Cancel Culture di Kalangan Pelajar Perspektif Psikologi Terapan
Oleh : Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id - Metro - Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memberikan penilaian terhadap perilaku seseorang. Salah satu fenomena yang semakin menonjol adalah cancel culture, yaitu tindakan mengkritik, menolak, memboikot, atau menarik dukungan terhadap individu akibat tindakan maupun pernyataan yang dianggap bertentangan dengan norma sosial. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada masyarakat umum, tetapi juga melibatkan kalangan pelajar yang aktif menggunakan media sosial.
Salah satu contoh yang dapat diamati adalah fenomena cancel culture terhadap artis Raffi Ahmad. Pada Agustus 2024, Raffi Ahmad mendapat kritik warganet karena dianggap tidak menunjukkan keberpihakan terhadap demonstrasi penolakan revisi Undang-Undang Pilkada. Kritik tersebut berkembang menjadi ancaman cancel culture. Ia kemudian memberikan klarifikasi mengenai aktivitasnya saat peristiwa tersebut berlangsung (detikPop, 2024). Fenomena serupa kembali terlihat pada November 2026 ketika acara yang berkaitan dengan perusahaan Raffi Ahmad di Yogyakarta menghadapi seruan boikot masyarakat (detikEdu, 2026).
Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana opini publik dapat berkembang menjadi penghakiman kolektif melalui media sosial. Dalam perspektif psikologi pendidikan dan perkembangan remaja, fenomena ini penting diperhatikan karena pelajar sedang berada dalam tahap pembentukan identitas diri, pengendalian emosi, dan pencarian penerimaan kelompok. Tanpa kecerdasan emosional dan literasi digital yang baik, pelajar berpotensi ikut menyebarkan kecaman tanpa memahami persoalan secara utuh.
_Identitas Diri dan Perilaku Ikut-ikutan pada Usia Pelajar_
Menurut teori perkembangan psikososial Erik Erikson (1968), masa remaja merupakan tahap identity versus role confusion, yaitu periode ketika individu berusaha menemukan identitas dan menentukan nilai yang diyakininya. Pada tahap ini, penerimaan teman sebaya memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan konsep diri. Fenomena cancel culture dapat memengaruhi proses tersebut. Pelajar mungkin mengikuti komentar negatif atau ajakan memboikot seseorang bukan karena memahami persoalannya, melainkan karena ingin diterima oleh kelompok sosialnya. Kondisi ini berkaitan dengan herd behavior, yaitu kecenderungan individu mengikuti perilaku mayoritas tanpa melakukan pertimbangan secara mandiri.
Penelitian Avci, Baams, dan Kretschmer (2025) menjelaskan bahwa media sosial menjadi lingkungan penting bagi perkembangan identitas remaja. Perbandingan sosial dan bentuk interaksi digital tertentu dapat memengaruhi eksplorasi identitas serta kejelasan konsep diri. Dengan demikian, pelajar perlu dibimbing agar memiliki keberanian menentukan sikap berdasarkan nilai, fakta, dan pertimbangan moral, bukan sekadar mengikuti tren atau tekanan kelompok.
_Kecerdasan Emosional dan Literasi Digital pada Usia Pelajar_
Kecerdasan emosional merupakan kemampuan mengenali, memahami, dan mengelola emosi diri serta memahami emosi orang lain. Hollenstein (2024) menjelaskan bahwa perkembangan regulasi emosi pada remaja juga berlangsung dalam lingkungan digital. Artinya, kemampuan mengendalikan kemarahan, kekecewaan, dan dorongan untuk bereaksi perlu diterapkan ketika menghadapi konten viral. Penelitian sistematis mengenai kecerdasan emosional dan media sosial oleh para peneliti dalam Adolescent Research Review (2025) juga menunjukkan bahwa kecerdasan emosional, termasuk regulasi emosi, empati, dan harga diri, berkaitan dengan pola penggunaan media sosial pada remaja.
Dalam konteks pendidikan, terdapat beberapa langkah yang dapat diterapkan yaitu Pengendalian emosi, dimana pelajar perlu membiasakan diri tidak langsung berkomentar ketika sedang marah atau kecewa. Berhenti sejenak sebelum memberikan respons dapat mencegah perilaku agresif di ruang digital, Berpikir kritis yaitu pelajar harus memeriksa sumber informasi, membandingkan berita, dan membedakan fakta dari opini sebelum menyimpulkan kesalahan seseorang, Mengembangkan empati yaitu kritik seharusnya diarahkan pada perilaku yang keliru, bukan menyerang martabat atau kehidupan pribadi seseorang, dan Literasi digital yaitu sekolah perlu mengajarkan etika berkomunikasi, tanggung jawab menyebarkan informasi, serta pemahaman mengenai dampak psikologis perundungan dan penghakiman massal.
Penelitian mengenai cancel culture pada remaja oleh para peneliti dalam jurnal Technology in Society (2024) juga mengingatkan bahwa praktik tersebut dapat mengganggu perkembangan identitas sosial remaja dan hubungan interpersonalnya. Dalam perspektif Islam, sikap kritis dan pengendalian diri sejalan dengan QS. Al-Hujurat ayat 6 yang memerintahkan umat Islam untuk melakukan tabayyun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Selain itu, QS. Al-Hujurat ayat 11 melarang tindakan mengolok-olok dan merendahkan orang lain. Kedua ayat tersebut memberikan landasan moral bahwa kebebasan berpendapat harus disertai tanggung jawab, kehati-hatian, dan penghormatan terhadap sesama.
Akhirnya penting untuk dipahami bahwa cancel culture merupakan fenomena sosial digital yang dapat menjadi sarana kontrol sosial, tetapi juga berpotensi berkembang menjadi penghakiman massal apabila dilakukan tanpa pertimbangan yang objektif. Bagi pelajar, fenomena ini menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk mengembangkan kecerdasan emosional, identitas diri yang sehat, sikap kritis, dan literasi digital. Melalui pendidikan psikologis yang tepat, pelajar diharapkan tidak mudah terbawa arus opini mayoritas, mampu mengendalikan emosi, serta berani memeriksa kebenaran sebelum memberikan penilaian. Pada akhirnya, menjadi pengguna media sosial yang cerdas bukan berarti tidak boleh mengkritik, melainkan mampu menyampaikan kritik secara rasional, berempati, dan bertanggung jawab. Prinsip tabayyun dalam Al-Qur'an dapat menjadi pedoman agar ruang digital berkembang menjadi lingkungan yang mendidik, bukan tempat untuk saling menghakimi. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar