Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri – 5: Kemunduran dan Pelajaran yang Tertingga.l Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 24 Oct 2026 02:15 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 23 kali dibaca
Buku Seri: Lampung Sebagai 'Ladang Emas Hitam' Belanda. Seri – 5: Kemunduran dan Pelajaran yang Tertingga.l Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Malam ini saya mau bercerita tentang masa ketika lada Lampung tidak lagi menjadi raja. Tentang kebun-kebun yang ditinggalkan, tentang penyakit yang datang tanpa diundang, dan tentang orang-orang tua yang tetap menanam meskipun tahu hasilnya tidak lagi menjanjikan.
Ini bukan cerita tentang kekalahan. Ini cerita tentang bagaimana sesuatu yang pernah berjaya bisa mundur, dan apa yang kita pelajari dari kemunduran itu. Duduklah yang rapat, karena cerita ini perlu didengar sampai habis.

Tahun 1930-an adalah masa yang sulit. Bukan hanya bagi Lampung, tetapi bagi seluruh dunia. Krisis ekonomi global melanda, harga-harga jatuh, dan permintaan pasar menurun. Di saat yang sama, tanaman lada di kebun-kebun kita mulai terserang penyakit.
Pemerintah kolonial tidak tinggal diam. Mereka sudah lama membatasi luas perkebunan lada untuk menjaga harga agar tidak anjlok. Ada aturan tentang berapa hektar yang boleh ditanami, ada pembatasan jumlah pohon, ada pengawasan ketat terhadap siapa yang boleh menanam. Tetapi pembatasan itu tidak menyelamatkan apa pun. Produksi tetap menurun. Kebun-kebun yang dulu subur mulai ditinggalkan.
Kopi dan karet masuk mengambil alih panggung. Tanaman-tanaman baru itu lebih menguntungkan, lebih tahan penyakit, dan lebih mudah diurus. Petani yang dulu bangga dengan kebun ladanya mulai beralih. Bukan karena mereka tidak mencintai lada, tetapi karena mereka harus makan.
Namun ada satu hal yang perlu kita catat. Krisis ekonomi tahun 1930 itu ternyata tidak menghantam lada Lampung sekeras yang kita bayangkan. Permintaan lada di pasar global tetap stabil, berbeda dengan gula dan tembakau yang harganya jatuh bebas. Yang membuat lada kita mundur bukan semata-mata krisis dunia, melainkan sesuatu yang lebih dekat: kebun-kebun kita sendiri yang tidak lagi dirawat dengan baik.
Ada juga penyakit yang menyerang. Jamur, hama, dan berbagai penyakit tanaman yang datang ketika pohon-pohon lada terlalu tua atau tanahnya terlalu lelah. Penyakit itu tidak datang tiba-tiba. Ia datang perlahan, seperti tamu yang tidak diundang, setelah bertahun-tahun tanah digarap tanpa diberi waktu untuk beristirahat.

Di beberapa kampung, pohon-pohon lada mati secara perlahan. Daunnya menguning, buahnya kecil, dan akhirnya pohon itu berdiri kering tanpa hasil. Petani yang melihatnya hanya bisa menghela napas. Mereka sudah berusaha, tetapi alam seolah berkata: sudah cukup, beri aku waktu untuk pulih.
Ada pula yang mencoba bertahan dengan menanam varietas lain atau memindahkan kebun ke tanah baru. Tetapi tanah baru pun butuh waktu untuk beradaptasi. Tidak semua percobaan berhasil. Banyak yang akhirnya menyerah dan beralih ke tanaman yang lebih mudah.

Coba Bapak-Ibu perhatikan. Ketika lada masih menjadi raja, semua orang menanam lada. Tidak ada yang bertanya apakah tanahnya masih subur, apakah pohon pelindungnya masih kuat, apakah ada waktu untuk beristirahat.
Pohon dadap yang menjadi penopang lada harus dipilih yang kuat. Kebun harus dibersihkan tiga sampai enam kali setahun. Itu pun belum cukup. Tanah perlu diberi pupuk, pohon perlu dipangkas, dan gulma perlu dicabut. Tetapi ketika harga sedang tinggi, orang lupa pada hal-hal kecil itu. Mereka hanya mengejar hasil, mengejar untung, mengejar setoran kepada pemerintah kolonial.

Lada Lampung memang dikenal sebagai yang terkuat. Butirnya besar, aromanya tajam, dan rasanya pedas. Tetapi kekuatan itu tidak berarti apa-apa jika tanahnya dieksploitasi tanpa jeda. Penyakit datang, hama menyerang, dan kebun-kebun yang dulu hijau mulai mengering.
Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf (7): 56: 
وَلَا تُفۡسِدُوۡا فِى الۡاَرۡضِ بَعۡدَ اِصۡلَاحِهَا وَادۡعُوۡهُ خَوۡفًا وَّطَمَعًا ؕ اِنَّ رَحۡمَتَ اللّٰهِ قَرِيۡبٌ مِّنَ الۡمُحۡسِنِيۡنَ
Wa laa tufsiduu fil ardi ba'da islaahihaa wad'uuhu khawfanw wa tama'aa; inna rahmatal laahi qariibum minal muhsiniin
"Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan."

Ayat ini bukan hanya tentang hutan yang ditebang atau sungai yang tercemar. Ia juga tentang tanah yang digarap tanpa rasa syukur. Tentang kebun yang diambil hasilnya tanpa memberi waktu untuk pulih. Orang Lampung punya falsafah Nemui Nyimah, saling memberi. Tetapi alam juga punya hak untuk diberi waktu.
Kesalahan yang berulang ini bukan hanya kesalahan petani. Sistem kolonial yang menuntut setoran telah memaksa mereka menanam terus-menerus, tanpa jeda, tanpa perawatan yang cukup. Ketika kebun mulai rusak, pemerintah kolonial tidak datang membantu. Mereka hanya mengalihkan perhatian ke komoditas lain yang lebih menguntungkan.
Di sinilah kita melihat bahwa kemunduran lada bukan sekadar soal penyakit atau pasar. Ia adalah akibat dari cara berpikir yang hanya mengejar hasil tanpa memikirkan keberlanjutan. Cara berpikir yang mengambil tanpa memberi. Cara berpikir yang tidak sejalan dengan adat kita sendiri.
Sakai Sambayan mengajarkan gotong-royong, tetapi juga mengajarkan bahwa kerja bersama harus dilakukan dengan bijak. Jika tanah diolah bersama-sama tanpa aturan, yang terjadi bukan kemakmuran, melainkan kehancuran. Nemui Nyimah mengajarkan saling memberi, tetapi memberi juga berarti memberi tanah waktu untuk beristirahat.

Ada satu kisah yang saya dengar dari seorang tetua di Sekampung. Katanya, dulu ada seorang petani yang kebunnya selalu subur. Orang-orang bertanya apa rahasianya. Ia menjawab: "Saya tidak pernah menanam lada di tempat yang sama dua tahun berturut-turut. Saya biarkan tanah itu beristirahat, menanam jagung atau kacang dulu, baru kemudian lada lagi."
Petani itu tidak tahu istilah "rotasi tanaman" atau "keberlanjutan". Ia hanya mengikuti apa yang diajarkan orang tuanya. Dan apa yang diajarkan orang tuanya adalah kearifan yang sudah berusia ratusan tahun.
Sayangnya, ketika sistem kolonial menuntut hasil sebanyak mungkin, kearifan itu ditinggalkan. Tanah dipaksa terus-menerus menghasilkan, tanpa diberi waktu untuk pulih. Dan ketika tanah akhirnya lelah, semua orang terkejut.

Sekarang mari kita berjalan ke Tulang Bawang, ke Seputih, ke Sekampung. Di sana, di antara kebun-kebun kopi dan karet, masih ada pohon-pohon lada yang berdiri.
Tidak banyak. Tidak sebesar dulu. Tetapi masih ada.
Orang-orang tua di kampung-kampung itu masih mengajari anaknya menanam lada dengan cara lama. Pilih dadap yang kuat. Jaga kebersihan kebun. Panen saat buah mulai memerah. Jangan serakah, jangan ambil semua sekaligus.
Mereka tidak menanam untuk ekspor. Mereka menanam untuk dapur sendiri, untuk dijual ke pasar kecamatan, untuk kenang-kenangan kepada tamu yang datang. Kadang mereka menanam karena tidak bisa membayangkan hidup tanpa melihat pohon lada di belakang rumah.
Petuah saya: Lada memang bisa pergi dari pasar. Tetapi ia tidak boleh pergi dari ingatan.
Sakai Sambayan masih hidup di kebun-kebun kecil itu. Ketika panen tiba, tetangga datang membantu. Tidak ada upah, tidak ada kontrak. Hanya tangan-tangan yang tahu bahwa lada harus dipetik sebelum terlalu matang. Itulah gotong-royong yang tidak pernah tercatat dalam laporan kolonial.
Nemui Nyimah juga masih terasa. Ketika ada tamu datang ke rumah, secangkir kopi disuguhkan, dan kadang beberapa butir lada dari kebun sendiri ikut diberikan sebagai oleh-oleh. Kecil, tetapi bermakna. Itulah cara orang Lampung mengatakan: kami masih di sini, dan kami masih punya sesuatu untuk dibagi.

Saya pernah bertemu seorang petani tua di Seputih. Namanya Pak Sukardi. Kebunnya tidak besar, hanya sepetak di belakang rumah. Tetapi ia merawatnya dengan hati. Setiap pagi ia memeriksa pohon-pohon ladanya, memastikan tidak ada hama, memastikan tanahnya tidak terlalu kering.
Saya bertanya: "Pak, kenapa masih menanam lada? Bukankah harganya tidak seberapa?"
Ia tersenyum. "Anak muda, saya menanam lada bukan untuk harga. Saya menanam karena ayah saya menanam. Dan ayahnya ayah saya juga menanam. Kalau saya berhenti, siapa yang akan bercerita kepada cucu saya bahwa Lampung pernah menjadi ladang emas hitam?"
Jawaban itu membuat saya terdiam. Di situlah saya sadar bahwa pelestarian bukan selalu soal proyek besar atau program pemerintah. Kadang ia hanya soal satu orang tua yang tetap menanam, dan satu anak muda yang mau mendengarkan ceritanya.
Pak Sukardi juga bercerita tentang bagaimana dulu, di masa kejayaan lada, hampir setiap rumah di kampungnya punya kebun lada. Anak-anak diajari memetik lada sejak kecil. Perempuan-perempuan menyiapkan makanan untuk para pekerja kebun. Semua orang terlibat.
"Sekarang?" katanya. "Anak-anak muda lebih suka merantau. Mereka tidak tertarik menanam lada. Katanya tidak menjanjikan."
Ia tidak menyalahkan mereka. Tetapi ada nada sedih di suaranya. Seperti seseorang yang melihat sesuatu yang ia cintai perlahan memudar.
Saya sering bertanya kepada anak-anak muda: pernah dengar cerita tentang kopi Priangan? Tentu. Tentang tanam paksa di Jawa? Pasti. Tentang Multatuli dan Max Havelaar? Banyak yang tahu.
Tetapi tentang lada Lampung? Mereka menggeleng.
Padahal, dari tanah kitalah dunia pernah merasakan pedas yang mengubah selera Eropa. Dari Menggala, dari Telukbetung, dari Tulang Bawang, butir-butir hitam itu berlayar ke London, Hamburg, Amsterdam. Dari kebun-kebun kita, dapur-dapur di negeri jauh menjadi lebih harum.

