Hilangnya Literasi Lama dan Putusnya Jejak Sejarah Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda (*)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, anakku. Duduklah di beranda ini, mari kita bicara.
Ada satu hal yang membuat hatiku gundah akhir-akhir ini. Bukan karena padi di ladang yang tak kunjung menguning, bukan pula karena harga kopi yang terus jatuh. Aku gundah karena melihat jejak-jejak leluhur kita perlahan menguap. Seperti asap dupa di pagi hari, hadir sesaat, lalu hilang tanpa bekas.
Aku teringat cerita yang pernah dituturkan oleh mendiang kakekku di Kampung Gedungtataan, Pesawaran. Katanya, dahulu orang Lampung menyimpan catatan dalam bentuk yang sangat terhormat. Ditulis dengan tangan, di atas kulit kayu atau kertas kuning, dengan tinta yang dibuat dari jelaga dan getah pohon. Aksara Ka-Ga-Nga yang meliuk-liuk itu bukan sekadar tulisan. Ia adalah doa yang dibekukan, janji yang diikat mati.
Namun hari ini, berapa banyak dari kita yang masih bisa membaca aksara itu? Berapa banyak dari kita yang tahu, bahwa di dalam Kitab Kuntara Raja Niti pernah tertulis hukum yang mengatur bagaimana seorang Punyimbang harus duduk dalam pepung adat, bagaimana seorang tamu harus disambut, bagaimana seorang anak harus berbicara kepada orang tuanya?
Kakekku pernah berkata dengan suara berat, “Nak, yang hilang bukan cuma tulisan. Yang hilang adalah tali yang menghubungkan kita dengan mereka yang sudah mendahului kita.”
Dia benar.
Aku pernah mendengar dari seorang teman, seorang Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima, tentang bagaimana orang-orang tua kita dulu berjuang menyelamatkan warisan ini. Salah satu nama yang patut kita kenang adalah Rizal Ismail, gelar Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV dari Keratuan Melinting. Ia menyimpan manuskrip tentang silsilah Keratuan Melinting, mencatat gelar-gelar turunan para penguasa, dan memastikan bahwa naskah itu tidak ikut terkubur bersama zaman.
Naskah itu belum pernah dikaji secara mendalam. Belum diterjemahkan sepenuhnya. Tapi setidaknya ia masih ada. Terjaga.
Aku juga mendengar tentang Syekh Ali Akbar, yang di tanah ini lebih dikenal dengan gelar Tuan Raja Burung Kumbang. Ia datang dari Kairo, Mesir. Jauh. Sangat jauh. Dan dari tubuhnya lahir Marga Buay Bahuga. Lima tiyuh tua menjadi saksi: Mesir Ilir, Mesir Udik, Bumi Agung, Karangan, dan Tulang Bawang.
Ada kisah yang beredar tentang bagaimana nama “Bahuga” lahir. Konon, saat Tuan Raja Burung Kumbang dikejar pasukan Belanda, ia bersembunyi di semak belukar. Di dekatnya ada ayam beruga yang terus berkokok. Pasukan Belanda mengira tidak mungkin ada orang bersembunyi di situ, sebab kalau ada orang, ayam itu pasti sudah berlari. Maka mereka pun berlalu.
Ayam itu menyelamatkan nyawa seorang ulama yang membawa Islam dan adat ke tanah ini. Sejak itu, keturunan Buay Bahuga tidak memakan ayam beruga. Sebuah pantangan yang bukan sekadar pantangan, tapi pengakuan akan utang budi kepada makhluk yang dipakai Allah untuk melindungi hamba-Nya.
Anakku, kalau ada satu hal yang harus kau pegang erat-erat, itu adalah Piil Pesenggiri.
Ini bukan sekadar semboyan. Ini adalah cara hidup.
Sang Punyimbang, pernah menulis dengan indah tentang tiga tali yang mengikat manusia Lampung pada martabatnya: nyimah, ngelangkok, dan mulim. Ia bercerita tentang seorang musafir asing yang mengetuk pintu rumah panggung. Tanpa bertanya siapa dan dari mana, tuan rumah langsung mempersilakan masuk, menyuguhkan kopi, dan pisang emas. Karena begitulah Nemui Nyimah. Memberi tanpa diminta. Bukan karena mampu, tapi karena santun.
Aku suka perumpamaan yang beliau tulis: “Orang berpunya boleh memberi, tapi orang santun memberi lebih dulu”.
Dari mana ajaran ini?
Lihatlah ke dalam Kitab Kuntara Raja Niti. Di sana, tersirat prinsip-prinsip yang kemudian mengkristal menjadi Piil Pesenggiri. Ada Nemui Nyimah. Ada Nengah Nyappur. Ada Sakai Sambayan. Ada Juluk Adek. Dan di atas semuanya, ada Pesenggiri itu sendiri, harga diri yang harus dijaga sampai mati.
Orang Lampung pesisir menyebutnya dengan cara yang sedikit berbeda. Ghepot dalom mufakat. Teranggah tetanggah. Bupudak waya. Ghopghama delom bekegja. Bupil bupesenggiri.
Perbedaannya hanya di permukaan. Di dasarnya, semuanya sama. Kehormatan. Kerja sama. Keterbukaan. Keramahan.
Orang bijak di Lampung Selatan pernah berkata kepadaku, “Kalau engkau ingin tahu apakah seseorang itu baik atau tidak, jangan lihat gelarnya. Lihat bagaimana ia memperlakukan tetangganya yang miskin.”
Kalimat itu mengingatkanku pada satu ayat yang sangat penting.
Allah berfirman dalam Surah Al-Hujurat, ayat 13:
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."
Asbāb al-nuzūl ayat ini sangat menarik. Ada dua riwayat.
Pertama, ketika Fathu Makkah, Bilal bin Rabah naik ke atas Ka’bah dan mengumandangkan azan. Sebagian orang Quraisy tersinggung. “Budak hitam ini yang azan di atas Ka’bah?” kata mereka. Yang lain berkata, “Kalau Allah benci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Maka turunlah ayat ini.
Kedua, tentang Abu Hind, seorang bekas budak yang bekerja sebagai tukang bekam. Nabi meminta Bani Bayadhah menikahkan salah satu putri mereka dengannya. Mereka menolak. “Ya Rasulullah, bagaimana kami menikahkan putri kami dengan bekas budak kami?” Lalu turun ayat yang sama.
Apa pelajarannya?
Nasab, keturunan, marga, gelar, semua itu tidak menentukan kemuliaan di hadapan Allah. Yang menentukan adalah takwa.
Ini bukan berarti adat dan marga tidak penting. Ini berarti adat dan marga harus menjadi kendaraan untuk mencapai takwa, bukan menjadi tuhan-tuhan kecil yang kita sembah.
Anakku, kita hidup di zaman di mana orang semakin sibuk dengan urusannya sendiri. Tapi Sakai Sambayan tidak boleh mati.
Apa itu Sakai Sambayan?
Gotong royong. Saling membantu. Bekerja bersama untuk kepentingan bersama.
Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya bagaikan sebuah bangunan. Satu bagian menguatkan bagian yang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Beliau juga bersabda: “Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ini bukan ajaran yang asing bagi orang Lampung. Nenek moyang kita sudah mengenalnya jauh sebelum datangnya Islam dan Pancasila. Ketika satu keluarga di kampung hendak mendirikan rumah, seluruh tetangga datang membantu tanpa dibayar. Ketika ada hajatan, semua tangan bergerak. Ketika ada musibah, semua bahu dipinjamkan.
Inilah Sakai Sambayan. Inilah ta’awun yang diperintahkan Allah dalam Surah Al-Maidah ayat 2: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Asbāb al-nuzūl ayat ini terjadi ketika Rasulullah dan para sahabat berada di Hudaibiyah. Mereka dihalangi oleh kaum Quraisy untuk mengunjungi Baitullah. Ketika sekelompok orang musyrik dari timur melintas untuk berumrah, para sahabat ingin membalas menghalangi mereka. Maka turunlah ayat ini, melarang pembalasan yang hanya didasari dendam.
Pesan ini sangat penting untuk zaman kita. Kita boleh bersaing. Nengah Nyappur bukan berarti lemah. Tapi persaingan harus dijalankan dengan kehormatan. Tidak ada gunanya menang dengan cara menipu, dengan cara merusak, dengan cara menginjak-injak orang lain.
Anakku, aku tidak bisa berbohong. Banyak yang sudah hilang.
Manuskrip-manuskrip lama banyak yang rusak dimakan usia. Rumah-rumah adat di Mesir Ilir, Gedung, dan Benawa banyak yang roboh atau terbakar. Silsilah yang dulu dituturkan dari mulut ke mulut kini terputus di generasi kami.
Aku menulis ini bukan untuk membuatmu bersedih. Aku menulis ini agar kau tahu apa yang harus kau lakukan.
Carilah jejak-jejak itu. Di Arsip Nasional. Di perpustakaan daerah. Di rumah-rumah tua yang masih berdiri di Kampung Kenali, di Pugung Tampak, di Umbul Buah. Di koleksi manuskrip yang disimpan oleh keluarga-keluarga Punyimbang yang masih peduli.
Belajarlah membaca aksara Ka-Ga-Nga. Belajarlah bahasa Lampung yang halus, yang penuh dengan lapisan makna. Jangan hanya tahu bahasa pasar. Bahasa pasar itu untuk berjualan di pasar. Bahasa adat itu untuk berbicara dengan leluhur.
Dan yang paling penting: praktikkan.
Piil Pesenggiri bukan untuk dihafal. Ia untuk dihidupi.
Ketika kau menerima tamu, ingat Nemui Nyimah. Beri tanpa diminta. Sapa dengan lembut. Tak perlu bertanya agama, suku, atau asal-usulnya.
Ketika kau hendak melakukan sesuatu yang menyangkut orang lain, ingat Ngelangkok. Minta izin. Beritahukan maksud. Jangan menerobos seperti kerbau lepas dari kandang.
Ketika kau bersaing, ingat Nengah Nyappur. Bertandinglah dengan gagah. Tapi tetap bergaul, tetap membuka diri, tetap jaga hati.
Ketika kau bekerja, ingat Sakai Sambayan. Tidak ada yang bisa dibangun sendirian. Jembatan dibangun oleh banyak tangan. Masjid dibangun oleh banyak keringat.
Dan di atas semuanya: jagalah Pesenggiri. Harga diri. Bukan harga diri yang sombong, yang merasa lebih tinggi dari orang lain. Tapi harga diri yang membuatmu tidak mau melakukan pekerjaan hina. Harga diri yang membuatmu tidak mau berbohong. Harga diri yang membuatmu tidak mau mencuri hak orang lain.
Sebab, seperti kata pepatah Lampung yang diwariskan turun-temurun: “Pesenggiri tano, matei tano. Pesenggiri raga, matei raga.” Harga diri bagi tanah, mati tanah. Harga diri bagi raga, mati raga.
Tidak ada yang lebih berharga dari kehormatan. Tidak ada harta yang bisa menebusnya.
Anakku, waktu sudah senja. Kopi di cangkirmu sudah dingin. Tapi biarlah. Percakapan ini lebih penting dari kopi.
Aku ingin kau tahu, bahwa apa yang kita sebut “pelestarian adat dan budaya Lampung” bukan proyek tiga tahun, lima tahun, atau satu generasi. Ini tugas yang Allah bebankan kepada setiap orang yang mengaku sebagai ulun Lampung. Setiap orang yang masih bisa menyebut dirinya Sai Bumi Ruwa Jurai.
Bumi ini milik dua jurai. Jurai Lampung asli, dan jurai pendatang. Dan keduanya harus bahu-membahu menjaganya.
Aku sudah tua. Tulangku sudah tidak kuat mendaki bukit Pesagi. Mataku sudah tidak bisa membaca aksara halus di kulit kayu. Tapi kau masih muda. Matamu masih terang. Kakimu masih kuat.
Maka inilah pesanku:
Carilah yang hilang. Jaga yang tersisa. Ajarkan yang kau temukan.
Jangan biarkan nyala obor ini padam di tanganmu.
Tabik pun. Semoga Allah memberkahi setiap langkah yang kau ambil dalam menjaga warisan leluhur.
Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani. (2025). Filosofi “Nemui Nyimah” dan Implementasinya dalam Kehidupan Bertetangga. Portal Berita Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. Portal Berita Natar Agung.
3. Bahagianda, Mohammad Medani. (2026). Bumi Lampung dan Cara Hidup Orangnya. Seri 3 – Adat dalam Kehidupan Harian. Portal Berita Natar Agung.
4. Fachruddin dan Haryadi. (1996). Falsafah Piil Pesenggiri Sebagai Norma Tata Krama Kehidupan Sosial Masyarakat Lampung. Bandar Lampung: CV. Arian Jaya.
5. Hadikusuma, Hilman. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandar Lampung: Mandar Maju.
6. Katalog Naskah Lampung: Silsilah Keratuan Melinting. Koleksi Rizal Ismail gelar Sultan Ratu Idil Muhammad Tihang Igama IV.
7. Nurdin, Bartoven Vivit. (2017). Marga Buay Belunguh Tanggamus. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Lampung.
8. Rahmawati, Ismi. (2021). Marga Buay Bahuga Lampung: Sebuah Etnografi. Skripsi. Universitas Lampung.
9. Tafsir al-Hujurat Ayat 13: Tak Kenal Maka Tak Sayang. NU Online.
10. Surah Al-Maidah Ayat 2: Perintah Berbuat Adil dan Saling Tolong Menolong. Tafsir Al Quran.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar