

Menanam lada bukan sekadar pekerjaan ekonomi. Bagi orang Lampung, menanam adalah ibadah sosial. Tanah adalah amanah. Hasilnya adalah karunia yang harus dibagi.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, lalu burung atau manusia atau hewan memakannya, melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR. Bukhari).

Hadis ini sering saya renungkan ketika melihat kebun-kebun lada di Seputih atau di Sekampung. Petani kita menanam bukan hanya untuk diri sendiri. Lada yang jatuh di tanah, yang dimakan burung, yang dipetik orang lewat—semua itu menjadi sedekah. Tanpa mereka sadari, keringat mereka telah memberi makan dunia.
Tetapi apakah petaninya sudah merdeka?
Pertanyaan itu menggantung di udara. Lada kita mendunia, tetapi petaninya tetap miskin. Lada kita menjadi emas hitam bagi Belanda, tetapi bagi orang Lampung, ia tetap butir-butir yang harus diserahkan.
Di sinilah kita perlu jujur. Sejarah lada Lampung bukan hanya cerita tentang kejayaan. Ia juga cerita tentang ketidakadilan. Tentang tanah yang kaya tetapi orangnya tetap melarat. Tentang butir yang kecil tetapi membawa kekayaan yang tidak pernah sampai ke tangan yang menanamnya.

Di sinilah Piil Pesenggiri diuji. Harga diri bukan hanya soal berani melawan dengan senjata. Harga diri juga soal tahu bahwa kerja kita bernilai, meskipun orang lain yang menikmati hasilnya.
Petani di Tiyuh Kibang tidak pernah menyerah. Mereka tetap menanam. Mereka tetap merawat. Mereka tetap memanen. Bukan karena mereka pasrah, tetapi karena mereka tahu: tanah ini milik leluhur, dan kerja ini adalah ibadah.
Sakai Sambayan mengajarkan gotong-royong. Ketika panen tiba, tetangga datang membantu tanpa diminta. Ketika gagal panen, mereka berbagi apa yang tersisa. Itulah kekayaan yang tidak pernah tercatat dalam laporan kolonial.
Nemui Nyimah mengajarkan keramahan dan saling memberi. Meskipun hidup sulit, petani kita tidak pernah pelit kepada tamu. Mereka menyuguhkan kopi, pisang, dan kadang sirih. Mereka percaya bahwa rezeki tidak akan berkurang karena dibagi.
Nengah Nyappur mengajarkan keterbukaan. Petani kita menerima pedagang dari mana pun, tanpa membedakan suku dan agama. Mereka tahu bahwa lada hanya bisa sampai ke pasar jika ada yang membawanya. Meskipun kadang mereka merasa dipermainkan harga, mereka tetap membuka pintu.
Tahun 1930-an, harga lada di pasar dunia jatuh. Krisis ekonomi global membuat permintaan menurun. Di Lampung, kebun-kebun lada mulai ditinggalkan. Banyak petani beralih ke kopi, karet, atau kelapa.
Tetapi tidak semua pergi. Di beberapa kampung, kebun-kebun lada tetap dirawat. Orang tua mengajari anaknya menanam lada dengan cara lama: pilih dadap yang kuat, jaga kebersihan kebun, panen saat buah mulai memerah.
Mereka tidak tahu bahwa suatu hari nanti, lada Lampung akan kembali dibicarakan. Mereka hanya tahu bahwa ini adalah warisan, dan warisan harus dijaga.
Mengapa Kita Perlu Mengingatnya
Mungkin ada yang bertanya: untuk apa mengungkit masa lalu yang jauh? Bukankah lebih baik kita fokus pada masa depan?
Karena sejarah yang hanya berisi kebanggaan adalah sejarah yang setengah matang.

Piil Pesenggiri mengajarkan kita menjaga harga diri. Tetapi harga diri tidak lahir dari cerita indah tentang kejayaan. Harga diri lahir dari keberanian melihat kenyataan: bahwa nenek moyang kita pernah menanam untuk dunia, tetapi tidak pernah menikmati hasilnya. Dan mereka tidak menyerah.
Mereka menyembunyikan panen. Mereka menjual ke pembeli lain. Mereka menanam di tempat yang tidak terlihat. Mereka bertahan.
Itulah harga diri yang sejati.
Lada Lampung pernah menjadi emas hitam. Bukan karena butirnya berkilau, tetapi karena di balik setiap butir ada keringat, ada keberanian, dan ada doa orang-orang biasa yang tidak pernah masuk buku sejarah.
Mereka menanam. Mereka bertahan. Mereka tidak menyerah.
Petuah Penutup
Anakku, lada itu kecil. Tetapi ia pernah menembus dunia.
Jangan biarkan sejarah ini hilang dari cerita kampung kita.
Tanah Lampung pernah disebut ladang emas hitam. Bukan karena lada itu emas. Tetapi karena keringat orang-orang yang menanamnya lebih berharga dari emas.
Dan ingatlah, kemerdekaan bukan hanya soal bendera. Kemerdekaan adalah ketika yang menanam bisa menikmati hasil tanamannya sendiri.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Natar Agung.
2. Karsiwan. Sejarah Lada: Lampung dan Dinamika Perdagangan Lada. Repository Metro Uniw.
3. Masroh, Laelatul. “Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942”. Jurnal Sejarah dan Budaya. Universitas Negeri Malang.
4. “Fungsi Pelabuhan Panjang sebagai Pelabuhan Pengekspor Lada, 1923-1930”. Purbawidya. BRIN.
5. Lembaga Adat Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti.
6. Shahih Bukhari, no. 2320.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 1 = ?
Berita Terkait