Mutiara Pagi: Ditutupnya Aib dan Dosa (السِّتْرُ): Rezeki Yang Sering Tidak Kita Sadari. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)
nataragung.id - Pemanggilan - As-Sitr: Ketika Allah Menutupi Aibmu, Padahal Dia Mengetahui Segalanya
Ada rezeki yang tidak berupa uang, rumah, atau kendaraan. Ada rezeki yang jauh lebih halus, tersembunyi dari pandangan manusia, tetapi sangat besar nilainya di hadapan Allah: ditutupinya aib dan dosa.
Terkadang engkau merasa miskin karena tidak memiliki banyak harta. Engkau melihat orang lain hidup dalam kemewahan, sementara dirimu berjalan dalam kesederhanaan.
Namun, pernahkah engkau merenung bahwa Allah telah menutupi begitu banyak kekuranganmu yang jika dibuka kepada manusia, mungkin engkau akan merasa malu untuk menatap wajah mereka?
Berapa banyak kesalahan yang pernah engkau lakukan, tetapi Allah tidak menjadikannya tontonan di hadapan manusia?
Berapa banyak dosa yang pernah engkau sembunyikan, tetapi Allah masih memberimu kesempatan untuk bertaubat?
Berapa banyak aib yang hanya diketahui oleh Allah, sementara manusia tetap memandangmu dengan kehormatan?
Jika seluruh dosa kita dibuka, mungkin tidak ada seorang pun yang sanggup berdiri dengan kepala tegak di hadapan manusia.
Namun, Allah Yang Maha Menutupi aib masih memberikan kesempatan kepada kita untuk memperbaiki diri, mengangkat tangan dalam doa, dan kembali ke jalan-Nya.
Jangan mengira dirimu miskin hanya karena hartamu sedikit. Bisa jadi, salah satu rezeki terbesar yang Allah berikan kepadamu adalah aibmu yang tidak disebarkan dan pintu taubat yang belum ditutup.
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ"
Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat ini merupakan panggilan kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya yang telah berbuat dosa.
Allah tidak memerintahkan mereka untuk berputus asa. Sebaliknya, Dia membuka pintu harapan dan mengajak mereka kembali kepada-Nya.
Ketika Allah menutupi aibmu, itu bukan berarti dosa boleh diremehkan. Ketika Allah tidak segera menghukummu di dunia, itu bukan jaminan bahwa engkau bebas dari pertanggungjawaban.
Akan tetapi, kesempatan yang masih Allah berikan adalah karunia yang seharusnya mendorong kita untuk segera bertaubat, memperbaiki amal, dan meninggalkan maksiat.
Aib yang ditutupi hendaknya melahirkan rasa malu kepada Allah, bukan keberanian untuk mengulangi dosa.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ"
Seluruh umatku mendapatkan keselamatan (dari hukuman karena dosa yang mereka sembunyikan), kecuali orang-orang yang menampakkan dosa."(HR. Bukhari, no. 6069)
Kemudian Nabi shalallahu alaihi wasallam menjelaskan tentang orang yang menampakkan dosanya, termasuk orang yang melakukan dosa pada malam hari, lalu pada pagi harinya menceritakan apa yang telah Allah tutupi darinya.
Hadits ini mengajarkan kepada kita agar tidak menjadikan maksiat sebagai sesuatu yang dibanggakan atau dipamerkan.
Jika Allah telah menutupi kesalahanmu, jangan engkau sendiri membuka tirai yang telah Dia tutup dengan menceritakan dosa tanpa kebutuhan yang dibenarkan syariat.
Namun, menutupi aib bukan berarti membiarkan kezaliman, menghalangi keadilan, atau menyembunyikan kejahatan yang membahayakan orang lain. Dalam perkara seperti itu, harus ada pertimbangan syariat dan perlindungan terhadap pihak yang dirugikan.
