Khutbah Jum'at: Setiap Manusia Berjalan Menurut Keadaan Dirinya. Tadabbur QS. Al-Isra’ Ayat 84. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT • 22 Oct 2026 00:42 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 19 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Setiap Manusia Berjalan Menurut Keadaan Dirinya. Tadabbur QS. Al-Isra’ Ayat 84. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Dikesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu ayat Al-Qur'an yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Ayat ini mengingatkan bahwa perilaku seseorang berkaitan dengan keadaan dirinya, sekaligus mengajak kita untuk memeriksa jalan yang sedang kita tempuh. Pada kesempatan khutbah hari Jum'at ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Setiap Manusia Berjalan Menurut Keadaan Dirinya.
Tadabbur QS. Al-Isra’ Ayat 84."

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Alhamdu lillāhilladzī hadānā lil-islām, wa mā kunnā linahtadiya lau lā an hadānallāh. Wa asyhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ

allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Takwa bukan hanya terlihat ketika kita berada di masjid, tetapi juga ketika kita kembali ke rumah, bekerja mencari nafkah, berdagang, bergaul dengan tetangga, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang istiqamah dalam kebaikan hingga akhir hayat.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang mengikuti petunjuk beliau hingga hari kiamat.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan satu ayat Al-Qur'an yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Ayat ini mengingatkan bahwa perilaku seseorang berkaitan dengan keadaan dirinya, sekaligus mengajak kita untuk memeriksa jalan yang sedang kita tempuh.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Isra' ayat 84:

قُلْ كُلٌّ يَّعْمَلُ عَلٰى شَاكِلَتِهٖۗ فَرَبُّكُمْ اَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ اَهْدٰى سَبِيْلًا ۝٨٤

Qul kullun ya‘malu ‘alā syākilatihī fa rabbukum a‘lamu biman huwa ahdā sabīlā.

"Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing.' Maka, Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya." (QS. Al-Isra' [17]: 84)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikanlah kehidupan di sekitar kita. Ada orang yang semakin bertambah ilmunya, semakin rendah hati. Ada pula yang semakin banyak ilmunya, justru semakin merasa paling benar.

Ada orang yang ketika hartanya bertambah, semakin ringan tangannya membantu sesama. Namun, ada juga yang semakin kaya, semakin berat mengeluarkan hartanya untuk orang lain.

Mengapa bisa demikian?

Ayat yang kita baca tadi mengingatkan bahwa manusia berbuat sesuai dengan syākilah-nya, yaitu keadaan, karakter, kecenderungan, dan jalan yang memengaruhi perilakunya.

Dalam penjelasan tafsirnya, Syekh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di menerangkan bahwa setiap orang beramal sesuai dengan keadaan dirinya. Apa yang tertanam dalam diri seseorang turut memengaruhi perbuatan yang dilakukannya.

Orang yang membiasakan kejujuran akan tumbuh menjadi pribadi yang dipercaya. Orang yang membiasakan kesabaran akan lebih mampu menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang membiarkan dirinya terbiasa berdusta, menghina, dan meremehkan orang lain, lambat laun bisa menganggap keburukan itu sebagai sesuatu yang biasa.

Inilah yang perlu kita waspadai.

Sebab, keburukan tidak selalu datang dalam bentuk dosa besar yang langsung membuat seseorang takut. Terkadang, ia bermula dari perkara kecil yang terus diulang hingga hati tidak lagi merasa bersalah.

Hari ini berbohong sedikit, besok berbohong lagi. Hari ini meremehkan orang lain, besok merasa dirinya lebih mulia daripada orang lain. Jika kebiasaan seperti ini terus dipelihara, bukan tidak mungkin ia menjadi bagian dari karakter seseorang.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Karena itu, jangan hanya sibuk memperbaiki penampilan di hadapan manusia. Perhatikan juga keadaan hati kita.

Jangan hanya ingin terlihat baik, tetapi berusahalah sungguh-sungguh menjadi orang baik. Jangan hanya ingin dihormati, tetapi jadilah orang yang amanah. Jangan hanya pandai menasihati orang lain, tetapi belajarlah menerima nasihat ketika kesalahan itu ada pada diri sendiri.

Allah tidak hanya mengetahui apa yang kita tampakkan. Dia juga mengetahui apa yang kita sembunyikan.

Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah bertambahnya usia membuat kita semakin dekat kepada Allah? Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati? Apakah harta membuat kita semakin bersyukur? Ataukah justru sebaliknya?

Pertanyaan seperti ini penting agar kita tidak menjalani hidup tanpa pernah memeriksa arah perjalanan kita.

Jangan Berputus Asa untuk Berubah

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Mungkin ada di antara kita yang menyadari bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan. Ada yang mudah marah, sulit memaafkan, berat bersedekah, atau masih berjuang meninggalkan kebiasaan buruk.

Jangan berputus asa.

Karakter bukan alasan untuk membenarkan kesalahan. Kebiasaan buruk bukan takdir yang membuat kita tidak mungkin berubah. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, kita harus terus berusaha memperbaiki diri.

Mulailah dari perkara sederhana. Jika selama ini lisan kita sering menyakiti orang lain, belajarlah menahan ucapan. Jika kita mudah marah, berusahalah menenangkan diri sebelum bertindak. Jika kita sering menunda ibadah, mulailah memperbaiki kedisiplinan.

Perubahan memang tidak selalu mudah. Kadang kita berhasil hari ini, lalu tergelincir kembali esok hari. Namun, jangan jadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berusaha. Bangkitlah, bertobatlah, dan lanjutkan kembali langkah menuju kebaikan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengajarkan sebuah doa yang sangat baik untuk kita amalkan.

اللَّهُمَّ اهْدِنِي لِأَحْسَنِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ، لَا يَهْدِي لِأَحْسَنِهَا إِلَّا أَنْتَ، وَاصْرِفْ عَنِّي سَيِّئَهَا، لَا يَصْرِفُ عَنِّي سَيِّئَهَا إِلَّا أَنْتَ

Allāhumma ihdinī li-aḥsanil-akhlāqi wal-a‘māl, lā yahdī li-aḥsanihā illā anta, waṣrif ‘annī sayyi’ahā, lā yaṣrifu ‘annī sayyi’ahā illā anta.

"Ya Allah, tunjukilah aku kepada akhlak dan amal yang terbaik. Tidak ada yang dapat menunjukkan kepada akhlak dan amal terbaik selain Engkau. Jauhkanlah dariku akhlak dan amal yang buruk. Tidak ada yang dapat menjauhkan keburukannya dariku selain Engkau." (HR. Muslim, no. 771)

Perhatikanlah doa ini. Kita memohon kepada Allah agar ditunjukkan kepada akhlak dan amal terbaik. Ini mengajarkan bahwa memperbaiki diri bukan semata-mata mengandalkan kekuatan kita sendiri. Kita membutuhkan pertolongan dan petunjuk Allah.

Oleh sebab itu, jangan pernah lelah memohon agar hati kita diperbaiki, lisan kita dijaga, dan langkah kita diarahkan kepada jalan yang diridai-Nya.

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Pada akhir ayat tadi, Allah menegaskan:

فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا

Fa rabbukum a‘lamu biman huwa ahdā sabīlā.

"Maka, Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."

Ayat ini mengingatkan kita agar tidak mudah merasa paling baik dan paling benar. Kita tidak mengetahui seluruh keadaan hati manusia. Bisa jadi orang yang kita pandang biasa saja memiliki amal yang sangat dicintai Allah. Sebaliknya, orang yang dipuji banyak manusia belum tentu memiliki keadaan batin sebagaimana yang kita bayangkan.

Tugas kita bukan sibuk menghakimi isi hati orang lain. Tugas kita adalah memperbaiki diri, berpegang pada petunjuk Allah, dan berusaha menjaga keikhlasan dalam beramal.

Jangan hanya bertanya bagaimana manusia memandang kita. Tanyakan pula apakah jalan yang kita tempuh sudah sesuai dengan petunjuk Allah.

Semoga Allah membimbing kita agar semakin baik dalam iman, ibadah, akhlak, dan hubungan dengan sesama manusia.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

Ibadhallah...

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 6 = ?
Berita Terkait