Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 6: Dari lampung untuk Indonesia, Adat yang Tidak Lekang. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 16 Oct 2026 01:40 • Admin NA • 33 kali dibaca
Seri Adat Bukan Pajangan. Adat adalah Ingatan dan Jati Diri. Seri 6: Dari lampung untuk Indonesia, Adat yang Tidak Lekang. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun! 
Mari duduk sebentar di beranda terakhir ini. Kopi sudah diseduh, angin sore membawa aroma tanah basah. Saya ingin menutup perjalanan panjang kita dengan satu cerita, cerita tentang bagaimana adat Lampung bukan hanya milik orang Lampung, tetapi juga cahaya bagi Indonesia.

Dahulu kala, di sebuah kota besar di Pulau Jawa, hiduplah seorang pemuda Lampung bernama Sutan Pangeran. Ia merantau untuk belajar. Di sana, ia tinggal di rumah seorang tua bernama Pak Haji Salim.
Suatu malam, Pak Haji Salim jatuh sakit. Anak-anaknya jauh. Hanya Sutan Pangeran yang ada di rumah itu.
Tanpa diminta, Sutan Pangeran memasak bubur. Ia menyuapi Pak Haji Salim. Ia menemani sampai pagi. Ia tidak tidur.
Ketika Pak Haji Salim sembuh, ia bertanya: “Kenapa kamu lakukan ini untuk orang yang bukan kerabatmu?”
Sutan Pangeran tersenyum. “Kata orang tua kami, Nemui Nyimah, kalau ada yang datang, beri makan. Kalau ada yang sakit, jenguk. Itu sudah diajarkan sejak kecil.”
Pak Haji Salim terdiam. Lalu ia berkata: “Kalau semua orang Indonesia punya adat sepertimu, negeri ini tidak akan pernah kekurangan kasih.”

Itulah adat. Ia tidak lekang oleh tempat. Ia tidak luntur oleh waktu.
Saya tidak akan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Ada tantangan nyata.
Globalisasi membawa budaya asing masuk lewat layar-layar kecil di tangan anak-anak kita. Gaya hidup berubah. Banyak generasi muda yang tidak lagi bisa berbahasa Lampung dengan baik. Banyak yang tidak tahu apa itu Piil Pesenggiri.
Ada yang malu mengakui dirinya orang Lampung. Ada yang merasa adat itu kuno, tidak cocok untuk zaman sekarang.

Menurut catatan penelitian, globalisasi memang berdampak besar pada pergeseran budaya di Lampung. Perubahan sosial budaya masyarakat majemuk di Lampung melahirkan dua pola interaksi: asimilasi dan akulturasi. Ada yang berbaur dan melebur. Ada yang saling menerima tanpa kehilangan jati diri.
Yang berbahaya adalah ketika kita tercerabut, bukan berbaur, tapi tercerabut dari akar.
Tapi saya tidak datang untuk membawa kabar buruk. Saya datang membawa jalan.

Menurut adat, ada tiga cara menjaga warisan.
Yang pertama: dokumentasikan. Catat sebelum hilang. Tulislah apa yang diingat tetua. Rekam suara mereka. Kumpulkan naskah-naskah kuno yang tersisa. Kuntara Raja Niti pernah disalin oleh Hadji Zakaria dari Pampangan pada 14 Februari 1924. Salinan itu masih ada. Tapi berapa banyak naskah lain yang sudah hilang?

Yang kedua: ajarkan. Ajarkan sebelum dilupakan. Ajarkan kepada anak cucu. Bukan dengan ceramah, tapi dengan contoh. Ajak mereka ke begawi. Biarkan mereka mendengar cangget. Biarkan mereka melihat bagaimana tetua berbicara dengan hormat.
Yang ketiga: hidupkan. Jangan jadikan adat pajangan yang hanya muncul setahun sekali. Hidupkan dalam keseharian. Ucapkan salam dengan Tabik pun. Berbahasa Lampung di rumah. Sambut tamu dengan Nemui Nyimah. Bantu tetangga dengan Sakai Sambayan.

Ada satu hal yang membuat saya bangga menjadi orang Lampung: falsafah hidup kami adalah Pancasila dalam wujud budaya.
Lihatlah lima pilar Piil Pesenggiri.
Pesenggiri, harga diri dan kehormatan, sejalan dengan sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa. Orang yang punya harga diri tidak akan berbuat dosa. Ia sadar Allah selalu melihat.
Nemui Nyimah, ramah dan suka memberi, sejalan dengan sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Keramahan adalah perekat yang menyatukan manusia.
Nengah Nyappur, terbuka dan bergaul, sejalan dengan sila ketiga: Persatuan Indonesia. Keterbukaan tanpa kehilangan jati diri adalah cara menjaga persatuan dalam keberagaman.
Musyawarah adat, sejalan dengan sila keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Dalam Kepunyimbangan, keputusan diambil bersama, bukan oleh satu orang.
Sakai Sambayan, gotong royong, sejalan dengan sila kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Gotong royong memastikan tidak ada yang tertinggal.
Lima pilar. Lima sila. Bukan kebetulan. Ini adalah takdir sejarah bahwa Lampung telah lama mempraktikkan apa yang kemudian dirumuskan oleh para pendiri bangsa.
Menurut syarak, adat yang tidak bertentangan dengan Islam boleh dipertahankan. Bahkan dianjurkan, selama membawa manfaat.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Barangsiapa memulai tradisi yang baik dalam Islam, maka ia mendapat pahala, dan pahala orang yang mengamalkannya.”
Nemui Nyimah adalah tradisi baik. Ia mengajarkan kedermawanan, yang dalam Islam disebut karam.
Nengah Nyappur adalah tradisi baik. Ia mengajarkan persaudaraan, yang dalam Islam disebut ukhuwah.
Sakai Sambayan adalah tradisi baik. Ia mengajarkan tolong-menolong, yang dalam Islam disebut ta’awun.

Allah berfirman: 
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تُحِلُّوۡا شَعَآٮِٕرَ اللّٰهِ وَلَا الشَّهۡرَ الۡحَـرَامَ وَلَا الۡهَدۡىَ وَلَا الۡقَلَٓاٮِٕدَ وَلَاۤ آٰمِّيۡنَ الۡبَيۡتَ الۡحَـرَامَ يَبۡـتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنۡ رَّبِّهِمۡ وَرِضۡوَانًا ‌ؕ وَاِذَا حَلَلۡتُمۡ فَاصۡطَادُوۡا‌ ؕ وَلَا يَجۡرِمَنَّكُمۡ شَنَاٰنُ قَوۡمٍ اَنۡ صَدُّوۡكُمۡ عَنِ الۡمَسۡجِدِ الۡحَـرَامِ اَنۡ تَعۡتَدُوۡا‌ ۘ وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu melanggar syiar-syiar kesucian Allah, dan jangan (melanggar kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan-hewan kurban) dan qala'id (hewan-hewan kurban yang diberi tanda), dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitulharam; mereka mencari karunia dan keridhaan Tuhannya. Tetapi apabila kamu telah menyelesaikan ihram, maka bolehlah kamu berburu. Jangan sampai kebencian(mu) kepada suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat melampaui batas (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksaan-Nya." (QS. Al-Ma’idah: 2)

Adat menjadi media dakwah. Islam menghargai budaya. Keduanya saling menerangi.
Saya sering bertanya: apa yang bisa Lampung sumbangkan untuk Indonesia?
Jawabannya bukan sekadar lada, kopi, atau pisang. Jawabannya lebih dalam dari itu.
Lampung bisa menyumbangkan cara hidup. Cara menyambut tamu dengan hangat. Cara menyelesaikan perselisihan dengan musyawarah. Cara menjaga harga diri tanpa menyakiti orang lain. Cara bergotong royong tanpa mengharap imbalan.

Di zaman ketika banyak orang kehilangan arah, ketika individualisme merajalela, ketika kejujuran menjadi barang langka, adat Lampung menawarkan sesuatu yang berharga.
Nilai-nilai ini bukan hanya milik orang Lampung. Ia milik semua orang yang percaya bahwa hidup ini bukan hanya tentang diri sendiri.
Ia milik Indonesia.

Tabik pun! 
Perjalanan kita sudah panjang. Dari kisah Si Pahit Lidah, kita belajar tentang asal usul. Dari Saibatin dan Pepadun, kita belajar tentang dua tiang yang menopang satu rumah. Dari Pesenggiri, kita belajar tentang harga diri. Dari upacara adat, kita belajar tentang doa yang berbalut tradisi. Dari tetua, marga, dan tanah, kita belajar tentang ikatan yang menghidupkan.
Sekarang, di penghujung perjalanan ini, izinkan saya menyampaikan satu hal.
Adat bukan pajangan. Adat bukan sesuatu yang kita keluarkan saat ada tamu, lalu kita simpan lagi di lemari. Adat adalah ingatan. Adat adalah jati diri.
Ketika seorang anak belajar mengatakan Tabik pun sebelum masuk rumah, itu bukan sekadar sopan santun. Itu adalah cara menghormati orang lain, yang dalam Islam disebut adab.
Ketika seorang ibu mengajarkan anak perempuannya membuat kuei untuk dibagikan ke tetangga, itu bukan sekadar memasak. Itu adalah Nemui Nyimah yang ditanamkan dalam tulang.
Ketika sekampung orang bergotong royong membangun rumah, itu bukan sekadar kerja bakti. Itu adalah Sakai Sambayan yang hidup.

Jangan tunggu adat menjadi sejarah. Selagi masih ada tetua yang bisa bertutur, selagi masih ada naskah yang bisa dibaca, selagi masih ada anak yang mau belajar, catatlah. Ajarkanlah. Hidupkanlah.
Catat sebelum hilang, ajarkan sebelum dilupakan.
Dari tetua kepada anak cucu. Dari Lampung untuk Indonesia.
Adat yang tak lekang oleh zaman.
Tabik pun!

Daftar Pustaka:
1. Bahagianda, Mohammad Medani. “Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang: Tata Krama Berbicara yang Mulai Terlupakan.” Nataragung.id, 27 Juni 2026.
2. Bahagianda, Mohammad Medani. “Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim, Tiga Tali Adat.” Nataragung.id, 3 Juli 2026.
3. Hadikusuma, Hilman. Hukum Adat Lampung. Bandar Lampung: Universitas Lampung Press.
4. Adat Istiadat Daerah Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
5. Pengendalian Sosial Tradisional Daerah Lampung. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1997.
6. Wahyuningsih, Eko. Koentara Radjaniti Oentoek Bergoena Atoeran Adat Lampoeng Peminggir, Poebian dan Toelang Bawang. Jakarta: Direktorat Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya, 2013.
7. Tinjauan Hukum Islam terhadap Peran Penyimbang dalam Sengketa Waris. Skripsi, Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, 2017.
8. Syahputra, A. “Sejarah Sekala Brak dan Penyebaran Islam di Lampung.” Jurnal Sejarah Lampung, 2017.
9. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Lampung Barat. Sejarah Adat Lampung Barat. Liwa: Pemerintah Daerah, 2013.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 9 = ?
Berita Terkait