Mimbar Jum'at: Ketika Hati Berjumpa dengan Al-Qur’an. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua orang yang mendengar ayat-ayat Al-Qur’an akan tersentuh hatinya. Tidak semua orang yang membaca Al-Qur’an akan bertambah imannya. Sebab, membaca dengan lisan tidak selalu berarti menghayati dengan hati. Ada yang ayat-ayatnya terdengar indah di telinga, tetapi tak meninggalkan bekas dalam jiwa. Ada pula yang baru mendengar satu ayat, tiba-tiba hatinya bergetar, matanya berkaca-kaca, dan pikirannya kembali mengingat Allah.
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka; dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Al-Qur’an bukan sekadar untuk dibaca, melainkan untuk menghidupkan hati dan menuntun kehidupan.
Ada tiga keadaan yang menggambarkan hubungan orang beriman dengan Al-Qur’an.
Pertama, hatinya bergetar ketika mengingat Allah.
Hati yang mengenal kebesaran Allah tidak akan merasa biasa saja ketika nama-Nya disebut. Ada rasa takut yang menyadarkan, ada harap yang menguatkan, dan ada kerinduan yang membuatnya ingin semakin dekat kepada-Nya.
Ketika mendengar tentang azab Allah, ia takut kalau-kalau dirinya termasuk orang yang lalai. Ketika mendengar tentang ampunan dan rahmat-Nya, tumbuh harapan untuk memperbaiki diri. Ia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah, penuh kekurangan, dan selalu membutuhkan pertolongan Allah.
Getaran hati itu bukan sekadar air mata. Ia juga tampak dalam kesediaan meninggalkan dosa, memperbaiki ibadah, dan kembali ke jalan yang diridai-Nya.
Kedua, imannya bertambah ketika mendengar ayat-ayat Al-Qur’an.
Bagi orang beriman, Al-Qur’an bukan bacaan yang cepat berlalu setelah mushaf ditutup. Setiap ayat adalah pelajaran, teguran, sekaligus cahaya yang menerangi perjalanan hidup.
Ketika membaca ayat tentang sabar, ia belajar bertahan tanpa kehilangan harapan. Ketika membaca ayat tentang syukur, ia mulai menyadari betapa banyak nikmat yang selama ini dianggap biasa. Ketika membaca kisah para nabi, ia menemukan kekuatan untuk menghadapi ujian. Dan ketika membaca ayat tentang kematian serta kehidupan akhirat, ia kembali bertanya kepada dirinya sendiri: sudah sejauh mana bekal yang telah kupersiapkan?
Semakin dekat seseorang dengan Al-Qur’an, semestinya semakin baik pula pemahaman, keyakinan, dan amalnya. Sebab, Al-Qur’an tidak hanya ingin memenuhi ingatan kita dengan ayat-ayatnya, tetapi juga membentuk akhlak dan mengarahkan langkah kita.
Ketiga, ia bertawakal hanya kepada Allah.
Orang yang hidup bersama Al-Qur’an memahami bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Ada doa yang belum dikabulkan, ada harapan yang tertunda, ada kehilangan yang menyakitkan, dan ada jalan yang terasa begitu sempit.
Namun, ia tidak mudah kehilangan arah. Ia tetap berusaha, terus berdoa, dan menyerahkan hasilnya kepada Allah. Bukan karena ia mengetahui apa yang akan terjadi esok hari, melainkan karena ia percaya bahwa Allah mengetahui apa yang tidak diketahuinya.
Tawakal bukan berarti berhenti melangkah, tetapi terus berusaha tanpa menggantungkan hati kepada usaha semata. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh harap, lalu menerima ketetapan Allah dengan jiwa yang berusaha lapang.
Begitulah Al-Qur’an membimbing orang beriman: hatinya hidup karena mengingat Allah, imannya tumbuh karena mendengarkan firman-Nya, dan jiwanya kuat karena bersandar kepada-Nya.
Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan, apakah hati kita ikut mendengarkan? Ketika perintah Allah disampaikan, apakah kita berusaha menaatinya? Dan ketika larangan-Nya dibacakan, apakah kita berusaha menjauhinya?
Jangan sampai lisan kita akrab dengan Al-Qur’an, tetapi perilaku kita jauh dari tuntunannya. Jangan sampai kita pandai melantunkan ayat-ayatnya, tetapi enggan menjadikan isinya sebagai pedoman hidup.
Sebab, kemuliaan seorang hamba bukan hanya terletak pada seberapa sering ia membaca Al-Qur’an, tetapi juga pada sejauh mana Al-Qur’an membimbingnya untuk mengenal Allah, memperbaiki dirinya, dan memperlakukan sesama dengan akhlak yang mulia.
Semoga Allah menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya bagi hati kita, penambah keimanan kita, penuntun langkah kita, dan teman setia dalam perjalanan menuju keridaan-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قُلُوبِنَا، وَنُورَ صُدُورِنَا، وَجَلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذَهَابَ هُمُومِنَا.
“Ya Allah, jadikanlah Al-Qur’an sebagai penyejuk hati kami, cahaya bagi dada kami, penghapus kesedihan kami, dan penghilang kegelisahan kami.” <>
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mimbar Jum'at
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar