Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 3: Pesenggiri, Harga Diri yang Menjaga Martabat. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun!
Mari singgah sebentar di beranda ini. Kopi sudah diseduh, pisang goreng masih hangat. Saya ingin bercerita tentang sesuatu yang mungkin sering kita dengar, tapi jarang kita resapi: Pesenggiri.
Dahulu kala, di sebuah kampung di tepi Way, hiduplah seorang lelaki tua bernama Sutan Rajo Mangkuto. Ia bukan orang kaya. Rumahnya berdinding kulit kayu, beratap ijuk. Tapi semua orang di kampung itu menyebut namanya dengan hormat.
Suatu hari, datang seorang pedagang dari kota. Ia menawarkan uang banyak kepada Sutan Rajo Mangkuto. "Jual saja tanahmu itu," katanya. "Kamu bisa beli rumah besar, punya sawah luas, hidup senang."
Sutan Rajo Mangkuto tersenyum. Ia mengambil kuei yang disimpan istrinya untuk tamu. Ia letakkan di depan pedagang itu. "Makan dulu," katanya. "Kita bicara setelah perutmu kenyang."
Setelah pedagang itu makan, Sutan Rajo Mangkuto berkata pelan: "Tanah itu bukan punyaku. Itu punya anak cucuku yang belum lahir. Aku hanya diberi amanah untuk menjaganya."
Pedagang itu pergi dengan malu. Tapi ia tidak marah. Ia justru menghormati Sutan Rajo Mangkuto sampai akhir hayatnya.
Kata orang kampung: "Itulah Pesenggiri. Bukan uang yang dijaga, tapi martabat."
Pi'il Pesenggiri berasal dari kata pi'il yang berarti "perangai" atau "watak", dan pesenggiri yang berarti "harga diri". Jadi, Pi'il Pesenggiri adalah perangai yang menjaga harga diri. Bukan sombong. Bukan angkuh. Tapi sadar akan martabat yang harus dijaga.
Menurut adat, ada dua arti penting dalam Pi'il Pesenggiri.
Pertama, Pi'il itu sendiri: perasaan yang menggebu-gebu untuk menolak sesuatu yang dianggap merendahkan diri. Kalau ada yang menantang kehormatan, orang Lampung tidak diam. Ia bangkit. Bukan dengan emosi, tapi dengan kebijaksanaan.
Kedua, Pesenggiri: sifat-sifat kemanusiaan yang luhur, akhlak yang mulia, dan etika dalam bergaul. Orang yang punya Pesenggiri tidak akan menyakiti orang lain, tidak akan berbohong, tidak akan berkhianat.
Dalam kitab Kuntara Raja Niti, tertulis sebuah nasihat yang diwariskan dari tetua: "Ila ghik sai mak pandai ngelapok pesenggiri, ia mak pandai ngelapok agomo." Artinya: "Siapa yang tidak tahu menjaga harga diri, ia tidak tahu menjaga agama."
Kalimat ini bukan sembarangan. Orang tua dahulu memahami bahwa harga diri dan agama adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Salah satu wujud Pesenggiri adalah Juluk-Adok, gelar kehormatan. Dalam masyarakat Lampung, setiap orang yang sudah menikah mendapat gelar. Bukan sembarang gelar, tapi gelar yang mencerminkan kedudukan, tanggung jawab, dan harapan.
Di Saibatin, gelar diberikan setelah pernikahan melalui prosesi Butetah. Di Pepadun, gelar diperoleh melalui Cakak Pepadun, naik ke singgasana adat.
Ada aturan dalam Pelatøeran Sepandjang Hadat Pepadun yang menyebutkan: "Kalo øken naik Pepadun Mega, dia misti potong kerbaw satu buat naik, satu buat turun, tetapi yang satu bolih kerbaw mati, artinya bolih bayar uang sama mega-mega 10 riyal."
Artinya: jika ingin naik ke tingkat Pepadun Mega, harus memotong kerbau satu untuk naik, satu untuk turun. Yang satu boleh diganti dengan uang senilai sepuluh riyal.
Ini bukan soal membeli gelar. Ini soal kesungguhan. Orang yang sudah berkorban begitu banyak, diharapkan menghargai gelar itu dengan perilaku yang pantas. Gelar bukan pajangan. Gelar adalah amanah.
Nabi Muhammad SAW bersabda: "Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian."
Dalam Islam, nama adalah doa. Gelar adalah tanggung jawab. Orang yang menyandang gelar Suttan harus hidup seperti sultan, adil, bijaksana, melindungi. Orang yang menyandang gelar Punyimbang harus menjadi penyimbang, penengah, penasihat, pelindung.
Pesenggiri tidak membuat orang Lampung menjadi kaku. Justru sebaliknya. Orang yang punya harga diri tinggi biasanya juga punya hati yang luas.
Itulah Nemui Nyimah, ramah tamah, suka memberi, senang menerima tamu.
Menurut adat, Nemui Nyimah adalah cerminan bahwa seseorang memiliki kelebihan rezeki dan hati yang lapang. Ia tidak pelit. Ia tidak kikir. Ia tahu bahwa rezeki yang ia miliki adalah titipan Allah, dan sebagiannya adalah hak orang lain.
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
وَيُطۡعِمُوۡنَ الطَّعَامَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسۡكِيۡنًا وَّيَتِيۡمًا وَّاَسِيۡرًا
Wa yut''imuunat ta'aama 'alaa hubbihii miskiinanw wa yatemanw wa asiiraa
"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan." (QS. Al-Insan: 8)
Nemui Nyimah bukan sekadar tradisi. Ia adalah ibadah yang dikemas dalam budaya.
Ada satu nilai lagi dalam Pi'il Pesenggiri yang jarang dibicarakan: Nengah Nyappur.
Artinya, orang Lampung tidak suka mengasingkan diri. Ia berani bergaul, berani berdagang, berani merantau. Tapi di mana pun ia berada, ia tidak kehilangan jati dirinya.
Di zaman dahulu, orang Lampung dikenal sebagai pedagang yang ulung. Mereka menyusuri sungai, menyeberangi laut, menjual hasil bumi ke berbagai penjuru. Tapi mereka selalu pulang. Karena mereka tahu, di kampung halaman ada Pesenggiri yang menunggu.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk menjadi umat yang bermanfaat bagi orang lain. Nabi bersabda: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain."
Nengah Nyappur adalah wujud nyata dari ajaran itu.
Pilar terakhir adalah Sakai Sambayan, gotong royong.
Di kampung-kampung Lampung, Sakai Sambayan bukan sekadar kerja bakti. Ia adalah falsafah hidup. Ketika ada yang membangun rumah, tetangga datang membantu. Ketika ada yang punya hajat, semua ikut meringankan beban.
Menurut adat, Sakai Sambayan bermakna kerja sama, gotong royong, dan tolong-menolong dalam segala aspek kehidupan. Seperti kata pepatah: "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing."
Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 2)
Sakai Sambayan adalah cermin dari ayat ini. Ia bukan sekadar budaya. Ia adalah perintah agama yang dijalankan dengan cara yang indah.
Mungkin ada yang bertanya: apa hubungan Pi'il Pesenggiri dengan Pancasila?
Jawabannya: sangat erat.
Pesenggiri, harga diri dan kehormatan, sejalan dengan sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Karena orang yang punya harga diri tidak akan berbuat dosa. Ia sadar bahwa Allah selalu melihat.
Juluk-Adok, gelar dan tanggung jawab, sejalan dengan sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Karena gelar bukan untuk menyombongkan diri, tapi untuk melayani sesama.
Nemui Nyimah, ramah dan suka memberi, sejalan dengan sila ketiga: Persatuan Indonesia. Karena keramahan adalah perekat yang menyatukan.
Nengah Nyappur, terbuka dan bergaul, sejalan dengan sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Karena musyawarah adalah jalan untuk mencapai kesepakatan.
Sakai Sambayan, gotong royong, sejalan dengan sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Karena gotong royong adalah cara untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.
Lima pilar Pi'il Pesenggiri adalah Pancasila dalam wujud budaya Lampung.
Tabik pun!
Saya sudah terlalu lama bicara. Tapi izinkan saya menutup dengan satu cerita.
Ada seorang anak muda yang merantau ke kota besar. Ia sukses. Punya rumah megah, mobil mewah, jabatan tinggi. Suatu hari, ia pulang ke kampung. Ia melihat rumah lamanya sudah roboh. Ayahnya sudah meninggal. Ibunya sudah tua.
Ia menangis. "Kenapa tidak ada yang memberi tahu saya?" tanyanya.
Ibunya menjawab pelan: "Kamu sudah lama tidak pulang. Kami tidak mau mengganggu kesibukanmu."
Anak itu terdiam. Ia sadar, selama ini ia mengejar harga diri di luar, tapi melupakan harga diri yang sesungguhnya, di dalam rumahnya sendiri.
Pesenggiri bukan tentang apa yang orang lihat dari luar. Pesenggiri adalah tentang apa yang kita jaga dari dalam. Tentang bagaimana kita memperlakukan orang tua. Tentang bagaimana kita menjaga nama baik keluarga. Tentang bagaimana kita tetap menjadi orang Lampung, di mana pun kita berada.
Jangan tunggu adat menjadi sejarah. Catat sebelum hilang, ajarkan sebelum dilupakan.
Karena Pesenggiri bukan pajangan. Pesenggiri adalah ingatan. Pesenggiri adalah jati diri.
Tabik pun!
Daftar Pustaka:
1. Bahagianda, M. M. Kuntara Raja Niti: Naskah Kuno Adat Lampung. Bandar Lampung: Penerbit Budaya Lampung.
2. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
3. Wahyuningsih, Eko. Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang. Jakarta: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, 2013.
4. Medani, Mohammad. Piil Pesenggiri: Jejak Adat dan Filosofi Hidup Orang Lampung. Nataragung.id, 2026.
5. Syahputra, A. Sejarah Sekala Brak dan Penyebaran Islam di Lampung. Jurnal Sejarah Lampung, 2017.
6. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat. Sejarah Adat Lampung Barat. Liwa: Pemerintah Daerah, 2013.
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar