Unila 61 Tahun: Momentum Melaksanakan Gagasan Untuk Mengabadikan Nama Para Patriot Pendiri Unila
Oleh: Prof. Admi Syarif, Ph.D.
Guru Besar Unila dan Penulis Buku _50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri_
nataragung.id - Bandar Lampung - Ada sebuah pengalaman yang terus teringat ketika beberapa waktu lalu saya mulai mengumpulkan cerita dan kesaksian para tokoh yang berada di balik perjalanan panjang Universitas Lampung.
Saat itu saya mendatangi para sesepuh Unila. Tujuan saya sederhana: ingin mendengar langsung cerita mereka tentang masa-masa awal Universitas Lampung—tentang bagaimana kampus ini dibangun, bagaimana keputusan-keputusan besar diambil, dan bagaimana para pemimpin terdahulu menghadapi keterbatasan yang jauh berbeda dengan kondisi Unila hari ini.
Cerita-cerita itu saya kumpulkan untuk sebuah buku yang saya tulis , “50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri.”
Di antara cerita-cerita, ada dua nama yang berulang kali membawa saya kembali kepada pertanyaan tentang bagaimana sebuah universitas seharusnya menghargai para pendahulunya:
Prof. Dr. Sitanala Arsyad dan Prof. Margono Slamet. Rektor Pertama dan Rektor Kedua Universitas Lampung. Semakin banyak cerita yang saya dengar dan kumpulkan, semakin saya merasa bahwa sejarah mereka tidak cukup hanya ditulis dalam sebuah buku.
Mereka berdua harus dikenalkan kepada generasi berikutnya. Dan kalau memungkinkan, nama mereka harus menjadi bagian dari ruang fisik Universitas Lampung.
Ir. Arinal Djunaidi, , Gubernur Lampung kala itu, pada saat pelepasan jenazah Prof. SItanala di GSG Unila dengan jelas menyebutnya sebagai pahlawan pendidikan dari Lampung. Seorang aktivis, sahabat saya, bahkan menyebut SITANALA sebagai _SInar TANAh LAmpung_.
Sementara Prof. Margono Slamet merupakan salah satu tokoh penting dalam fase awal pembangunan dan perkembangan Unila. Ketika berbincang dan menggali cerita masa lalu, saya semakin menyadari bahwa banyak detail sejarah pembangunan Unila hadir ditangan mereka.
Melihat warisan moral dan fisik beliau itulah saya pernah mengusulkan gagasan mengabadikan nama Prof. Dr. Sitanala Arsyad dan Prof. Margono Slamet perlu diabadikan menjadi nama jalan atau gedung di lingkungan Universitas Lampung.
Gagasannya sederhana.
Tetapi maknanya besar.
Bayangkan seorang mahasiswa baru berjalan di lingkungan kampus dan menemukan sebuah papan nama:
Jalan atau gedung Prof. Dr. Sitanala Arsyad
Ia mungkin bertanya:
“Siapa beliau?”
Kemudian ia mendapatkan jawaban:
“Beliau adalah rektor pertama Universitas Lampung.”
Lalu mahasiswa itu bertanya lagi:
“Apa yang beliau wariskan?”
Di situlah pendidikan sejarah dimulai.
Begitu pula dengan nama:
Gedung Prof. Margono Slamet.
Nama sebuah gedung dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan panjang universitasnya.
Bulan ini Universitas Lampung memasuki usia ke-61. Dan, pemilihan rektor baru pun sudah dimulai.
Kita tentu patut bangga dengan berbagai capaian Unila hari ini.
Tetapi usia 61 tahun juga seharusnya menjadi momentum untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang.
Sayangnya, gagasan tentang pengabadian nama Prof. Sitanala Arsyad dan Prof. Margono Slamet yang sudah pernah saya sampaikan beberapa tahun lalu hingga hari ini belum juga menjadi kenyataan.
Padahal waktu terus berjalan.
Dan kini, kepemimpinan Universitas Lampung juga segera memasuki babak baru.
Pertanyaan inilah yang ingin saya ajukan pada Dies Natalis ke-61 Unila:
Apakah penghormatan kepada para pendahulu harus menunggu program rektor baru?
Kalau akhirnya rektor baru yang mewujudkannya, tentu kita akan menyambutnya dengan gembira.
Yang penting adalah nama dan keteladanan mereka akhirnya mendapat tempat yang layak di kampus yang ikut mereka bangun.
Universitas yang besar bukan hanya universitas yang memiliki gedung megah dan prestasi akademik.
Universitas yang besar adalah universitas yang tahu dari mana ia berasal.
Mungkin inilah saatnya
Kita tentu tidak mempersoalkan bentuknya.Yang kita persoalkan adalah jangan sampai kita terlambat menghargai sejarah.
Sebab ada ironi besar jika sebuah universitas mampu membangun gedung baru setiap tahun, tetapi tidak mampu menyediakan satu ruang untuk mengabadikan nama orang-orang yang membangun fondasinya.
Jangan sampai kita begitu sibuk membangun masa depan, lalu lupa siapa yang membangun masa lalu.
Pada akhirnya, pergantian pimpinan adalah sesuatu yang biasa dan keniscayaan. Tetapi kehilangan ingatan tentang orang-orang yang membangun Unila adalah kehilangan yang luar biasa. https://youtu.be/xiKJsltAeJg?si=h0d1qRJIZBgprCxr
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar