Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Konten Digital sebagai Wajah Baru Pelestarian Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 17 Sep 2026 01:02 Admin NA 9 kali dibaca
Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Konten Digital sebagai Wajah Baru Pelestarian Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, keturunan Sai Bumi Ruwa Jurai yang kami banggakan. Marilah kita duduk sejenak di beranda imajinasi ini, seperti duduk di bawah naungan rumah adat, mendengar cerita dari seorang Punyimbang yang menyimpan seribu kisah leluhur.

Angin sore berhembus lembut membawa wewangian kopi robusta yang baru ditumbuk, sementara suara takbir bergema dari mushola kampung, mengingatkan kita bahwa hidup ini adalah harmoni antara adat, agama, dan kebangsaan.

Dahulu kala, di sebuah kampung tua di tepian Way Sekampung, hiduplah dua bersaudara, Sutan Jaya dan Radin Inten. Mereka adalah putra dari seorang Punyimbang marga yang disegani, keturunan dari garis keturunan yang panjang dan penuh cerita. 
Kampung mereka bernama Kampung Pugung Raharjo, sebuah perkampungan tua yang dikelilingi hutan jati dan kebun kopi yang menghijau. Di sanalah nilai-nilai luhur adat Lampung diajarkan dari generasi ke generasi, melalui dongeng sebelum tidur dan petuah di setiap upacara adat.
Namun, adik-beradik ini berbeda bagai langit dan bumi. Sutan Jaya dikenal sombong, suka memamerkan gelar Juluk yang disandangnya, seolah-olah gelar itu adalah mahkota yang membuatnya lebih tinggi dari saudara-saudaranya. Sementara Radin Inten adalah pemuda yang rendah hati dan gemar membantu tetangga yang sedang mengerjakan ladang, mencerminkan jiwa Sakai Sambayan yang kental. Setiap pagi, Radin Inten sudah berada di sawah membantu para petani tua mencangkul, sementara Sutan Jaya masih bergeming di balai-balai rumahnya yang besar.

Suatu hari, ketika musim panen tiba dan padi menguning di sepanjang hamparan sawah, Sutan Jaya dengan angkuhnya menolak undangan kerja bakti membersihkan saluran air. "Aku ini bergelar tinggi, masakan harus berkubang lumpur seperti rakyat biasa?" ujarnya dengan sinis sambil menyantap ketan serundeng di serambi rumahnya. 
Mendengar itu, Radin Inten yang kebetulan lewat hanya tersenyum dan berkata, "Kakanda, ingatkah kau petuah Puyang kita? 'Juluk adok segagham muli, gelar pusaka turun temurun; sakai sambayan jadi penyuluh, nengah nyappur perekat hidup'. Gelar bukanlah untuk dibanggakan, melainkan untuk dijaga marwahnya dengan perbuatan."
Kata-kata Radin Inten itu bagai duri dalam daging bagi Sutan Jaya. Harga dirinya, Pesenggiri-nya, terasa terinjak oleh adik kandungnya sendiri. Dalam kemarahannya yang membara, ia mengucapkan kata-kata kasar yang melukai hati Radin Inten, kata-kata yang tidak seharusnya keluar dari mulut seorang bersaudara. "Kau ini hanya anak pungut yang kebetulan dibesarkan di rumah ini!" teriak Sutan Jaya dengan mata merah padam. Mendengar itu, Radin Inten terdiam, hatinya hancur berkeping-keping, tetapi ia tetap menjaga sikapnya, mengingat ajaran leluhur bahwa mulut yang tajam lebih berbahaya daripada keris.

Konon, di malam itu juga, gubuk kecil Radin Inten yang sederhana hangus terbakar. Desa gempar. Para tetua adat berkumpul di balai kampung untuk menyelesaikan perselisihan ini. Mereka duduk melingkar, menghisap rokok daun nipah, dan mendengarkan kesaksian dari kedua belah pihak. Dari situlah kita belajar, bahwa harga diri (Pesenggiri) bukanlah tentang arogansi atau kesombongan, melainkan tentang bagaimana kita menjaga kehormatan melalui tutur kata dan perilaku yang santun. 
Petuah Dalom Putekha Jaya Makhga mengingatkan kita, bahwa mulut yang tajam lebih berbahaya daripada keris, karena lukanya bisa terasa bertahun-tahun bahkan puluhan tahun. Kisah ini pula yang mengajarkan kita tentang Nemui Nyimah yang sejati, serta Nengah Nyappur dalam bersosialisasi yang tidak memandang status atau gelar.

Akhirnya, melalui musyawarah yang dipimpin oleh Kepala Adat, Sutan Jaya diwajibkan membangun kembali gubuk Radin Inten dan mengadakan upacara adat Begawi untuk meminta maaf secara terbuka. Inilah bukti bahwa adat hadir untuk menyelesaikan perselisihan, bukan memperuncingnya.

Cerita rakyat tadi hanyalah satu titik dari samudra kearifan yang kita miliki. Untuk memahami identitas kita, kita perlu menelusuri jejak sejarah marga-marga di Lampung yang tersebar dari pesisir hingga ke pedalaman. Tahukah kalian bahwa masyarakat adat Lampung terbagi dalam dua payung besar, yaitu Sai Batin dan Pepadun? Istilah ini seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, saling melengkapi dalam bingkai kebhinekaan.
Marga-marga dalam kelompok Sai Batin, yang umumnya mendiami wilayah pesisir seperti Krui, Pesisir Barat, dan sebagian daerah Way Kanan, memiliki struktur sosial yang bersifat hierarkis. Gelar dan status diwarisi secara turun-temurun, seperti yang terjadi di Keratuan Melinting, Keratuan Darah Putih, dan Paksi Pak Sekala Brak. Konon, Keratuan Melinting adalah keturunan dari rombongan Majapahit yang datang ke Lampung dan berbaur dengan penduduk setempat. Mereka membawa sistem kerajaan yang kemudian berakulturasi dengan adat lokal. Salah satu peninggalan yang masih bisa kita saksikan adalah makam Puyang di Gunung Melinting yang hingga kini diziarahi oleh keturunannya.
Berbeda dengan Pepadun yang mendiami pedalaman, seperti di Abung, Pubian, dan Tulang Bawang, mereka menganut sistem yang lebih terbuka. Seorang rakyat biasa pun bisa mencapai status tinggi melalui upacara Cakak Pepadun, naik singgasana, yang sarat dengan ritual dan syarat tertentu, seperti penguasaan adat, kemampuan memimpin, dan tentunya restu dari para Punyimbang. 
Upacara Cakak Pepadun ini bukan sekadar pesta, melainkan sebuah prosesi sakral yang melibatkan doa, sesaji, dan tarian tradisional.
Perbedaan antara Sai Batin dan Pepadun ini bukanlah untuk dipertentangkan, tetapi justru menjadi kekayaan yang membuat budaya Lampung begitu kaya dan berwarna. Seperti kata pepatah, "Bibingkah-bingkah air, ditumbuk-tumbuk lada; sai batin dan pepadun, serumpun juga keluarga."

Mari kita buka lembaran Kitab Kuntara Raja Niti, salah satu naskah kuno yang menjadi rujukan penting bagi masyarakat Lampung. Kitab ini ditulis di atas daun lontar dengan aksara Lampung kuno, dan disimpan secara turun-temurun di rumah-rumah adat. 
Dalam salah satu bagiannya tertulis: "Sikam kugha sikam bubuk, sikam tani sikam jukuk; pesenggiri dijaga teguh, adat istiadat pantang dilupakan." Kurang lebih artinya: "Kita adalah daging dan tulang, kita adalah petani dan saudara; harga diri dijaga teguh, adat istiadat pantang dilupakan." 
Kitab ini bukan sekadar kumpulan hukum dan aturan, melainkan panduan hidup yang mengajarkan nilai-nilai moral, sosial, dan religius.

Dalam penguatan karakter yang diajarkan, terkandung nilai-nilai seperti cinta damai, tanggung jawab, toleransi, dan cinta tanah air, yang sangat selaras dengan nilai-nilai Pancasila dan ajaran agama. Sebagaimana falsafah "Seruas Tiga Buku" mengajarkan kita bahwa kesempurnaan hidup terletak pada harmoni, seperti tungku tiga batu yang kokoh menopang kehidupan: adat, agama, dan negara harus berjalan beriringan.
Nilai-nilai adat Lampung bukanlah sekadar aturan yang turun-temurun, melainkan refleksi dari hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta dan horizontal dengan sesama manusia.

Dalam setiap upacara adat, dari Begawi yang meriah hingga Cakak Pepadun yang sakral, kita senantiasa memanjatkan doa dan bersyukur kepada Allah SWT. 
Ini adalah cerminan dari nilai-nilai Islam yang telah lama berakulturasi dengan budaya lokal. Para ulama dan tokoh adat di masa lalu telah bijaksana dalam menyelaraskan keduanya, sehingga tidak ada pertentangan antara adat dan syariat. Yang ada adalah saling mengisi dan menguatkan, sebagaimana pepatah Lampung: "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah."
Falsafah hidup orang Lampung yang termaktub dalam Piil Pesenggiri tidaklah bertentangan dengan syariat. Justru ia adalah kristalisasi dari ajaran luhur yang diajarkan dalam Al-Qur'an dan Hadits.

Mari kita telaah satu per satu dengan hati yang lapang:
Pertama, Pesenggiri adalah harga diri dan kehormatan. Ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 13: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Harga diri (Pesenggiri) kita bukan karena keturunan, harta, atau gelar semata, tetapi karena ketakwaan dan akhlak mulia. Ini mengajarkan kita bahwa kemuliaan sejati tidak terletak pada atribut lahiriah, melainkan pada hati dan perbuatan.

Kedua, Juluk-Adok adalah gelar kehormatan yang diberikan melalui prosesi adat. Dalam Islam, memberikan nama yang baik adalah bagian dari hak anak yang harus dipenuhi orang tua. Gelar dalam adat Lampung bukanlah sekadar embel-embel, melainkan amanat dan tanggung jawab. Seseorang yang menyandang gelar Punyimbang atau Dalom harus mampu menjaga perilakunya, karena gelar itu adalah cerminan dari seluruh marga. 
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian." (HR. Muslim). Dengan demikian, gelar adalah pengingat, bukan kebanggaan yang menyesatkan.

Ketiga, Nemui Nyimah berarti keramahan dan saling memberi, baik dalam bentuk materi maupun ucapan. Ini adalah cerminan dari akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya." (HR. Bukhari dan Muslim). 
Tradisi Nemui Nyimah ini terlihat jelas dalam setiap acara adat, di mana tuan rumah menyambut tamu dengan hidangan dan senyuman, tanpa memandang status sosial. Ini juga mengandung nilai infak dan sedekah yang diajarkan dalam Islam.

Keempat, Nengah Nyappur adalah keterbukaan dan kemampuan bersosialisasi dengan semua lapisan masyarakat. Islam menganjurkan umatnya untuk hidup bersosial, saling mengenal, dan menjalin tali silaturahmi. Dengan Nengah Nyappur, kita menerapkan nilai ta'aruf (saling mengenal) sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hujurat: 13. 
Sikap terbuka ini membuat masyarakat Lampung dikenal ramah dan mudah beradaptasi dengan pendatang. Ini juga mengajarkan kita untuk tidak membeda-bedakan suku, agama, atau golongan dalam pergaulan sehari-hari.

Kelima, Sakai Sambayan adalah gotong-royong, kerja sama, dan tolong-menolong dalam segala hal. Ini adalah inti dari solidaritas sosial, yang dalam Islam disebut sebagai ta'awun (tolong-menolong). Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 2: "Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran."

Semangat Sakai Sambayan ini terlihat dalam tradisi kerja bakti membangun rumah, membersihkan kampung, hingga membantu keluarga yang terkena musibah. Ini adalah modal sosial yang sangat kuat untuk menjaga keutuhan masyarakat.
Dengan memahami korelasi yang erat ini, kita semakin yakin bahwa adat dan agama bukanlah dua hal yang terpisah atau bahkan bertentangan. Keduanya adalah dua sisi dari koin yang sama, saling menguatkan dan melengkapi. Inilah identitas kita sebagai masyarakat Lampung yang berbudaya dan beriman.
Kini, kita hidup di era yang serba digital, di mana anak-anak muda lebih akrab dengan layar ponsel daripada cerita dongeng di beranda. Namun, bukankah ini peluang besar yang harus kita manfaatkan dengan bijak? Seperti kata seorang kreator budaya asal Bandar Lampung, "Peran konten kreator itu sangat penting, karena sekarang banyak anak muda sudah malas baca buku, jadi konten digital bisa jadi cara paling efektif untuk mengedukasi mereka tentang budaya tanpa terkesan menggurui."
Bayangkan potensinya. Kita bisa mengemas kisah Sutan Jaya dan Radin Inten yang sarat nilai moral menjadi video animasi pendek berdurasi satu menit yang viral di TikTok. Kita bisa merekam podcast santai berdurasi 15-20 menit tentang filosofi tungku tiga batu, diiringi alunan gamolan atau gitar akustik khas Lampung. 
Kita bisa membuat serial Instagram Reel yang menampilkan prosesi Cakak Pepadun atau Begawi dengan narasi yang ringan dan visual yang memukau, dikemas dengan teknik sinematografi modern.
Kita bahkan bisa mengembangkan konten yang lebih interaktif. Misalnya, kuis daring tentang sejarah marga, atau tantangan menari tarian tradisional seperti Tari Sembah atau Tari Bedana yang diunggah ke YouTube. Kita bisa mengajak para YouTuber dan Tiktoker lokal untuk berkolaborasi, menjadikan mereka sebagai duta budaya yang menyebarkan pesan-pesan adat dengan gaya anak muda yang kekinian. 
Selain itu, platform seperti podcast juga bisa menjadi media untuk mewawancarai para Punyimbang dan tokoh adat, sehingga pengetahuan lisan mereka terekam dan bisa diakses oleh siapa saja, kapan saja. 
Bayangkan, seorang anak muda di Jakarta atau bahkan di luar negeri bisa mendengar petuah langsung dari tetua adat Lampung melalui Spotify atau Apple Podcast. Inilah wajah baru pelestarian: tradisi yang tetap hidup dan berkembang di era digital, tanpa kehilangan esensi dan marwahnya.
Tentu saja, dalam membuat konten digital ini, kita harus tetap berpegang pada nilai-nilai adat yang luhur dan tidak menyimpang dari syariat Islam. Jangan sampai konten yang kita buat justru menjadi hiburan kosong yang melupakan esensi. Kita harus menjaga agar setiap konten mengandung pesan edukatif dan memperkuat identitas kebangsaan. Inilah tanggung jawab kita semua, generasi yang melek teknologi tetapi juga cinta adat. Dengan kreativitas dan niat yang tulus, kita bisa memastikan bahwa adat Lampung tetap hidup dan berkembang di tengah arus globalisasi.

Tabik pun, kembali kita diingatkan bahwa adat dan budaya adalah ruh yang menghidupkan jati diri kita sebagai masyarakat Lampung dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Mari kita rawat warisan ini dengan penuh cinta, tidak hanya dengan cara-cara tradisional, tetapi juga dengan memanfaatkan teknologi digital yang ada. Dengan memegang teguh Piil Pesenggiri, kita bukan hanya menjaga harga diri pribadi dan keluarga, tetapi juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah keberagaman.
Ingatlah selalu petuah lama yang mengajarkan bahwa "Sakai sambayan jadi penyuluh, nengah nyappur perekat hidup." Nilai-nilai gotong-royong dan keterbukaan ini adalah benteng kita menghadapi perpecahan. Semoga tulisan ini menjadi pemantik semangat bagi kita semua untuk terus berkarya dan melestarikan adat Lampung, baik secara tradisional maupun digital, demi masa depan yang lebih cerah bagi generasi penerus kita. Aamiin.

Daftar Pustaka:
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Tata Krama Orang Lampung Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri – 7. Natar Agung.
3. Hadikusuma, Hilman. (1986). Kuntara Raja Niti. Lampung: Tanpa Penerbit.
4. "Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia". (2018). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
5. "Perubahan Pola-Pola Perkawinan pada Masyarakat Lampung Saibatin." (2020). ISU-ISU SOSIAL BUDAYA, Vol. 22 No. 01.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 5 = ?
Berita Terkait