Renungan: Ketika Allah Menutupimu dengan Rahmat-Nya
Ada dosa yang engkau lakukan dalam kesunyian malam, ketika tidak ada seorang pun yang melihatmu. Tetapi Allah melihatnya.
Ada kesalahan yang engkau kira telah hilang ditelan waktu. Namun, semuanya berada dalam pengetahuan-Nya.
Ada aib yang jika diketahui manusia, mungkin akan mengubah cara mereka memandangmu.
Tetapi Allah masih memberimu kesempatan untuk hidup, bekerja, beribadah, dan memperbaiki diri.
Tidakkah itu sebuah nikmat yang layak disyukuri?
Engkau mungkin tidak memiliki harta yang banyak, tetapi Allah masih menjaga kehormatanmu di hadapan manusia.
Engkau mungkin tidak memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi Allah masih memberikanmu kesempatan untuk kembali kepada-Nya tanpa harus menunggu dunia menghakimimu.
Maka, jangan gunakan tertutupnya aib sebagai alasan untuk terus berbuat dosa. Jadikan ia sebagai panggilan lembut agar engkau segera bertaubat.
Sebab, seorang hamba yang bijaksana bukanlah orang yang merasa aman karena dosanya belum diketahui, melainkan orang yang memanfaatkan kesempatan itu untuk meninggalkan dosa sebelum datang hari ketika segala sesuatu dibuka.
Jangan Membuka Aib Orang Lain
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ"
Barang siapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat."(HR. Muslim, no. 2699)
Jika engkau berharap Allah menutupi aibmu, jangan jadikan aib orang lain sebagai bahan hiburan.
Jangan memburu kesalahan manusia untuk dijadikan bahan percakapan.
Jangan menjadikan kelemahan seseorang sebagai tangga untuk meninggikan dirimu sendiri.
Boleh jadi, hari ini engkau melihat aib seseorang, tetapi esok hari engkau membutuhkan rahmat Allah untuk menutupi aibmu sendiri.
Menutupi aib bukan berarti membenarkan kesalahan. Nasihatilah dengan cara yang baik, cegahlah kemungkaran dengan hikmah, dan jangan menjadikan kehormatan manusia sebagai permainan lisan.
Doa Memohon Ampunan dan Ditutupi Aib
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا، وَاغْفِرْ ذُنُوبَنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا
"Ya Allah, tutupilah aib kami, tenteramkanlah ketakutan kami, ampunilah dosa-dosa kami, dan karuniakanlah kepada kami taubat yang sebenar-benarnya."
Di antara doa yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wasallam adalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ"
Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ampunan dan afiat di dunia dan akhirat."(HR. Abu Dawud, no. 5074; Ibnu Majah, no. 3871)
Penutup: Rezeki yang Tidak Terlihat oleh Mata
So, Jangan hanya menghitung rezeki dari jumlah uang yang tersimpan, rumah yang engkau miliki, atau harta yang dapat engkau banggakan.
Hitung pula nikmat berupa aib yang Allah tutupi, kesempatan bertaubat yang Dia berikan, dan kehormatan yang masih Dia jaga.
Namun, ingatlah: tertutupnya aib di dunia bukan jaminan bahwa dosa telah diampuni. Ampunan Allah diraih dengan taubat yang tulus, iman, dan amal saleh sesuai petunjuk-Nya.
Maka, ketika engkau teringat dosa masa lalu, jangan tenggelam dalam keputusasaan. Segeralah kembali kepada Allah.
Ketika engkau melihat kesalahan orang lain, jangan tergesa-gesa merendahkannya.
Dan ketika engkau menikmati kehormatan yang Allah jaga, jangan lupa untuk merendahkan hati di hadapan-Nya.
Sebab, boleh jadi engkau merasa miskin karena tidak memiliki banyak harta, padahal Allah telah memberimu rezeki yang sangat berharga:
Aib yang ditutupi, kesempatan untuk bertaubat, dan pintu rahmat yang masih terbuka. (*/264)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair
📚 Mutiara Pagi
*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar