Resiliensi Psikologis Siswa, Guru, dan Orang Tua Pada Gangguan Kegiatan Sekolah Akibat Debu Vulkanik Anak Gunung Krakatau
Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung
nataragung.id - Metro - Bencana alam dapat mengganggu berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan. Gangguan kegiatan sekolah akibat debu vulkanik bukan hanya persoalan teknis pembelajaran, tetapi juga dapat menimbulkan rasa takut, kecemasan, kejenuhan, kehilangan rutinitas, dan kekhawatiran terhadap keselamatan. Dalam perspektif psikologi, kondisi tersebut perlu dilihat melalui konsep resiliensi. Masten memandang resiliensi sebagai kemampuan sistem manusia untuk beradaptasi secara positif ketika menghadapi kesulitan. Perspektif multisystem resilience menekankan bahwa ketahanan anak tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh hubungan antara individu, keluarga, sekolah, komunitas, dan sistem sosial. Kerangka ini relevan dengan kondisi siswa yang menghadapi gangguan sekolah karena bencana. Penelitian Parrott dkk. (2025) di Indonesia menunjukkan bahwa guru dapat menjadi agen resiliensi komunitas setelah bencana melalui dukungan psikososial, menjaga keberlanjutan pendidikan, memberikan bantuan praktis, serta membangun dukungan sosial.
Perspektif Psikologi Terapan.
Kajian ini menggunakan empat konsep utama. Pertama, resiliensi psikologis. Resiliensi dipahami sebagai kemampuan individu dan sistem sosial untuk beradaptasi secara sehat terhadap tekanan. Dengan demikian, siswa yang tetap mampu belajar setelah terjadi gangguan sekolah, guru yang mampu menyesuaikan pembelajaran, dan orang tua yang mampu mendampingi anak merupakan bagian dari proses resiliensi, Kedua, coping. Siswa, guru, dan orang tua dapat menggunakan strategi problem-focused coping, misalnya mencari informasi yang benar dan menyesuaikan metode belajar, serta emotion-focused coping, seperti relaksasi, dukungan sosial, doa, dan aktivitas yang menenangkan.
Ketiga, dukungan sosial. Hubungan antara siswa, guru, orang tua, teman sebaya, dan sekolah dapat menjadi faktor protektif. Penelitian pada guru terdampak bencana di Indonesia menunjukkan bahwa intervensi psikososial berbasis kelompok dapat meningkatkan resiliensi, dukungan sosial, coping adaptif, serta menurunkan kecemasan dan gejala stres pascatrauma, Keempat, ketahanan sekolah. Penelitian tahun 2026 mengenai kerangka dukungan kesehatan mental anak pascabencana menekankan pentingnya intervensi psikososial berbasis sekolah yang dapat dilakukan oleh tenaga nonspesialis, termasuk guru, dengan dukungan sistem yang tepat.
Perspektif Siswa, Guru, dan Orang Tua.
Bagi siswa, perubahan kegiatan sekolah dapat menyebabkan berkurangnya konsentrasi, motivasi, interaksi sosial, dan rasa aman. Oleh sebab itu, sekolah perlu memberikan informasi yang sesuai usia, menjaga rutinitas belajar secara fleksibel, serta menyediakan ruang bagi siswa untuk menyampaikan perasaan dan kekhawatirannya. Kajian sistematis di Indonesia yang diterbitkan pada 2025 menunjukkan bahwa pendidikan kebencanaan dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan resiliensi siswa, terutama ketika pendekatannya sesuai dengan karakteristik anak dan konteks budaya.
Guru memiliki dua posisi penting yaitu sebagai individu yang juga terdampak dan sebagai figur yang memberikan dukungan kepada siswa. Guru perlu memperoleh dukungan psikologis, informasi kebencanaan, serta strategi pembelajaran yang fleksibel. Penelitian Parrott dkk. (2025) menunjukkan bahwa guru di wilayah terdampak bencana di Indonesia berperan dalam mendukung kesejahteraan siswa dan keberlanjutan pendidikan.
Orang tua berperan dalam menciptakan rasa aman di rumah, mendampingi pembelajaran, menyaring informasi, serta membantu anak mengelola kecemasan. Komunikasi yang konsisten antara sekolah dan orang tua penting agar anak tidak menerima informasi yang saling bertentangan. Dengan demikian, resiliensi siswa perlu dipandang sebagai resiliensi bersama, yaitu hasil interaksi antara kekuatan anak, keluarga, guru, sekolah, dan komunitas.
Perspektif Psikologi Islam.
Pendekatan psikologi Islam dapat memperkuat konsep resiliensi melalui nilai sabar, tawakal, ikhtiar, syukur, dan ukhuwah. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” QS. Al-Baqarah [2]: 155.Ayat tersebut memberikan landasan bahwa menghadapi ketakutan dan kesulitan merupakan bagian dari kehidupan manusia, sementara kesabaran menjadi salah satu sikap penting dalam menghadapi ujian. Dalam konteks psikologi, nilai sabar dapat dipahami bukan sebagai sikap pasif, tetapi sebagai kemampuan mempertahankan pengendalian diri sambil tetap melakukan ikhtiar yang diperlukan.
Hal ini diperkuat oleh hadis Rasulullah ﷺ: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin... jika ia ditimpa kesulitan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.”
HR. Muslim No. 2999. Hadis tersebut dapat menjadi dasar pengembangan religious coping, yaitu penggunaan keyakinan dan praktik keagamaan secara adaptif untuk menghadapi tekanan. Namun, nilai tawakal dan sabar perlu berjalan bersama ikhtiar, termasuk mengikuti informasi kebencanaan, menjaga kesehatan, dan menaati arahan keselamatan.
Rekomendasi Psikologi Terapan.
Berdasarkan kajian tersebut, sekolah dapat mengembangkan beberapa langkah praktis yaitu, melakukan pemantauan sederhana terhadap kondisi emosional siswa dan guru, menyediakan dukungan psikologis awal bagi siswa yang menunjukkan kecemasan berlebihan, memberikan informasi kebencanaan yang sederhana, akurat, dan tidak menakutkan, menjaga rutinitas pembelajaran dengan fleksibilitas sesuai kondisi, memperkuat komunikasi antara guru dan orang tua, memberikan pelatihan coping dan psychological first aid kepada guru, mengembangkan kegiatan berbasis religiusitas seperti doa, refleksi, dan penguatan makna sabar tanpa menggantikan tindakan keselamatan, dan membangun budaya gotong royong dan dukungan sosial di lingkungan sekolah. Penelitian tahun 2026 mengenai pendidikan kebencanaan juga menemukan bahwa program pendidikan kebencanaan dapat meningkatkan resiliensi psikologis siswa dan guru secara bermakna.
Akhirnya penting untuk dicermati bahwa gangguan kegiatan sekolah akibat debu vulkanik Anak Gunung Krakatau perlu dipandang sebagai persoalan multidimensional yang mencakup aspek pendidikan, kesehatan, sosial, dan psikologis. Dampaknya tidak hanya dirasakan siswa, tetapi juga guru dan orang tua. Teori resiliensi menunjukkan bahwa kemampuan menghadapi bencana tidak hanya berasal dari kekuatan individu, tetapi juga dari dukungan keluarga, sekolah, guru, teman sebaya, dan komunitas. Oleh karena itu, intervensi yang paling relevan adalah membangun ketahanan psikologis berbasis sekolah dan keluarga. Dalam perspektif Islam, resiliensi dapat diperkuat melalui kesabaran, tawakal, ikhtiar, doa, dan kepedulian sosial. Dengan mengintegrasikan psikologi modern dan nilai-nilai Islam, sekolah dapat membangun sistem dukungan yang tidak hanya menjaga keberlanjutan pembelajaran, tetapi juga membantu siswa, guru, dan orang tua menghadapi situasi bencana secara lebih adaptif. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar