Mutiara Pagi: Tiga Jalan Dalam Hidup: Sepakat, Bermuka Dua atau Berpisah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI • 13 Oct 2026 01:51 • Admin NA • 13 kali dibaca
Mutiara Pagi: Tiga Jalan Dalam Hidup: Sepakat, Bermuka Dua atau Berpisah. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Dalam kehidupan, tidak semua orang akan selalu sejalan dengan kita. Perbedaan pikiran, kepentingan, prinsip, dan cara memandang sesuatu adalah bagian dari perjalanan manusia. Kita tidak mungkin memaksa semua orang untuk sepakat, sebagaimana kita tidak bisa berharap setiap hati memiliki cara pandang yang sama.

Namun, ketika perbedaan datang dan kesepakatan tak lagi bisa ditemukan, manusia dihadapkan pada tiga pilihan: sepakat (توافق), bermuka dua (تنافق), atau berpisah (تفرق).

Pertama, sepakat.

Inilah jalan yang paling indah ketika dua hati mampu bertemu dalam kebenaran. Pikiran boleh berbeda, tetapi kejujuran menjadi jembatan. Kepentingan boleh beragam, tetapi niat baik menyatukan langkah. Tidak harus selalu sama dalam segala hal, tetapi bersedia saling memahami dan menghormati.

Kesepakatan bukan berarti kehilangan pendirian, melainkan menemukan titik temu tanpa mengorbankan prinsip yang benar. Sebab, kedewasaan tidak diukur dari seberapa sering kita memenangkan perdebatan, tetapi dari seberapa bijak kita menyikapi perbedaan.

Kedua, bermuka dua.

Ketika tidak mampu mencapai kesepakatan, sebagian orang memilih jalan kepura-puraan. Di hadapan seseorang, ia mengangguk; di belakangnya, ia menggeleng. Di depan, ia menebarkan senyum; di belakang, ia menanam benih kebencian. Lisannya berkata setuju, tetapi hatinya menyimpan penolakan.

Ia ingin tetap diterima oleh semua pihak, meskipun harus menggadaikan kejujuran. Ia takut kehilangan tempat, sehingga memilih memakai topeng. Padahal, tidak ada ketenangan yang tumbuh dari kepalsuan, dan tidak ada kepercayaan yang mampu bertahan di atas kebohongan.

Bermuka dua mungkin bisa menyelamatkan posisi untuk sementara, tetapi perlahan-lahan ia menghancurkan kehormatan dan kepercayaan. Sebab, manusia mungkin tertipu oleh kata-kata, tetapi waktu sering kali membuka wajah yang sebenarnya.

Tentu, bersikap bijaksana, menjaga rahasia, atau tidak mengungkapkan setiap ketidaksetujuan bukanlah kemunafikan. Yang tercela adalah sengaja menampilkan dukungan palsu, menipu, dan mengadu domba demi kepentingan pribadi.

Ketiga, berpisah.

Jika kesepakatan tidak mungkin dicapai, sementara kepura-puraan hanya akan melahirkan luka, maka berpisah terkadang menjadi pilihan yang lebih terhormat.

Tidak semua perbedaan harus berakhir dengan permusuhan. Tidak semua perpisahan harus disertai kebencian. Ada kalanya dua orang harus berjalan di jalan yang berbeda karena tujuan mereka tidak lagi sama. Ada kalanya sebuah kebersamaan perlu diakhiri bukan karena dendam, melainkan karena kejujuran tidak boleh terus-menerus dikorbankan.

Berpisah bukan selalu tanda kekalahan. Terkadang, ia adalah keberanian untuk mengakui bahwa tidak semua hubungan dapat dipertahankan, tidak semua kelompok dapat terus disatukan, dan tidak semua perjalanan harus ditempuh bersama.

Yang penting, berpisahlah tanpa menzalimi, menjauhlah tanpa memfitnah, dan tinggalkanlah tanpa merendahkan. Sebab, perbedaan jalan tidak harus menghapus kemanusiaan, dan berakhirnya kebersamaan tidak memberi kita hak untuk merusak kehormatan orang lain.

Lalu, mana yang harus kita pilih?

Pilihlah kesepakatan jika kebenaran mempertemukan kita.

Pilihlah kejujuran jika hati kita tidak sejalan.

Dan jika perbedaan sudah tidak mungkin dijembatani, pilihlah perpisahan yang bermartabat daripada kebersamaan yang dibangun di atas kepalsuan.

Jangan memaksakan kesepakatan hanya demi terlihat kompak. Jangan pula berpura-pura setuju hanya demi mempertahankan kedudukan. Sebab, persatuan yang kehilangan kejujuran hanyalah kerumunan yang sewaktu-waktu bisa pecah oleh kepentingan.

Lebih baik berbeda pendapat tetapi tetap jujur, daripada terlihat sepakat tetapi diam-diam saling menjatuhkan. Lebih baik berpisah dengan terhormat, daripada bersama dalam kemunafikan.

Pada akhirnya, hidup bukan tentang bagaimana kita membuat semua orang menyukai kita. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjaga kebenaran, memelihara kejujuran, dan memperlakukan manusia dengan adil, bahkan ketika kita tidak lagi berjalan bersama mereka.

Sebab, tidak semua orang harus menjadi kawan seperjalanan. Namun, setiap orang tetap berhak mendapatkan perlakuan yang baik.

Sepakatlah tanpa kehilangan prinsip. Berbedalah tanpa kehilangan adab. Dan berpisahlah tanpa kehilangan akhlak.

Itulah kedewasaan: ketika kita tidak harus selalu bersama untuk tetap saling menghormati, tidak harus selalu sepakat untuk tetap berlaku adil, dan tidak harus bermuka dua hanya agar diterima oleh semua orang. (*/266).
WaAllahu A'lam
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 1 = ?
Berita Terkait