Komiruddin Imron, Dari Desa Kecil Menuju Cahaya: Anak Kampung yang Allah Angkat Lewat Ilmu, Lalu Allah Pulangkan Lewat Dakwah
nataragung.id - Tegineneng - Nama saya Komiruddin Imron. Saya lahir di Desa Batang Hari Ogan, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Desa yang sederhana. Jalan yang masih tanah. Rumah yang tidak mewah. Tetapi dari desa itulah Allah memulai kisah saya.
Sejak kecil, saya sudah jatuh cinta pada buku. Bukan buku yang ramai gambarnya. Bukan buku yang membuat orang tertawa. Buku yang saya cintai adalah buku-buku Islam. Kisah para nabi. Kisah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Kisah tentang orang-orang yang berani lapar demi iman, berani miskin demi kebenaran, berani mati demi Allah.
Saya masih ingat, setiap kali saya membaca kisah itu, hati saya bergetar. Saya bertanya dalam hati, Ya Allah, kapan saya bisa menjadi seperti mereka. Saya tidak punya apa-apa. Saya hanya anak desa. Tetapi ternyata, Allah tidak melihat dari mana kita lahir. Allah melihat ke mana hati kita berjalan.
Masa remaja saya, saya habiskan di Pesantren Darussalam, Desa Banjar Negeri, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Di pesantren itulah hidup saya dibentuk. Saya belajar mengaji. Saya belajar disiplin. Saya belajar bangun sebelum fajar. Saya belajar bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling cepat kaya, tetapi siapa yang paling istiqamah dalam kebaikan.
Di pesantren saya belajar satu pelajaran yang tidak pernah saya lupakan sampai hari ini. Ilmu itu bukan untuk membuat kita merasa tinggi. Ilmu itu untuk membuat kita semakin tunduk. Semakin kita tahu, semakin kita sadar betapa sedikitnya yang kita tahu. Semakin kita belajar, semakin kita merasa malu di hadapan Allah.
Setelah saya menyelesaikan pendidikan tingkat Aliyah, Allah membukakan sebuah pintu yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan studi di Universitas Islam Muhammad bin Saud, Jakarta, yang lebih dikenal dengan nama Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, LIPIA. Lembaga yang cabangnya berasal dari Arab Saudi.
Saya masih ingat perasaan saya waktu itu. Saya gemetar. Saya menangis. Saya yang dulu hanya membaca buku Islam di sudut rumah yang sederhana, kini Allah izinkan duduk di majelis ilmu yang begitu luas. Saya sadar, ini bukan karena saya hebat. Ini karena Allah Maha Pemurah. Dan setiap nikmat yang Allah berikan, kelak akan Allah tanya, untuk apa nikmat itu dipakai.
Maka ketika saya menyelesaikan pendidikan itu, saya membuat satu tekad dalam hati. Ilmu ini tidak boleh berhenti di diri saya. Ilmu ini harus dibagikan. Karena ilmu yang disimpan akan layu. Ilmu yang dibagikan akan hidup. Bahkan ilmu yang dibagikan akan terus mengalir pahalanya, meski jasad pemiliknya telah terkubur.
Karena itu, selepas menamatkan studi, saya langsung mengabdikan diri di PPM Daarul Hikmah Lampung. Pengabdian itu saya jalani dalam waktu yang panjang, hingga bertahun-tahun lamanya. Di sana saya menjadi pendidik. Menjadi pembimbing. Menjadi teman bagi para santri. Saya belajar bahwa mendidik itu bukan sekadar menyampaikan pelajaran. Mendidik itu menyampaikan keteladanan. Anak-anak itu tidak hanya mendengar apa yang kita ucapkan. Mereka memperhatikan apa yang kita lakukan.
Perjalanan hidup saya kemudian Allah arahkan pula ke jalan yang lain. Saya pernah mengemban amanah sebagai anggota DPRD Kabupaten Lampung Selatan, selama dua masa pengabdian, yaitu periode 2004-2009 dan 2009-2014.
Di gedung dewan itu, saya belajar pelajaran yang sangat dalam. Jabatan itu bukan kemuliaan. Jabatan itu ujian. Kursi itu bisa menjadi jalan menuju surga, bisa pula menjadi jalan menuju kehinaan. Tergantung bagaimana kita menjaganya.
Saya hanya berusaha menjaga satu hal. Agar lidah saya tetap berkata benar. Agar hati saya tetap takut kepada Allah. Agar tangan saya tidak mengambil apa yang bukan hak saya. Karena saya tahu, semua jabatan akan berakhir. Tetapi semua perbuatan akan dihisab.
Di masa berikutnya yaitu pada tahun 2019–2023, Allah kembali memberi saya amanah sebagai Dewan Pengawas Syariah di BPRS Kotabumi, Lampung Utara. Di sana saya belajar, bahwa harta itu juga amanah. Bahwa ekonomi umat harus dijaga agar tetap berada di jalan yang diridhai Allah. Bersih dari riba. Bersih dari kezaliman. Bersih dari cara-cara yang membuat manusia saling menzalimi.
Di samping itu, saya pun aktif dalam berbagai kegiatan organisasi sosial dan dakwah, di antaranya GMI dan DDII. Bagi saya, organisasi itu bukan panggung. Organisasi itu ladang. Ladang untuk berjamaah dalam kebaikan. Karena sendiri kita lemah. Bersama kita bisa saling menguatkan. Bersama kita bisa saling mengingatkan ketika salah satu di antara kita mulai lelah.
Namun di tengah semua amanah itu, ada satu amanah yang paling saya cintai, yaitu keluarga.
Saya menikah dengan Fajar Andriyani, istri yang Allah titipkan untuk menemani perjalanan dakwah saya. Dari pernikahan yang penuh berkah itu, Allah mengaruniakan kepada kami 5 orang buah hati yang kami cintai. Ada yang Allah izinkan telah menimba ilmu hingga ke Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Asma Nida Ulhaqq. Ada yang sudah selesai menimba ilmu UPI di Bandung, Athiyyah Al Habibah. Ada yang sudah lulus menimba ilmu di UNJ Jakarta, Ikrimah Al Basil. Ada yang masih menimba ilmu di Bandar Lampung, Thoriq Al Muntashir. Dan ada pula yang telah menyelesaikan studinya juga di UNJ Jakarta, Qutaibah Al Muharrir.
Setiap kali saya melihat anak-anak saya, saya selalu berdoa dalam hati. Ya Allah, jangan jadikan mereka sekadar orang yang pintar. Jadikan mereka orang yang saleh. Jadikan mereka orang yang bermanfaat. Karena kepintaran tanpa kesalehan, hanya akan membuat manusia semakin jauh dari-Mu. Tetapi kepintaran yang dibimbing oleh iman, akan menjadi cahaya bagi banyak orang.
Kini, aktivitas saya sehari-hari lebih banyak saya curahkan untuk dunia dakwah dan pendidikan Islam. Saya aktif mengisi berbagai kegiatan keislaman, memberikan konsultasi syariah, serta menjadi tutor dalam pelatihan-pelatihan syariah. Saya merasa, inilah jalan pulang saya. Jalan yang paling menenangkan hati.
Saya pun menulis. Bagi saya, menulis itu juga dakwah. Apa yang saya sampaikan melalui lisan, mungkin hanya didengar oleh mereka yang hadir di majelis itu. Tetapi apa yang saya tulis, insya Allah bisa dibaca oleh orang yang tidak pernah saya temui. Bisa dibaca di desa yang jauh. Bisa dibaca setelah saya tiada. Bukankah itu yang disebut amal jariyah. Kebaikan yang terus mengalir meski jasad telah terkubur.
Dari tangan dan pemikiran yang sangat terbatas ini, Allah izinkan lahir sejumlah buku, di antaranya Aqidah Seorang Muslim, Paket Khusus Para Dai, Satu Menit Saja, Mari Bercermin, Ayahku Murabbiku, Mata Air Kebaikan, Semua Dipergilirkan, Nasihat Ramadhan, Semua Ada Jalan, Jiwa-jiwa Merdeka, Agar Bahtera Terus Berlayar, Jalan Panjang Dakwah, Melawan Kezaliman, Hijrah dan Kerinduan, Jejak Cahaya, Khutbah Bahasa Lampung dan Bahasa Indonesia, Bekal Menuju Pulang, serta Renungan dan Harapan.
Semua buku itu, saya tulis bukan karena saya merasa paling tahu. Saya tulis karena saya merasa paling butuh dinasihati. Setiap buku itu, pertama-tama adalah nasihat untuk diri saya sendiri. Jika kemudian ia bermanfaat bagi orang lain, itu semata-mata karena kasih sayang Allah.
Saudaraku, jika engkau membaca kisah ini, saya ingin engkau mengambil satu pelajaran. Jangan pernah meremehkan dirimu karena engkau lahir di desa kecil. Jangan pernah merasa rendah karena orang tuamu bukan orang terkenal. Jangan pernah berhenti belajar karena engkau merasa sudah terlambat.
Saya hanyalah anak desa. Anak yang dulu hanya membaca buku Islam di rumah yang sederhana. Tetapi Allah angkat derajat saya, bukan karena harta saya, bukan karena keturunan saya, melainkan karena saya mau belajar dan mau berbagi.
Perjalanan hidup ini bukan tentang jabatan yang pernah diduduki. Bukan tentang gelar yang disandang. Bukan tentang berapa banyak karya yang berhasil diterbitkan.
Perjalanan hidup ini tentang seberapa jauh ilmu bisa memberi manfaat. Seberapa banyak kebaikan bisa ditularkan. Seberapa besar kesempatan hidup digunakan untuk mengabdi kepada Allah dan sesama.
Sebab pada akhirnya, kehidupan bukan tentang berapa lama seseorang hadir di dunia, melainkan tentang jejak kebaikan apa yang ditinggalkannya.
Jika kelak saya telah tiada, jangan kenang saya karena jabatan saya. Kenanglah saya karena doa-doa yang pernah saya panjatkan untuk umat ini. Jika ada satu kalimat dari tulisan saya yang membuat hati seseorang kembali kepada Allah, maka cukuplah itu sebagai bekal saya menuju pulang.
Karena kita semua, pada hakikatnya, sedang dalam perjalanan pulang. Pulang kepada Allah. Dan sebaik-baik bekal untuk pulang adalah iman, ilmu yang bermanfaat, dan amal saleh yang tidak putus.
Maka teruslah belajar. Teruslah berbuat baik. Teruslah berdakwah, meski hanya dengan satu kalimat. Karena engkau tidak pernah tahu, kalimat mana yang akan Allah jadikan sebagai jalan hidayah bagi seseorang. Dan engkau tidak pernah tahu, kebaikan mana yang akan Allah jadikan sebagai penolongmu di hari ketika tidak ada lagi penolong selain Allah. (*)
Editor: SyahidanMh
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar