Resmi, BGN Uji Coba MBG Pola Prasmanan Ala Jepang, Tinggalkan Sistem Ompreng

NASIONAL • 09 Oct 2026 08:01 • Admin NA • 36 kali dibaca
Resmi, BGN Uji Coba MBG Pola Prasmanan Ala Jepang, Tinggalkan Sistem Ompreng

nataragung.id - Pesawaran - Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan akan mengubah pola distribusi Makan Bergizi Gratis (MBG) dari sistem ompreng kotak menjadi sistem prasmanan di kelas. Perubahan ini mulai diuji coba sejak Senin, 5 Oktober 2026.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan piloting prasmanan sudah dilakukan di lebih dari 60 dapur SPPG yang tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, DIY, hingga Papua.

"Di tanggal 5 Oktober kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi, makanan dibawa hangat-hangat ke kelas, kemudian disajikan di kelas," kata Sudaryono.

Tujuan perubahan ini antara lain untuk menjaga makanan tetap hangat dan aman. Jika pada sistem ompreng suhu makanan turun hingga 15-20°C karena lama di perjalanan, dengan sistem prasmanan makanan disajikan dalam kondisi hangat sekitar 60-65°C sehingga lebih fresh dan mengurangi risiko basi serta keracunan.

Selain itu, pola baru ini bertujuan untuk mengurangi food waste. Pada sistem ompreng siswa wajib menerima porsi penuh sehingga banyak makanan terbuang. Dengan prasmanan siswa mengambil makanan sesuai kebutuhan. Data awal di Jepara menunjukkan sisa makanan hanya 0,8 kg per hari.

Tujuan lainnya adalah edukasi karakter ala Jepang melalui konsep Kyushoku. Siswa mendapat jadwal piket 5-6 orang memakai celemek dan penutup kepala untuk melayani teman sekelas. Hal ini melatih tanggung jawab, gotong royong dan disiplin, tidak sekadar makan.

BGN menegaskan dapur SPPG tetap sebagai central kitchen yang memasak, namun distribusinya tidak lagi menunggu dingin di dalam kotak, melainkan langsung dibawa dalam wadah besar hangat ke kelas.

Untuk Lampung Selatan dan Pesawaran, hingga 9 Oktober 2026 masih menggunakan sistem ompreng lama karena belum masuk daftar 60 SPPG piloting. Penerapan nasional akan diputuskan setelah evaluasi dua pekan piloting.

Sementara itu beberapa sekolah di Kabupaten Pesawaran mempertanyakan sistem pembagian cara prasmanan, karena akan menyita waktu belajar. Menurut para kepala sekolah, sistem ompreng yang dilakukan saat ini saja sudah menyita waktu, apalagi jika dibawa kedalam kelas untuk prasmanan, pasti amat menyita waktu. "Aneh aja kebijakan BGN ini, tapi terserah lah mau BGN apa, kami nurut aja," ucap salah seorang kepala sekolah di Kabupaten Pesawaran. (SMh)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

4 + 5 = ?
Berita Terkait