Kesalahan Sesaat yang Menghancurkan Karier Profesional Perspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL 09 Aug 2026 19:23 Admin NA
Kesalahan Sesaat yang Menghancurkan Karier Profesional  Perspektif Psikologi Terapan

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S.Ag., M.A.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Karier profesional dibangun melalui proses panjang. Pendidikan, kompetensi, pengalaman, pengabdian, integritas, dan kepercayaan masyarakat merupakan bagian dari perjalanan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Namun, di era media sosial, reputasi yang dibangun secara perlahan dapat terguncang hanya karena satu komentar yang ditulis dalam hitungan detik. Fenomena tersebut menjadi perhatian setelah muncul pemberitaan mengenai sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan yang diduga memberikan komentar bernada menghina dan tidak berempati terhadap pasien BPJS di media sosial. Konsil Kesehatan Indonesia (KKI) menyatakan telah mengidentifikasi sejumlah tenaga medis dan tenaga kesehatan dan masih melakukan pemeriksaan untuk menentukan kemungkinan pelanggaran etika, disiplin profesi, maupun aspek hukum.

Kasus tersebut dapat dilihat lebih luas melalui perspektif psikologi terapan. Persoalannya bukan hanya mengenai benar atau salahnya sebuah komentar, tetapi juga mengapa seseorang yang telah membangun identitas profesional selama bertahun-tahun dapat kehilangan kendali sesaat, serta mengapa satu kesalahan dapat memperoleh perhatian publik jauh lebih besar dibandingkan ribuan perilaku positif yang pernah dilakukan. Konsep negativity bias, attribution theory, social judgment, regulasi emosi, dan digital professionalism dapat digunakan untuk memahami fenomena tersebut. Kajian ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan perilaku yang tidak empatik, tetapi untuk memahami mekanisme psikologis sekaligus mencegah agar kesalahan sesaat tidak berkembang menjadi kehancuran profesional.

Satu Kesalahan dan Psikologi Runtuhnya Reputasi.

Reputasi merupakan penilaian sosial terhadap kualitas, karakter, kompetensi, dan integritas seseorang. Dalam profesi kesehatan, reputasi sangat berkaitan dengan kepercayaan karena pasien menyerahkan persoalan kesehatan kepada tenaga profesional yang diharapkan memiliki kompetensi sekaligus empati. Media sosial membuat pembentukan reputasi menjadi semakin kompleks. Identitas personal dan profesional semakin sulit dipisahkan. Penelitian Rukavina dkk. (2021) menunjukkan bahwa media sosial memberikan manfaat bagi tenaga kesehatan, tetapi juga membawa risiko terhadap e-professionalism, termasuk kaburnya batas profesional, persoalan etika, dan konsekuensi terhadap karier. Soubra dkk. (2022) juga menunjukkan pentingnya profesionalisme digital dalam pembentukan perilaku tenaga kesehatan di media sosial.

Salah satu penjelasan psikologis yang penting adalah “”negativity bias”, yaitu kecenderungan manusia memberikan perhatian dan bobot lebih besar terhadap informasi negatif. Jaffé dan Greifeneder (2020) menunjukkan bahwa informasi negatif dapat memiliki pengaruh kuat terhadap penilaian, terutama ketika informasi tersebut dipersepsikan relevan secara psikologis. Karena itu, seorang tenaga kesehatan mungkin memiliki pengalaman positif selama bertahun-tahun, tetapi satu komentar yang dianggap merendahkan pasien dapat menjadi informasi yang paling mudah diingat publik.

Persoalan semakin kuat ketika perilaku tersebut berkaitan dengan moralitas dan identitas profesi. Masyarakat memiliki ekspektasi bahwa tenaga kesehatan harus memiliki empati, menghormati pasien, dan menjaga martabat manusia. Ketika perilaku di media sosial dipersepsikan bertentangan dengan harapan tersebut, penilaian terhadap perilaku dapat berkembang menjadi penilaian terhadap karakter. Dalam perspektif “Attribution Theory”, masyarakat dapat mengatribusikan sebuah komentar sebagai akibat situasi tertentu atau sebagai cerminan karakter pribadi. Masalah muncul ketika publik bergerak terlalu cepat dari “Ia melakukan kesalahan” Menjadi “Ia memang orang yang tidak berempati.” Padahal, satu perilaku tidak selalu menggambarkan keseluruhan kepribadian seseorang.

Emosi Sesaat Mengalahkan Identitas Profesional.

Pertanyaan penting berikutnya adalah mengapa seseorang yang mengetahui etika profesi tetap dapat melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai tersebut. Salah satu jawabannya berkaitan dengan regulasi emosi dan pengendalian diri. Matthews dkk. (2021) melalui tinjauan sistematis menunjukkan bahwa regulasi emosi dipengaruhi berbagai faktor kognitif, afektif, motivasional, individual, dan sosial. Artinya, mengetahui apa yang benar belum tentu membuat seseorang selalu mampu bertindak benar ketika sedang berada dalam kondisi emosional tertentu. Kemarahan, kelelahan, frustrasi, tekanan kerja, atau rasa tersinggung dapat memengaruhi cara seseorang merespons. Media sosial kemudian menyediakan sarana yang sangat cepat untuk mengekspresikan respons tersebut. Masalahnya, emosi dapat berlalu dalam hitungan menit, tetapi jejak digital dapat bertahan bertahun-tahun.
    
Komentar yang ditulis ketika seseorang sedang marah dapat di-screenshot, disebarkan, diberitakan, dan muncul kembali setelah emosi tersebut mereda. Karena itu, kesalahan digital memiliki konsekuensi yang berbeda dari kesalahan dalam percakapan biasa. Penelitian mengenai digital professionalism menunjukkan bahwa perilaku tenaga kesehatan di media sosial perlu dipandang sebagai bagian dari profesionalisme secara keseluruhan. Imran dkk. (2024) menegaskan pentingnya kemampuan mengelola perilaku profesional dalam penggunaan media sosial, sedangkan Dalton dkk. (2026) menunjukkan masih adanya kebutuhan terhadap pendidikan dan pedoman yang lebih kuat mengenai profesionalisme digital bagi tenaga kesehatan.

Dengan demikian, profesionalisme masa kini tidak cukup hanya diukur dari kompetensi klinis. Kemampuan mengelola emosi, menjaga komunikasi, dan mempertimbangkan konsekuensi digital juga merupakan bagian dari kompetensi profesional. Seorang tenaga kesehatan perlu memiliki jeda psikologis sebelum mengunggah sesuatu, terutama ketika sedang marah atau kecewa. Prinsip sederhana dapat diterapkan: berhenti, membaca kembali, mempertimbangkan dampak, kemudian mengirim. Jeda beberapa menit dapat mencegah konsekuensi yang mungkin berlangsung bertahun-tahun.

Satu Menit Kesalahan Menghapus Bertahun-Tahun Perjuangan.

Kasus dugaan komentar tidak berempati dari sejumlah tenaga kesehatan di media sosial memberikan pelajaran penting bahwa reputasi profesional memiliki sifat yang unik yaitu dibangunnya karier secara perlahan, tetapi dapat rusak dengan sangat cepat. Negativity bias menjelaskan mengapa informasi negatif lebih mudah memperoleh perhatian. Attribution Theory menjelaskan bagaimana publik dapat mengubah penilaian terhadap satu perilaku menjadi penilaian terhadap karakter. Social judgment menjelaskan mengapa tenaga kesehatan mendapatkan ekspektasi moral dan profesional yang tinggi. Regulasi emosi menjelaskan mengapa seseorang dapat kehilangan kendali meskipun memahami norma yang seharusnya dijalankan. Karena itu, solusi tidak cukup berupa hukuman setelah kesalahan terjadi. Pencegahan harus dilakukan melalui pendidikan regulasi emosi, komunikasi empatik, literasi digital, dan pembentukan profesionalisme digital. Tentu, jika suatu perilaku terbukti melanggar etika atau disiplin profesi, proses pertanggungjawaban tetap diperlukan. Namun, secara psikologis, terdapat perbedaan antara mengoreksi perilaku dan menghancurkan identitas seseorang.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa seorang profesional perlu belajar bahwa kesalahan harus dipertanggungjawabkan, tetapi kesalahan juga harus menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Pada akhirnya, karier profesional dibangun oleh ribuan keputusan kecil: belajar, bekerja, melayani, menjaga integritas, dan mendapatkan kepercayaan. Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, seorang profesional perlu bertanya “Apakah kalimat yang saya tulis dalam beberapa detik layak mempertaruhkan reputasi yang saya bangun selama bertahun-tahun?”. Satu komentar mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk ditulis. Namun reputasi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dibangun. Jangan biarkan satu menit kehilangan kendali menghapus makna dari bertahun-tahun perjuangan. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 7 = ?
Berita Terkait