Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh Lampung Selatan Tegaskan Kesempurnaan Risalah Kanjeng Nabi
nataragung.id - Kalianda - Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul ‘Ulum, Jati Agung, sekaligus Wakil Ketua PCNU Kabupaten Lampung Selatan, Kyai Abdul Aziz At-Tarmasie menegaskan, bahwa syariat yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad SAW merupakan penyempurna risalah para nabi terdahulu, mulai dari Nabi Adam AS hingga para nabi sebelum beliau.
Hal tersebut disampaikannya dalam pengajian “Ngaji Kitab Shahih Bukhari” pada kegiatan Majelis Dzikir dan Ta’lim Annahdloh yang digelar di Masjid Safinatunnajah, Kompleks Kantor PCNU Lampung Selatan, Jumat (21/8/2026) malam.

Suasana khidmat dan penuh kehangatan menyelimuti majelis rutin tersebut. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Istighotsah Mbah Yai Hasyim Asy’ari, dilanjutkan lantunan doa dan munajat bersama, yang dipimpin Kyai Abdul Aziz.
Dalam doa bersama, jamaah memohon pertolongan dan perlindungan Allah SWT agar senantiasa diberikan kekuatan serta dijauhkan dari berbagai bentuk kezaliman dan kemunafikan.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam momentum bulan Rabi’ul Awal 1448 H untuk menyongsong Maulid Nabi Muhammad SAW, sekaligus dalam suasana peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan menjelang agenda besar Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang.
Momentum tersebut menjadikan majelis bukan sekadar ruang pengajian, tetapi juga sarana penguatan spiritual, keilmuan, dan kebersamaan warga Nahdliyin di Lampung Selatan.
Dalam pemaparannya, Kyai Abdul Aziz menjelaskan bahwa mengikuti syariat Nabi Muhammad SAW tidak berarti menafikan ajaran para nabi sebelumnya. Risalah Islam justru menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid yang telah dibawa para nabi sejak dahulu.
“Maka sekalipun kita ikut ajaran Kanjeng Nabi Muhammad, tidak menafikan ajaran yang dibawa oleh nabi sebelum Nabi Muhammad,” tutur Kyai Abdul Aziz di hadapan jamaah.

Ia kemudian memberikan contoh berupa puasa Nabi Daud AS dan ibadah haji. Puasa Daud yang dilakukan secara berselang-seling menjadi salah satu contoh amalan yang dinisbatkan kepada Nabi Daud AS, sementara ibadah haji memiliki keterkaitan erat dengan napak tilas syariat Nabi Ibrahim AS.
Penjelasan tersebut sekaligus menegaskan bahwa risalah Nabi Muhammad SAW hadir dalam kesinambungan ajaran tauhid para nabi, sekaligus membawa penyempurnaan bagi umat manusia.
Kyai Abdul Aziz juga mengingatkan jamaah agar memahami sunnah Nabi Muhammad SAW secara proporsional. Menurutnya, keteladanan Rasulullah SAW tidak semestinya dipersempit hanya pada simbol atau tampilan lahiriah.
Simbol-simbol seperti jubah atau imamah, menurutnya, tidak dapat dijadikan satu-satunya ukuran untuk menilai tingkat keimanan maupun kesalehan seseorang.
Pemahaman terhadap sunnah, lanjutnya, juga harus menyentuh aspek amaliyah yang mendasar dan berhubungan langsung dengan pelaksanaan ibadah.
Ia mencontohkan sunnah thaharah yang bersifat fi’li, termasuk pengetahuan mengenai tata cara bersuci setelah buang air atau istinja’. Hal-hal semacam itu justru memiliki kedudukan penting karena berkaitan langsung dengan keabsahan ibadah.

“Bagian sunnah thoharah yang sifatnya fi’li, seperti ilmu tata cara bersuci setelah buang air (istinja’), justru jauh lebih penting dan menjadi benteng keabsahan ibadah kita,” tegasnya.
Di bagian lain pengajiannya, Kyai Abdul Aziz mengingatkan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai Uswatun Hasanah, yakni suri teladan yang baik bagi umat manusia.
Keteladanan tersebut, menurutnya, merupakan ketetapan Allah SWT. Karena itu, ketaatan kepada Allah diwujudkan melalui ketaatan kepada Rasulullah SAW sebagaimana prinsip “Ati’ullah wa ati’urrasul”.
Ketaatan tersebut tidak berhenti pada aspek ubudiyah, tetapi juga mencakup keteladanan akhlak dan perilaku Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Majelis yang memadukan dzikir, istighotsah, shalawat, dan pengajian kitab tersebut menjadi ruang untuk memperkuat hubungan spiritual sekaligus merawat tradisi keilmuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam momentum menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW dan Muktamar Ke-35 NU, pesan pengajian tersebut menempatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW bukan hanya dalam bentuk simbol, tetapi juga melalui pemahaman terhadap risalah, pengamalan sunnah, dan keteladanan akhlak beliau. (edi's)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar