Empati, Etika, dan Martabat Manusia dalam Berdakwah Perspektif Psikologi Terapan. Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

ARTIKEL • 26 Oct 2026 03:05 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 13 kali dibaca
Empati, Etika, dan Martabat Manusia dalam Berdakwah  Perspektif Psikologi Terapan. Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Dakwah bertujuan mengajak manusia menuju kebaikan. Namun, polemik ceramah Habib Alwi Assegaf yang menuai kritik publik menunjukkan pentingnya menjaga etika dalam menyampaikan pesan keagamaan. Gurauan yang dinilai merendahkan santriwati dan perempuan lanjut usia menjadi pengingat bahwa humor dalam dakwah perlu mempertimbangkan perasaan serta martabat audiens. Dalam perspektif psikologi sosial, komunikasi yang mengabaikan empati berisiko melukai perasaan dan mengurangi kepercayaan masyarakat. Padahal, QS. An-Nahl [16]: 125 mengajarkan agar dakwah disampaikan dengan hikmah dan pengajaran yang baik. Dengan demikian, keberhasilan dakwah tidak hanya ditentukan oleh kebenaran pesan, tetapi juga oleh kesantunan, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

_Empati sebagai Fondasi Komunikasi Dakwah_

Empati adalah kemampuan memahami perspektif dan keadaan emosional orang lain tanpa kehilangan kesadaran bahwa pengalaman setiap individu berbeda. Håkansson Eklund dan Meranius (2021), melalui kajian tentang konsep empati, menjelaskan bahwa empati mencakup upaya memahami, merasakan, dan memasuki dunia pengalaman orang lain dengan tetap membedakan diri sendiri dari orang yang dipahami. Sementara itu, Zaki (2020) menempatkan empati dalam kaitannya dengan regulasi emosi interpersonal dan upaya meningkatkan kesejahteraan orang lain. Artinya, memahami perasaan audiens dapat membantu komunikator mempertimbangkan dampak emosional dari perkataannya.

Dalam praktik dakwah, empati dapat diwujudkan dengan memilih bahasa yang santun, menghindari penghinaan, mempertimbangkan latar belakang jamaah, serta menyampaikan koreksi tanpa mempermalukan seseorang. Empati bukan berarti menghilangkan ketegasan atau membenarkan semua perilaku. Sebaliknya, empati memungkinkan nasihat disampaikan secara tegas sekaligus manusiawi. Prinsip tersebut sejalan dengan QS. Ali ‘Imran [3]: 159, yang menjelaskan bahwa berkat rahmat Allah, Nabi Muhammad bersikap lemah lembut kepada umatnya. Ayat ini juga mengingatkan bahwa sikap kasar dan berhati keras dapat membuat orang menjauh.

_Etika, Martabat Manusia, dan Tanggung Jawab Pendakwah_

Kajian Fuller dan kolega (2021) mengenai kompetensi empati dalam komunikasi profesional menunjukkan pentingnya perpaduan pengetahuan, sikap, dan keterampilan komunikasi. Empati tidak berhenti pada niat baik, tetapi perlu tampak dalam perilaku nyata. Dalam dakwah, hal ini berarti kesantunan harus tercermin dalam pilihan kata, intonasi, humor, dan cara menanggapi perbedaan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah Maha Lembut dan menyukai kelembutan.” (HR. Muslim, no. 2593). Hadis ini menegaskan nilai kelembutan sebagai prinsip akhlak, bukan sekadar strategi untuk menyenangkan pendengar.
Secara praktis, pendakwah dapat menerapkan tiga Langkah yaitu pertama, melakukan jeda dan refleksi sebelum mengucapkan sesuatu yang berpotensi merendahkan; kedua, mempertimbangkan sudut pandang dan kerentanan audiens; ketiga, mengevaluasi dampak pesan serta bersedia memperbaiki cara berkomunikasi apabila terjadi kekeliruan. Tanggung jawab etis ini juga berlaku bagi masyarakat yang merespons polemik dakwah. Kritik sebaiknya diarahkan pada tindakan dan substansi persoalan, bukan berubah menjadi penghinaan pribadi atau penghakiman tanpa konteks. Dengan demikian, ruang digital dapat menjadi tempat pembelajaran bersama, bukan arena memperbesar permusuhan.

Akhirnya penting untuk dipahamai bahwa dakwah yang menyentuh hati menyatukan kebenaran pesan dengan kebijaksanaan dalam penyampaian. Perspektif psikologi sosial memperlihatkan bahwa empati membantu seseorang memahami audiens, mengelola komunikasi, dan mempertimbangkan konsekuensi sosial dari perkataannya. Pada akhirnya, esensi dakwah dalam bentuk apa pun harus tetap berorientasi pada kebaikan, pencerahan, dan pembentukan akhlak. Pendakwah tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menghadirkan teladan melalui sikap dan tutur katanya. Ketika empati, etika, dan penghormatan terhadap martabat manusia berjalan beriringan, dakwah berpeluang menjadi jembatan yang mendekatkan hati, memperkuat kepercayaan, dan menumbuhkan kehidupan sosial yang lebih beradab. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 3 = ?
Berita Terkait