Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 1: Asal Usul, jejak Langkah Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 11 Oct 2026 00:12 • Admin NA • 11 kali dibaca
Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 1: Asal Usul, jejak Langkah Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun! 
Izinkan saya menyapa dengan adat Lampung. Hari ini mari saya duduk di beranda, seperti para leluhur dahulu, menyampaikan kisah-kisah yang didengar dari mulut orang tua, satu per satu, untuk kalian semua.

Dahulu kala, leluhur kami belum punya nama "Lampung". Mereka tinggal di gunung, di tepi danau, di tempat sungai belum bisa bicara.
Dalam cerita lama, ada dua bersaudara. Seorang bernama Si Pahit Lidah, seorang lagi Si Mata Empat. Si Pahit Lidah bicaranya seperti pedang, apa yang dikatakannya, menjadi batu. Si Mata Empat punya mata ketiga di kepalanya, bisa melihat yang tak terlihat orang lain. Mereka datang dari jauh, meninggalkan jejak di sepanjang jalan, harimau yang menjadi batu, perempuan dan anak-anak yang menjadi batu, sampai hari ini masih berdiri di pinggir sawah Pagar Alam.

Kemudian mereka bertanding. Si Pahit Lidah memanjat pohon aren yang tinggi, Si Mata Empat menunggu di bawah. Si Pahit Lidah jatuh, mati. Si Mata Empat penasaran: "Benarkah lidahnya sepahit itu?" Ia menjilatnya. Lidah Si Pahit Lidah berlumur racun. Si Mata Empat pun mati.
Kisah ini diceritakan orang tua dari generasi ke generasi. Tapi kisah bukan sekadar kisah. Kisah adalah peta. Ia memberitahu kita: leluhur kami datang dari gunung, dari tepi air, dari tempat yang jauh. Mereka bukan penghuni pertama, masih ada orang "Tumi" yang lebih awal, tinggal di gua, hidup dari berburu.
Kemudian, dari Pagaruyung datang empat orang. Mereka bersaudara, mereka pangeran, mereka musafir yang membawa cahaya Islam. Mereka bertemu di puncak Pesagi, sepakat melakukan satu hal: membawa penduduk tanah ini ke jalan yang selamat.
Mereka mendirikan empat Paksi, empat tiang, empat arah. Inilah awal Sekala Brak.
Mereka menebang sebuah pohon bernama Melasa Kepampang. Pohon itu disembah orang Tumi selama beratus tahun. Ditebang, dibuat sebuah kursi, bernama "Pepadun". Ini bukan kursi biasa. Siapa duduk di atasnya, dialah raja. Siapa duduk di atasnya, dia bertanggung jawab atas keadilan semua orang.

Sejak itu, "Pepadun" bukan lagi sekadar kursi. Ia menjadi nama, menjadi sistem, menjadi tanda agar anak cucu ingat "apa itu keadilan".
Tapi kisah Suntan bukan hanya tentang raja dan kursi. Ia tentang bagaimana manusia hidup.
Kata orang tua, orang Lampung punya lima tiang penopang satu rumah.
Tiang pertama bernama Pesenggiri. Itu harga diri, itu kehormatan. Bukan kesombongan yang dipoles di wajah, tapi tulang punggung yang tegak, tak bisa dibengkokkan. Kata orang, orang Lampung boleh kehilangan harta, tapi tak boleh kehilangan muka; boleh lapar perut, tapi tak boleh ada orang menunjuk belakang sambil bicara.

Tiang kedua bernama Juluk-Adok. Itu nama, itu gelar. Tapi nama bukan untuk dipanggil, tapi untuk dipikul. Seorang lelaki mendapat gelar "Sutan", ia harus hidup seperti Sutan. Gelar Punyimbang jatuh di pundaknya, ia harus bicara untuk kaumnya, menanggung urusan kaumnya.

Tiang ketiga bernama Nemui Nyimah. Itu tangan yang menuang teh, itu makanan yang disimpan untuk tamu. Rumah orang Lampung tak besar, tapi kalau tamu datang, di periuk pasti ada beras. Kenapa? Kata orang tua: "Karena manusia hidup bukan hanya untuk dirinya sendiri."

Tiang keempat bernama Nengah Nyappur. Itu kaki yang melangkah keluar, itu mulut yang bersahabat. Orang Lampung tidak menutup pintu untuk hidup. Mereka pergi ke pasar, ke pelabuhan, duduk di kampung orang lain. Tapi mereka tidak kehilangan diri. Ke mana pun pergi, tahu dari mana asalnya.

Tiang kelima bernama Sakai Sambayan. Itu sepuluh tangan mengerjakan satu hal. Bangun rumah, sekampung datang. Menanam padi, tukar tenaga. Orang mati dikuburkan, tak perlu dipanggil, orang datang sendiri.
Lima tiang, menopang satu rumah. Kurang satu, rumah miring.
Ada yang bertanya: aturan lama ini, apa hubungannya dengan kita sekarang? Apa hubungannya dengan Islam?
Orang tua akan tersenyum. Kata orang tua: lihat keempat Paksi itu, keempat bersaudara itu, saat datang membawa apa? Membawa kata "selamat". Islam artinya selamat. Yang mereka lakukan bukan merobohkan semua yang lama, tapi membersihkannya, agar bisa kembali menampung air.
Nemui Nyimah itu apa? Itu "memberi makan tamu". Nabi bersabda: "Siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya." Ini satu hal yang sama. Sakai Sambayan itu apa? Itu "memikul bersama". Nabi bersabda: "Orang-orang beriman itu seperti satu bangunan, saling menopang." Ini pun sama.
Pesenggiri bukan mengeraskan hati kepada orang. Pesenggiri adalah mengeraskan hati kepada diri sendiri, menahan mulut, menahan tangan, menahan diri dari berbuat yang memalukan. Orang yang bisa menahan diri, dialah yang benar-benar punya Pesenggiri.

Maka kata orang tua: "Jangan tunggu adat menjadi sejarah." Jangan tunggu adat menjadi huruf di buku sejarah, baru teringat membuka.
"Catat sebelum hilang, ajarkan sebelum dilupakan." Selagi masih ingat, catat. Selagi masih bisa bicara, ajarkan.
"Adat bukan pajangan." Adat bukan gambar yang digantung di dinding. Bukan pakaian yang dipakai sekali di hari raya lalu disimpan di lemari.
Adat adalah kalimat yang diajarkan nenek di depan tungku. Adat adalah batas yang ditunjukkan kakek di pematang sawah. Adat adalah teh yang diserahkan ayah di pesta pernikahan. Adat adalah kue yang diselipkan ibu di bungkusan sebelum pergi.
Adat adalah ingatan. Orang yang tidak ingat namanya sendiri, tak akan jauh melangkah. Bangsa yang tidak ingat aturannya sendiri, tak akan tegak berdiri.

Tabik pun! 
Kisah sampai di sini. Sisanya, serahkan pada angin. Angin akan membawanya ke telinga yang seharusnya mendengar. (*)

Rujukan:
1. Kuntara Raja Niti tentang asal-usul Pepadun dan sepuluh larangan Mayuh Tiyuh
2. Sejarah Sekala Brak dan Paksi Pak, dari karya Mohammad Medani Bahagianda dan tradisi lisan
3. Legenda Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat, dari catatan Tribunlampung dan cerita rakyat
4. Makna lima unsur Piil Pesenggiri, dari laporan RRI dan kajian terkait.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 9 = ?
Berita Terkait