Sejarah lada Lampung kalah populer. Mungkin karena ia tidak ditulis dalam novel. Mungkin karena tidak ada film yang mengangkatnya. Mungkin karena kita sendiri jarang bercerita.
Mengetahui sejarah ini adalah bagian dari Piil Pesenggiri. Bukan untuk membanggakan masa lalu, tetapi untuk tahu dari mana kita berasal. Orang yang tahu asal-usulnya tidak mudah direndahkan. Orang yang mengenal sejarah tanahnya tidak akan membiarkan tanah itu dilupakan.
Ada satu hal lagi yang perlu kita renungkan. Lada Lampung mundur bukan karena tanahnya tidak subur. Bukan karena orangnya malas. Tetapi karena sistem yang menuntut hasil tanpa memberi perawatan. Sistem yang mengambil tanpa memberi kembali.
Pancasila sila kelima berbicara tentang keadilan sosial. Sejarah lada mengajarkan bahwa keadilan itu bukan hanya soal pembagian hasil. Ia juga soal memberi tanah waktu untuk bernapas, memberi petani hak untuk merawat, dan memberi generasi mendatang kesempatan untuk melihat pohon lada tumbuh di tanah leluhur.
Kita tidak bisa mengubah masa lalu. Kita tidak bisa mengembalikan kebun-kebun yang sudah ditinggalkan. Tetapi kita bisa menjaga yang tersisa. Kita bisa bercerita kepada anak-anak kita tentang masa ketika Lampung menjadi ladang emas hitam. Kita bisa menanam satu-dua pohon lada di pekarangan, bukan untuk dijual, tetapi untuk diingat.
Dan yang paling penting, kita bisa belajar dari kesalahan yang berulang. Kita bisa belajar bahwa alam punya batas. Kita bisa belajar bahwa mengejar hasil tanpa memikirkan keberlanjutan hanya akan membawa kemunduran. Kita bisa belajar bahwa adat kita sendiri, Nemui Nyimah, Sakai Sambayan, Piil Pesenggiri, sudah mengajarkan cara yang benar sejak lama.

Jika dulu sistem kolonial memaksa petani menanam tanpa jeda, sekarang kita punya kebebasan untuk memilih. Kita bisa memilih menanam lada dengan cara yang lebih bijak. Kita bisa memilih merawat tanah, bukan hanya mengambil hasilnya. Kita bisa memilih menjaga warisan, bukan hanya mengenangnya.
Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa yang mengerjakan suatu kebaikan, maka ia akan mendapat pahala sepuluh kali lipat." (HR. Muslim).

Menanam lada dengan cara yang benar adalah kebaikan. Merawat tanah adalah kebaikan. Mewariskan pengetahuan kepada anak cucu adalah kebaikan. Dan semua kebaikan itu akan berlipat, tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.
Anakku, lada itu pernah menjadi raja. Tetapi raja pun bisa turun takhta.
Yang penting bukan apakah ia masih berkuasa, tetapi apakah kita masih mengingatnya.
Tanah Lampung pernah menjadi ladang emas hitam. Dan kenangan tentang itu tidak boleh ikut mengering bersama kebun-kebun yang ditinggalkan.
Jagalah tanah, karena tanah yang menjaga kita. Rawatlah warisan, karena warisan yang merawat jati diri. Dan berceritalah, karena cerita adalah cara paling sederhana untuk menjaga sesuatu tetap hidup.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Natar Agung.
2. Karsiwan. Sejarah Lada: Lampung dan Dinamika Perdagangan Lada. Repository Metro Uniw.
3. Masroh, Laelatul. "Perkebunan dan Perdagangan Lada di Lampung Tahun 1816-1942". Jurnal Sejarah dan Budaya. Universitas Negeri Malang.
4. "Fungsi Pelabuhan Panjang sebagai Pelabuhan Pengekspor Lada, 1923-1930". Purbawidya. BRIN.
5. Lembaga Adat Provinsi Lampung. Kuntara Raja Niti.
6. Al-Qur'an Al-Karim, QS. Al-A'raf (7): 56.
7. Shahih Muslim, no. 2699.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 5 = ?
Berita Terkait