Ekonomi Lampung Tunjukkan Kinerja Positif hingga Triwulan III 2026
Bandar Lampung --- Perekonomian Provinsi Lampung menunjukkan kinerja positif dengan pertumbuhan mencapai 5,29 persen secara kumulatif hingga triwulan III 2026. Capaian tersebut menempatkan Lampung pada posisi kedua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera, setelah Kepulauan Riau yang tumbuh sebesar 7,19 persen.
Selain itu, Lampung memberikan kontribusi sebesar 10,05 persen terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatera, terbesar keempat setelah Sumatera Utara, Riau, dan Sumatera Selatan.
Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung Ahmadriswan Nasution dalam Press Release Berita Resmi Statistik (BRS) yang berlangsung di Aula Radin Imba Kusuma, BPS Provinsi Lampung, Kamis (05/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, BPS Provinsi Lampung memaparkan lima indikator strategis, meliputi pertumbuhan ekonomi triwulan III 2026, keadaan ketenagakerjaan Agustus 2026, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) 2026, serta luas panen dan produksi padi dan jagung tahun 2026 berdasarkan angka sementara hasil Kerangka Sampel Area (KSA) amatan September 2026.
Ahmadriswan menjelaskan, berdasarkan data BRS Nomor 75, ekonomi Lampung pada triwulan III 2026 tumbuh sebesar 5,02 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) dan 0,43 persen secara triwulanan (quarter-to-quarter/q-to-q). Sementara secara kumulatif (cumulative-to-cumulative/c-to-c), pertumbuhan ekonomi Lampung mencapai 5,29 persen.
Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku pada triwulan III 2026 mencapai Rp150,55 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp80,42 triliun.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Lampung masih ditopang oleh sejumlah sektor utama, meskipun terdapat dinamika pada beberapa lapangan usaha, khususnya pertanian yang menghadapi tantangan kondisi cuaca.
Dari sisi produksi, peningkatan penjualan listrik sebesar 10,40 persen mencerminkan menguatnya aktivitas ekonomi dan kebutuhan energi. Realisasi pengadaan semen juga meningkat 6,63 persen, yang mengindikasikan meningkatnya aktivitas pembangunan dan konstruksi. Selain itu, kinerja industri pengolahan menguat sejalan dengan peningkatan ekspor produk industri.
Di sisi lain, fenomena El Nino yang sangat kuat berpotensi memengaruhi pola tanam dan produktivitas pertanian. Sementara dari sisi konsumsi, inflasi Lampung tercatat sebesar 3,51 persen, sedikit di atas sasaran inflasi nasional sebesar 3,50 persen. Aktivitas perdagangan digital melalui e-retail dan marketplace juga terus menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan lapangan usaha, tiga sektor dengan kontribusi terbesar terhadap perekonomian Lampung pada triwulan III 2026 adalah pertanian sebesar 21,17 persen, industri pengolahan 19,38 persen, dan perdagangan 13,68 persen.
Industri pengolahan tumbuh 5,63 persen dengan kontribusi sebesar 20,73 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Sementara perdagangan tumbuh 5,78 persen dengan kontribusi 16,50 persen. Adapun pertanian tumbuh 2,05 persen dengan kontribusi sebesar 10,73 persen.
Pertumbuhan tertinggi pada triwulan III 2026 dicapai lapangan usaha pengadaan listrik dan gas sebesar 9,74 persen, diikuti penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,46 persen.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama dengan kontribusi sebesar 59,23 persen dan pertumbuhan 4,87 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi tumbuh 6,08 persen, sedangkan ekspor tumbuh 2,63 persen. Konsumsi pemerintah juga mencatat pertumbuhan sebesar 5,77 persen.
Secara kumulatif hingga triwulan III 2026, sektor pertanian dengan distribusi sebesar 27,42 persen tumbuh 4,50 persen dan menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 21,36 persen. Industri pengolahan tumbuh 5,30 persen dengan kontribusi 18,33 persen, sedangkan perdagangan tumbuh 6,89 persen dengan kontribusi 19,18 persen.
Pertumbuhan kumulatif tertinggi dicapai sektor penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 9,22 persen, diikuti jasa keuangan sebesar 7,81 persen serta pengadaan listrik dan gas sebesar 7,32 persen.
Dari sisi pengeluaran secara kumulatif, konsumsi rumah tangga tumbuh 5,08 persen dengan kontribusi terhadap pertumbuhan sebesar 57,86 persen. Sementara itu, investasi atau PMTB tumbuh 4,53 persen dan ekspor tumbuh 2,55 persen. Konsumsi pemerintah mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 10,63 persen.
Selain pertumbuhan ekonomi, BPS Provinsi Lampung juga menyampaikan perkembangan pembangunan manusia. IPM Provinsi Lampung tahun 2026 mencapai 74,74 atau meningkat 0,76 poin dibandingkan tahun 2025. Capaian tersebut menempatkan Lampung dalam kategori pembangunan manusia tinggi.
Peningkatan IPM didukung oleh sejumlah indikator, di antaranya umur harapan hidup saat lahir sebesar 74,93 tahun, harapan lama sekolah 12,80 tahun, rata-rata lama sekolah 8,70 tahun, serta pengeluaran riil per kapita sebesar Rp12,327 juta atau meningkat Rp644 ribu dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada indikator ketenagakerjaan, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Agustus 2026 tercatat sebesar 70,76 persen, meningkat 0,32 poin persentase dibandingkan Agustus 2025. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,01 persen atau turun 0,20 poin persentase dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk sektor pertanian, produksi padi tahun 2026 berdasarkan angka sementara diperkirakan mencapai 3.093,57 ribu ton gabah kering giling (GKG), turun 4,89 persen dibandingkan tahun 2025. Jika dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi pangan penduduk, produksi beras Lampung diperkirakan mencapai 1,78 juta ton.
Sementara itu, produksi jagung pipilan kering tahun 2026 diperkirakan mencapai 1.254,58 ribu ton, turun 0,39 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo mengapresiasi BPS Provinsi Lampung beserta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyediaan dan pengolahan data statistik sebagai dasar penyusunan informasi pembangunan daerah.
Ia berharap data dan narasi statistik yang disampaikan BPS dapat terus dimanfaatkan sebagai rujukan bersama dalam memahami perkembangan serta potensi pembangunan Provinsi Lampung.
Ganjar juga mengajak seluruh pihak untuk tetap optimistis terhadap berbagai upaya pembangunan yang telah dilakukan, dengan menjadikan data statistik sebagai dasar dalam melihat capaian sekaligus mengidentifikasi tantangan yang perlu ditangani.
Melalui penyampaian lima indikator strategis tersebut, data BPS diharapkan dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah, pelaku usaha, akademisi, dan masyarakat dalam memahami kondisi sosial ekonomi Lampung serta mendukung perumusan kebijakan pembangunan yang lebih tepat sasaran.(Pemerintah Provinsi Lampung).
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar