Kesejahteraan Buruh Pengupas Bawang dan Pekerja Informal Indonesia. Perpspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL 16 Aug 2026 11:42 Admin NA
Kesejahteraan Buruh Pengupas Bawang dan Pekerja Informal Indonesia. Perpspektif Psikologi Terapan

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Setiap tanggal 17 Agustus, bangsa Indonesia merayakan kemerdekaan dengan penuh kebanggaan. Bendera merah putih dikibarkan, upacara dilaksanakan, dan perjuangan para pahlawan dikenang. HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk kembali bertanya yaitu apakah kemerdekaan telah sepenuhnya dirasakan oleh seluruh rakyat, terutama mereka yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup?. Di antara kelompok pekerja yang sering luput dari perhatian adalah buruh pengupas bawang. Mereka bekerja dengan tangan, duduk berjam-jam, melakukan pekerjaan yang berulang, dan memperoleh penghasilan berdasarkan jumlah atau waktu kerja. Pekerjaan tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi menjadi bagian dari rantai ekonomi pangan yang menghidupi masyarakat. Persoalannya bukan semata-mata mengenai berapa rupiah yang diterima setiap hari. Di balik pendapatan terdapat persoalan kesejahteraan psikologis, kepuasan hidup, stres kerja, ketidakamanan ekonomi, harga diri, dan kualitas hidup.

Psikologi terapan mengingatkan bahwa kesejahteraan manusia tidak dapat diukur hanya melalui pendapatan. Subjective well-being berkaitan dengan bagaimana seseorang mengevaluasi kehidupannya, termasuk kepuasan hidup dan pengalaman emosi positif maupun negatif. Sementara itu, psychological well-being berkaitan dengan keberfungsian positif manusia, seperti memiliki tujuan hidup, hubungan positif, penerimaan diri, pertumbuhan pribadi, otonomi, dan kemampuan mengelola lingkungan. Karena itu, kemerdekaan perlu dimaknai lebih luas. Kemerdekaan politik harus diikuti dengan kemerdekaan untuk hidup layak, bekerja secara bermartabat, memperoleh perlindungan, memiliki kesempatan berkembang, dan membangun masa depan keluarga. Al-Qur'an menegaskan bahwa  “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 11). Ayat tersebut bukan alasan untuk menyalahkan orang miskin atas kemiskinannya. Sebaliknya, ayat ini dapat dibaca sebagai dorongan agar perubahan personal dan perubahan sosial berjalan bersama.

Pekerjaan Belum Menghadirkan Kesejahteraan.

Buruh pengupas bawang memiliki pengalaman yang memiliki kemiripan dengan banyak pekerja informal lainnya. Buruh tani menghadapi ketidakpastian musim dan hasil panen. Pekerja konstruksi menghadapi pekerjaan berat serta risiko keselamatan. Pekerja pabrik berhadapan dengan target produksi dan tekanan kerja. Pedagang kecil menghadapi fluktuasi pembeli dan modal. Pekerja rumah tangga menghadapi persoalan pengakuan, perlindungan, dan posisi tawar. Pengemudi dan kurir menghadapi ketidakpastian pendapatan serta tuntutan pekerjaan yang tinggi. Perbedaannya terletak pada bentuk pekerjaan, tetapi persoalan psikologisnya sering bertemu pada satu titik yaitu ketidakpastian mengenai masa depan. Ketidakamanan ekonomi dapat membuat seseorang terus-menerus memikirkan kebutuhan pangan, biaya pendidikan anak, kesehatan, tempat tinggal, dan kebutuhan mendesak lainnya. Dalam kondisi demikian, seseorang dapat tetap bekerja keras tetapi belum tentu merasakan kesejahteraan psikologis.

ILO menegaskan bahwa perlindungan sosial memiliki fungsi penting dalam mengurangi kerentanan dan meningkatkan resiliensi manusia terhadap berbagai perubahan ekonomi dan sosial. Perlindungan sosial juga membantu manusia mempertahankan pendapatan, memperoleh akses kesehatan, menjalankan tanggung jawab keluarga, dan menjalani kehidupan yang bermartabat. Indonesia sendiri masih menghadapi tantangan dalam memperluas cakupan dan meningkatkan kecukupan perlindungan sosial. Laporan ILO 2026 mengenai sistem jaminan sosial Indonesia menyoroti perlunya memperluas cakupan perlindungan agar tidak hanya menjangkau pekerja formal, tetapi juga kelompok pekerja yang selama ini berada di luar sistem perlindungan yang memadai. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kemiskinan ekonomi dapat menjadi persoalan psikologis sekaligus persoalan struktural.

Buruh pengupas bawang mungkin memiliki motivasi kerja yang tinggi, tetapi motivasi tidak cukup jika kesempatan untuk meningkatkan pendapatan sangat terbatas. Pedagang kecil mungkin memiliki keberanian berusaha, tetapi menghadapi keterbatasan modal. Buruh tani mungkin sangat resilien, tetapi tetap bergantung pada musim. Pekerja rumah tangga mungkin sangat bertanggung jawab, tetapi belum selalu mendapatkan pengakuan dan perlindungan yang memadai.
Karena itu, pendekatan psikologi terapan tidak boleh berhenti pada pesan “harus bekerja keras”. Kerja keras harus bertemu dengan kesempatan, perlindungan, keterampilan, dan struktur ekonomi yang memungkinkan mobilitas sosial.

Kesejahteraan Menuju Kemerdekaan Bermakna.

Kesejahteraan buruh pengupas bawang dapat dibangun melalui beberapa jalur psikologis dan sosial. Pertama, menumbuhkan subjective well-being. Pekerja perlu memiliki kesempatan untuk merasakan bahwa kehidupannya memiliki makna dan arah. Pendapatan memang penting, tetapi hubungan keluarga yang sehat, penghargaan sosial, rasa aman, dan harapan terhadap masa depan juga menjadi bagian dari kualitas hidup, Kedua, memperkuat psychological well-being. Pekerja perlu memperoleh ruang untuk berkembang, mengambil keputusan, memiliki tujuan hidup, dan merasakan bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengendalikan sebagian kehidupannya.

Ketiga, mengurangi stres dan ketidakamanan ekonomi. Beban psikologis akan semakin berat ketika pendapatan tidak pasti sementara kebutuhan keluarga terus meningkat. Akses terhadap jaminan sosial, layanan kesehatan, literasi keuangan, tabungan, dan penguatan usaha dapat menjadi bagian dari intervensi psikologi terapan, dan Keempat, membangun psychological empowerment. Buruh tidak cukup diberi bantuan sesaat. Mereka perlu diberi pengetahuan, keterampilan, akses terhadap sumber daya, kesempatan mengambil keputusan, dan kemampuan memperkuat posisi tawar. ILO pada 2025 menekankan bahwa inklusi keuangan dapat membantu pekerja informal dan usaha mikro meningkatkan ketahanan ekonomi, produktivitas, stabilitas pendapatan, serta kemampuan menghadapi risiko.  Kelima, membangun solidaritas antarpekerja. Pekerja pengupas bawang, buruh tani, pedagang kecil, pekerja pabrik, pekerja konstruksi, pekerja rumah tangga, nelayan, pengemudi, dan pekerja informal lainnya memiliki persoalan yang berbeda, tetapi dapat disatukan oleh kepentingan terhadap pekerjaan yang layak dan kehidupan yang bermartabat. ILO menempatkan perlindungan pekerja rentan, penciptaan pekerjaan, dan dialog sosial sebagai bagian penting agenda pekerjaan layak di Indonesia.

Hadis Nabi Muhammad SAW juga memberikan penghormatan terhadap kerja bahwa “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari). Pesan ini sangat relevan. Pekerja yang mengupas bawang, mencangkul sawah, mengangkut barang, membangun rumah, membersihkan rumah, menjual dagangan, mengemudikan kendaraan, atau bekerja di pabrik semuanya memiliki martabat karena mereka bekerja secara halal. Kemerdekaan seharusnya membuat martabat tersebut semakin dihargai.

Akhirnya penting untuk dipahami bahwa HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia semestinya menjadi momentum untuk memperluas makna kemerdekaan.  Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan politik, tetapi juga terbebas dari ketidakberdayaan, ketidakamanan ekonomi, dan keterbatasan kesempatan untuk memperbaiki kehidupan. Buruh pengupas bawang adalah gambaran kecil dari jutaan pekerja Indonesia yang setiap hari menukar tenaga, waktu, dan keterampilan dengan penghasilan untuk mempertahankan kehidupan keluarga. Mereka tidak meminta dikasihani. Mereka membutuhkan kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Kesempatan memperoleh perlindungan sosial. Kesempatan meningkatkan keterampilan. Kesempatan memperoleh akses modal. Kesempatan membangun usaha. Kesempatan menyekolahkan anak lebih tinggi. Dan yang tidak kalah penting, kesempatan untuk merasa bahwa hidupnya memiliki masa depan. Psikologi terapan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Intervensi psikologis dapat memperkuat resiliensi, harapan, efikasi diri, harga diri, dan kesejahteraan. Namun, intervensi individual harus berjalan bersama kebijakan ekonomi dan sosial yang memberikan ruang nyata bagi perubahan. Kemerdekaan yang sejati adalah ketika kerja keras seseorang tidak hanya membuatnya mampu bertahan hidup, tetapi juga memungkinkan dirinya dan keluarganya tumbuh menuju kehidupan yang lebih baik. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 9 = ?
Berita Terkait