Mutiara Pagi: Kapan Terakhir Kali Kita Bahagia Menikmati Hari yang Biasa? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI • 27 Oct 2026 01:11 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 22 kali dibaca
Mutiara Pagi: Kapan Terakhir Kali Kita Bahagia Menikmati Hari yang Biasa? Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Pernahkah kita mengingat kembali masa kecil, ketika hal-hal sederhana saja sudah cukup membuat kita bahagia?

Dulu, bermain kelereng, petak umpet, mengejar layangan putus, atau melompat dari pohon lalu berenang di sungai bisa membuat kita lupa waktu. Rasanya senang sekali. Tak perlu banyak uang, tak perlu pergi jauh-jauh. Cukup bermain bersama teman, pulang dengan badan basah dan kulit menghitam, lalu tertawa sepanjang jalan.

Apalagi ketika malam Lebaran tiba. Hati rasanya berbunga-bunga membayangkan esok memakai baju baru, makan enak, mendengar suara mercon, mencicipi kue Lebaran, dan mendapat uang ampau dari saudara. Malam terasa begitu panjang, tetapi kita tak sabar menunggu pagi datang.

Waktu itu, kita tak banyak memikirkan masa lalu, apalagi mencemaskan masa depan. Kita menjalani hari begitu saja. Tertawa ketika senang, menangis ketika sedih, lalu kembali bermain seolah tak ada beban. Semuanya terasa ringan, tanpa perlu berpura-pura menjadi siapa-siapa.

Namun, setelah dewasa, entah sejak kapan kebahagiaan seperti itu perlahan menjauh. Hari-hari berjalan seperti biasa. Kita sibuk bekerja, mengejar kebutuhan, memikirkan hari esok, dan terkadang terlalu lama memikirkan sesuatu yang sudah berlalu. Kita punya lebih banyak hal, tetapi justru sering kehilangan kesempatan untuk menikmati apa yang ada.

Lalu, apakah kebahagiaan masa kecil itu benar-benar hilang?

Mungkin tidak. Barangkali kita hanya terlalu sibuk sampai lupa bagaimana caranya menikmati hidup.

Sesekali, cobalah berhenti sejenak. Tak perlu pergi jauh atau mengeluarkan banyak uang. Seduh kopi, duduk santai, dan biarkan pikiran beristirahat dari segala urusan. Nikmati pagi tanpa tergesa-gesa. Atau, setelah salat Magrib dan Subuh, duduklah lebih lama di masjid. Berdzikir, membaca Al-Qur'an, atau sekadar merenungi perjalanan hidup.

Kita tak harus selalu berlari. Ada saatnya kita perlu berhenti, menarik napas, dan menyadari bahwa hidup yang sedang kita jalani ini pun layak disyukuri.

Sebab, bahagia tidak selalu datang dari sesuatu yang luar biasa. Terkadang, ia hadir dalam secangkir kopi, obrolan ringan, udara pagi, atau hati yang mendadak tenang setelah lama gelisah.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mencari kebahagiaan yang besar, sampai lupa menikmati kebahagiaan kecil yang sebenarnya sudah ada di depan mata. (*/274)
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 5 = ?
Berita Terkait