Meneguhkan Khidmat PMII, PC PMII Metro Selenggarakan Pelatihan Kader Lanjut dan Simposium Nasional
nataragung.id,Metro — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kota Metro menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) dan Simposium Nasional pada Selasa, 3 November 2026. Kegiatan ini mengusung tema “Meneguhkan Khidmat PMII: Merawat Ideologi, Menghidupkan Tradisi Keilmuan, Mewujudkan Perubahan di Era Transformasi.”
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar kaderisasi untuk memperkuat kapasitas intelektual, memperteguh ideologi, serta membangun kesadaran kritis kader PMII dalam membaca dan merespons berbagai persoalan bangsa di tengah perubahan zaman.
Acara pembukaan dihadiri oleh jajaran pengurus PMII, kader, serta sejumlah tokoh organisasi, di antaranya Ketua Umum PC PMII Kota Metro M. Luthfi Rafiuddin, Ketua PKC PMII Lampung Yusuf Kurniawan, Pengurus Kaderisasi Nasional PB PMII Moh. Malthuf, Ketua Mabincab PC PMII Metro Toni Wijaya, serta Ketua PCNU Kota Metro H. Ismail.
Ketua Pelaksana, Dzacky Budi Pratama, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema yang diangkat bukan sekadar rangkaian kata, melainkan refleksi atas tanggung jawab kader PMII dalam menjaga keberlangsungan organisasi dan relevansi gerakan.
Ia menegaskan bahwa meneguhkan khidmat PMII berarti mengembalikan orientasi pergerakan pada nilai-nilai dasar organisasi, yakni keislaman, keindonesiaan, dan intelektualitas. Menurutnya, ideologi harus senantiasa dirawat agar kader tidak kehilangan arah di tengah dinamika zaman.
“Merawat ideologi berarti menjaga kompas perjuangan agar kita tidak kehilangan arah. Menghidupkan tradisi keilmuan berarti memastikan bahwa setiap gerakan dilandasi oleh pengetahuan, nalar kritis, dan keberanian berpikir. Sementara mewujudkan perubahan berarti menghadirkan kebermanfaatan nyata bagi masyarakat, bukan sekadar berhenti pada ruang diskusi dan wacana,” ungkapnya.
Ia juga berharap melalui PKL dan Simposium Nasional ini, lahir kader-kader yang tidak hanya matang secara organisatoris, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual, kepekaan sosial, serta keberanian mengambil peran dalam menjawab tantangan bangsa.
Selanjutnya, Ketua Umum PC PMII Kota Metro, M. Luthfi Rafiuddin, dalam sambutannya menekankan pentingnya kader PMII untuk senantiasa peka terhadap berbagai persoalan dan isu aktual yang berkembang di tengah masyarakat.
Ia menyampaikan bahwa kader PMII harus mampu mengambil peran atas berbagai tantangan zaman serta membangun sinergi dengan pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya mewujudkan perubahan sosial yang konstruktif.
Menurutnya, kader PMII harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan. Kader tidak cukup hanya memiliki kemampuan berdiskusi dan menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu menghadirkan gagasan serta solusi atas persoalan yang terjadi.
“Jangan hanya menjadi kader yang hebat dalam berdiskusi, tetapi harus mampu menghadirkan solusi. Kita juga harus membangun tradisi menghormati seseorang bukan karena hartanya, melainkan karena ilmu, integritas, dan kontribusinya,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua PKC PMII Lampung, Sahabat Yusuf Kurniawan, menyampaikan bahwa kader PMII tidak boleh hanya menunggu kesiapan untuk menghadapi perubahan, melainkan harus mempersiapkan diri sejak dini dalam menyambut percepatan zaman dan pembangunan bangsa.
Menurutnya, situasi yang terus berubah menuntut kader untuk memiliki kemampuan adaptasi, ketajaman analisis, serta keberanian dalam mengambil keputusan.
“Perubahan tidak akan menunggu kita siap. Maka, tugas kita adalah mempersiapkan diri untuk menghadapi percepatan zaman dan bangsa. Seorang kader harus mampu menjadi problem solver di tengah situasi yang terus berubah-ubah, bukan justru menjadi bagian dari persoalan itu sendiri,” ungkapnya.
Ia juga menegaskan bahwa PMII harus mampu melahirkan kader yang memiliki kapasitas kepemimpinan, wawasan kebangsaan, serta kemampuan membaca realitas sosial secara komprehensif.
Berikutnya, Pengurus Kaderisasi Nasional PB PMII, Moh. Malthuf, dalam sambutannya menyoroti pentingnya penguatan daya intelektual kader dan keberlanjutan tradisi keilmuan di lingkungan PMII.
Ia menyampaikan bahwa setiap kader harus memiliki daya intelektual yang kuat serta sanad keilmuan yang jelas. Menurutnya, kekuatan organisasi tidak hanya diukur dari besarnya jumlah kader, tetapi juga dari kualitas pengetahuan, kedalaman pemikiran, dan keberlanjutan proses kaderisasi.
“Organisasi harus terus dirawat agar tetap hidup. Salah satu cara merawatnya adalah dengan memastikan kaderisasi berjalan sebagai ruang pembentukan intelektual. Kaderisasi tidak boleh hanya menjadi proses administratif atau formalitas organisasi, tetapi harus menjadi ruang untuk melahirkan generasi yang memiliki kedalaman ilmu dan kualitas pemikiran,” jelasnya.
Ia berharap PMII terus menjaga tradisi intelektual sebagai identitas pergerakan sekaligus memperkuat kesinambungan kaderisasi dalam melahirkan generasi pemimpin masa depan.
Pada kesempatan yang sama, Ketua PCNU Kota Metro, H. Ismail, menyampaikan sambutan sekaligus memberikan pesan kepada seluruh kader PMII agar senantiasa menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.
Ia mengingatkan bahwa PMII memiliki tanggung jawab historis untuk melahirkan generasi muda yang berilmu, berakhlak, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi agama, bangsa, dan negara.
Menurutnya, kaderisasi harus menjadi proses pembentukan manusia yang tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga karakter, moralitas, dan komitmen pengabdian.
Dalam kesempatan tersebut, H. Ismail secara resmi membuka kegiatan Pelatihan Kader Lanjut dan Simposium Nasional PC PMII Kota Metro.
Pembukaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan yang diharapkan mampu memperkuat kualitas kader serta memperluas ruang pertukaran gagasan dalam menjawab berbagai persoalan kebangsaan.
Melalui kegiatan ini, PC PMII Kota Metro berharap dapat melahirkan kader-kader yang tidak hanya kuat dalam ideologi, matang dalam intelektualitas, dan tangguh dalam organisasi, tetapi juga mampu menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Sebab, pada akhirnya, khidmat PMII bukan hanya tentang seberapa lama seseorang berada dalam organisasi, melainkan seberapa besar ilmu, gagasan, dan pengabdiannya mampu memberikan arti bagi kehidupan.
PMII: Merawat Tradisi, Meneguhkan Ideologi, Menghidupkan Perubahan
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar