Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Lampung dalam Sepiring Makanan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 08 Sep 2026 01:01 Admin NA
Seri Buku: Kuliner Tradisional Lampung. Lampung dalam Sepiring Makanan. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman. 
Izinkanlah saya, sebagaimana seorang punyimbang yang duduk santai di beranda tiyuh, membawa Anda menyelami secuil bumi Lampung. Bukan melalui peta, melainkan melalui periuk dan kuali, melalui rasa yang melekat di lidah dan makna yang meresap di hati. 
Judul buku ini memang Kuliner Khas Lampung, tetapi percayalah, ini bukan sekadar catatan resep. Ini adalah cerita tentang kita, tentang harga diri dan kebersamaan, tentang Islam dan Pancasila, yang dirangkum dalam sepiring makanan.

Di sebuah dapur tua di kaki Gunung Pesagi, seorang bebai (perempuan) sedang merendam singkong. Hari itu, ia akan membuat Seruwit, makanan sederhana dari parutan singkong yang diperas dan dikukus. Rasanya yang agak pahit dan teksturnya yang padat sering dianggap kasar oleh lidah modern. Namun, bagi orang Lampung, Seruwit adalah pengingat akan masa sulit nenek moyang.
"Sai bumi dipakai wat, sai khatong digawi wat, sai lom dipakai gham wat," sebuah petuah dari kitab adat Kuntara Raja Niti, berbisik di telinga kita. Kurang lebih artinya, "Apa yang dipijak adalah bumi, apa yang dititih adalah aturan, apa yang tak dipakai adalah kita yang merugi." Seruwit mengajarkan kita untuk tidak menyia-nyiakan karunia, sekecil apa pun. Kepahitannya adalah guru tentang kesabaran dan rasa syukur.

Nilai Pesenggiri (harga diri) di sini bukanlah gengsi, melainkan keteguhan untuk tetap menghargai warisan meskipun tampak sederhana. Bukankah Allah berfirman agar kita selalu bersyukur atas rezeki yang diberikan? Inilah Islam yang sederhana, yang mengajarkan kebaikan dalam setiap suapan.
Berbeda dengan Seruwit, Juwadah adalah ketan manis yang dimasak dengan santan, dibungkus daun pisang, dan dikukus hingga legit. Ia hadir sebagai teman setia Gulai Balak, gulai kaya rempah dengan potongan daging kerbau atau kambing yang gurih. Tradisi membuat Juwadah sering dilakukan secara gotong-royong oleh para perempuan di kampung. Sembari menanak ketan, mereka bercanda, bertukar cerita, dan menguatkan tali silaturahmi.

Inilah wujud nyata dari Sakai Sambayan (gotong royong) dan Nemui Nyimah (keramahan). Makanan ini selalu tersaji dalam hajatan besar. Menurut Punyimbang yang saya kenal, "Dulu, jika ada keluarga yang menggelar begawi, semua tetangga akan datang membawa Juwadah dan lauk. Itu tanda 'Nengah Nyappur,' keterbukaan dan rasa memiliki." Kita dipersatukan oleh satu talam besar. 
Sebuah harmoni yang sejalan dengan semangat Pancasila, khususnya sila ke-3, "Persatuan Indonesia." Nilai kebersamaan ini tidak pernah bertentangan dengan syariat, justru menguatkan ukhuwah Islamiyah. Sebagaimana sabda Nabi, "Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah," atau dalam bahasa Lampung, memberi itu lebih utama.
Tempoyak, durian yang difermentasi, mungkin adalah makanan yang paling kontroversial. Baunya menyengat, namun rasanya asam gurih yang khas. Membuat Tempoyak bukanlah pekerjaan instan; ia membutuhkan proses fermentasi yang memakan waktu berhari-hari. Ini mengajarkan kita tentang nilai Pesenggiri dalam arti yang lebih dalam, yaitu kesabaran.

Ketika durian berlimpah, nenek moyang kita tidak membiarkannya membusuk sia-sia. Mereka mengolahnya dengan garam dan disimpan dalam wadah tertutup. "Seperti kehidupan," kata seorang tetua adat Saibatin, "ada kalanya kita harus melewati proses yang panjang dan 'masam' untuk mendapatkan hasil yang berharga. Itulah Pi'il Pesenggiri, teguh pendirian menantikan waktu."

Kitab adat Kuno, seperti yang tersurat dalam naskah Kuntakha Khaja Niti, banyak mengajarkan tentang tata cara hidup yang bijaksana. Proses fermentasi Tempoyak adalah cerminan dari kearifan ekologis, sebuah bentuk adaptasi dan penghargaan terhadap alam yang diajarkan leluhur.
Istimewa pula Gulai Taboh. Dalam bahasa Lampung, "taboh" berarti "dituang" atau "dipersembahkan." Hidangan ini sering menjadi simbol dalam upacara adat, termasuk saat Maulid Nabi atau pernikahan, diiringi dengan pembacaan sholawat. Daging yang dimasak dengan santan dan rempah yang melimpah ini melambangkan kemakmuran dan rasa hormat. Ketika menyajikan Gulai Taboh, seorang tuan rumah menunjukkan Pesenggiri-nya, kehormatan dan kemuliaan keluarganya di hadapan tamu.
Ini sejalan dengan falsafah Bejuluk Beadek (gelar kehormatan). Gelar Punyimbang, Dalom, Kimas, atau Raden bukanlah sekadar nama, melainkan amanah untuk menjaga adat dan melindungi masyarakatnya. Menyajikan hidangan terbaik adalah bagian dari menjaga amanah tersebut. Dalam Islam, memuliakan tamu adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Sebuah harmoni antara kearifan lokal dan syariat, di mana nilai-nilai keislaman dan adat istiadat berjalan beriringan.
Demikianlah, cerita-cerita ini bukanlah dongeng pengantar tidur. Ia adalah nasihat hidup yang disampaikan melalui lidah. Setiap makanan, dari yang pahit hingga yang gurih, menyimpan filosofi tentang Pi'il Pesenggiri, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, Sakai Sambayan, dan Bejuluk Beadek. 
Ia mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang memiliki harga diri, ramah, terbuka, gotong-royong, dan menjunjung tinggi kehormatan, semua dalam bingkai keislaman dan nilai-nilai luhur Pancasila. Inilah Lampung dalam sepiring makanan; sebuah peradaban yang terus hidup dan patut kita lestarikan. <>

Daftar Pustaka:
1. Medani Bahagianda, Mohammad. "Seri Buku: Makanan Khas Lampung Kue Cucur dan Pi’il Pesenggiri, Keteguhan dalam Kehidupan." Portal Berita Natar Agung, 11 Juni 2026. 
2. Eka, Sofia Agustina. "KONSEPSI PIIL PESENGGIRI MENURUT MASYARAKAT ADAT LAMPUNG WAYKANAN DI KABUPATEN WAYKANAN." Repository Universitas Lampung, 2015. 
3. "Kuntakha Khaja Niti - Naskah Kuno dan Prasasti." Perpustakaan Digital Budaya Indonesia. 
4. DN Times Lampung. "Panganan Khas Lampung saat Perayaan Maulid Nabi Muhammad." 27 September 2023.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 5 = ?
Berita Terkait