Runtuhnya Hindia Belanda _(Menyambut peringatan Hari Santri 22 Oktober 2026)_ Oleh: M. Habib Purnomo. _Aktivis PWNU Lampung_

ARTIKEL • 14 Oct 2026 06:11 • Admin NA • 28 kali dibaca
Runtuhnya Hindia Belanda _(Menyambut peringatan Hari Santri 22 Oktober 2026)_ Oleh: M. Habib Purnomo. _Aktivis PWNU Lampung_

nataragung.id - Bandar Lampung - Tahun 1942 Perang Dunia II sedang berkobar, bala tentara Dai Nippon sudah menguasai daratan Korea, Cina, Filipina, Kalimantan, dan Semenanjung Malaya.

Walau pasukan Hindia Belanda sudah dibantu tentara Amerika dan Australia, tetap saja tidak mampu menghadapi serangan tentara Jepang.

Kolonial Hindia Belanda yang sudah menjajah wilayah Indonesia ratusan tahun tinggal menunggu takdir. Tidak lebih dari sepuluh hari setelah bala tentara Jepang mendarat di Pelabuhan Merak, Banten, Belanda bertekuk lutut menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Setelah Tjarda, sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda, berhasil diborgol pada 8 Maret 1942 di Kalijati, Jawa Barat, kemudian sang Gubernur Jenderal dikerangkeng di Taiwan, berakhirlah era penjajahan Belanda di Indonesia.

Di saat Belanda mulai terdesak, sebisa mungkin keluarga Belanda yang ada di Jawa segera diungsikan keluar dari Pulau Jawa.

Kapal laut Belanda yang cukup besar yang bernama PULAU BERAS (nama Pulau Beras terjemahan dari Jawa Dwipa, nama lain dari Pulau Jawa) disiapkan di Pelabuhan Cilacap untuk membawa keluarga Belanda pergi ke arah India.

Mengantisipasi kapal laut besar ini di tengah laut dicegat pesawat tempur Jepang yang sedang patroli dan kemudian ditenggelamkan, maka setiap dua puluh lima orang penumpang sudah disiapkan satu sekoci termasuk persediaan makannya.

Nahas, setelah melewati Selat Sunda di langit sudah menderu-deru pesawat tempur Jepang mengelilingi Kapal Pulau Beras dan sebagaimana perkiraan sebelumnya, kemudian penumpang diturunkan di sekoci-sekoci dan tidak lama kemudian kapal legendaris Pulau Beras tenggelam setelah dibom pesawat tempur Jepang.

Sebagian besar penumpang sekoci ini berhasil mendarat di Krui, Lampung. Mereka diberi minum air degan oleh penduduk dan yang sakit diobati oleh seorang dokter muda bernama dr. Muluk (Dr. Abdul Muluk kah?). Setelah istirahat beberapa waktu, para penumpang yang sebagian besar perempuan kapal yang selamat ini dikirim ke Palembang dan dipenjara oleh Jepang.

Alfian (Alfian Yusuf Helmi), putra pribumi dari Kotabumi, setelah menamatkan Sekolah Dasar di Kotabumi meneruskan Sekolah Menengah Pertama di Tanjungkarang dan menamatkan Sekolah Menengah Atas di Batavia.

Alfian kemudian meneruskan sekolah S1 hingga S3 di Turki dan selain mendapat gelar doktor di bidang ekonomi juga berhasil mempersunting gadis Turki. Ketika pemimpin Turki Mustafa Kemal Ataturk meninggal dunia tahun 1938, Alfian berkesempatan melihat jenazah pemimpin Turki ini di peti matinya, di mana waktu itu masyarakat umum diberi kesempatan untuk memberi penghormatan terakhirnya.

Konsul Belanda di Turki setelah mengetahui Dr. Alfian sudah selesai kuliah S3 menawari Alfian untuk pulang ke tanah airnya dan menjadi pegawai negeri Pemerintahan Hindia Belanda yang untuk sementara mengungsi di Australia.

Dr. Alfian beserta istri yang orang Turki ini transit cukup lama di Kairo, Mesir, menunggu kapal laut yang akan membawanya ke Australia.

Setelah kapal transit di India, dengan berdebar-debar kapal menuju Australia. Bila malam hari semua lampu kapal dimatikan untuk menghindari patroli Angkatan Laut Jepang.

Cukup lama Alfian tinggal di Australia, hari-harinya dihabiskan rapat dengan para pegawai Hindia Belanda untuk persiapan masuk ke Indonesia lagi bila Jepang telah kalah.

Kota Hiroshima dan Nagasaki tahun 1945 dibom atom (nuklir) oleh Amerika dan Jepang tanggal 15 Agustus 1945 menyerah kepada Amerika. Sesuai rencana, gelombang demi gelombang para pegawai Hindia Belanda ini (NICA) dikirim masuk ke Indonesia tanpa memperdulikan bahwa tanggal 17 Agustus 1945 Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia sudah memproklamasikan bahwa Indonesia telah merdeka.

Alfian setelah turun di Pelabuhan Tanjung Priok dijemput salah seorang keluarganya dan setelah minta izin atasannya, Alfian menuju Kotabumi kota kelahirannya dan ke kampung halamannya di pinggiran Sungai Way Kunang yang telah lama ditinggalkan. Setelah berziarah ke Menggala ke kampung ibunya, Alfian tidak ke Jakarta lagi tapi justru ke Yogyakarta ibu kota Indonesia menemui Wapres Bung Hatta dan bekerja membantu Wapres Bung Hatta.

Pasukan Inggris yang bermarkas di Singapura atas nama Sekutu yang baru saja menang Perang Dunia II menduduki kota-kota besar di Indonesia dengan alasan dalam rangka melucuti senjata tentara Jepang, membebaskan orang-orang Belanda yang ditawan Jepang, dan mengembalikan tentara Jepang ke negerinya. Namun pada kenyataannya Inggris mempunyai agenda tersembunyi untuk mengembalikan wilayah Indonesia yang sudah merdeka tanggal 17 Agustus 1945 untuk dijajah Belanda lagi, di mana ada tentara Inggris di situ Belanda memboncengnya. Dan tanggal 19 September terjadilah insiden perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato Surabaya oleh arek-arek Surabaya.

Melihat adanya agenda tersembunyi Inggris yang memberi karpet merah terhadap Belanda (NICA) untuk menguasai Indonesia lagi dan melihat kenyataan Negara Republik Indonesia yang baru berdiri dua bulan yang memerlukan bantuan untuk menghadapi pasukan Inggris yang sedang euforia (bergembira ria) baru menang Perang Dunia II, maka Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari mengumpulkan pengurus Cabang NU se-Jawa dan Madura dan kemudian mengeluarkan Resolusi Jihad untuk perang suci habis-habisan melawan tentara Inggris dan Belanda.

Resolusi Jihad KH. Hasyim Asy'ari dikeluarkan pada tanggal 22 Oktober 1945 dan setelah itu terjadi konsolidasi dan mobilisasi para kiai dan santri untuk perang. Terjadilah perlawanan dari para santri dari penjuru Jawa-Madura melawan pasukan penjajah dan puncaknya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan.

Dalam rangkaian pertempuran di Surabaya ini dua jenderal terbaik Inggris tewas (Brigjen Robert Guy Loder dan Brigjen Mallaby).

Resolusi Jihad NU bukan hanya berpengaruh terhadap kiai dan santri Jawa-Madura saja, tapi juga seluruh Indonesia karena KH. Hasyim Asy'ari adalah Rais Akbar NU.

KH. Gholib yang berasal dari Kabupaten Pringsewu, Lampung, sebagai contoh adalah seorang kiai dan pahlawan yang gugur tahun 1949 dalam perang melawan Belanda, adalah alumni Pesantren Tebuireng dan santri Kiai Kholil Bangkalan. Tentu juga pengurus NU di daerah setempat yang melaksanakan Resolusi Jihad ini dan sangat mungkin Resolusi Jihad ini juga berpengaruh secara umum ke umat Islam yang lain pada waktu itu karena Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari selain Rais Akbar NU juga merangkap pemimpin tertinggi Masyumi (Ketua Majelis Syuro).

Peristiwa Resolusi Jihad NU tanggal 22 Oktober 1945 ini yang kemudian oleh pemerintah ditetapkan sebagai HARI SANTRI NASIONAL.
Tabiik... (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 6 = ?
Berita Terkait