17-an Dan Nasionalisme Kaum Muda. Catatan lepas: Gunawan Handoko. Mantan aktivis Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

ARTIKEL 14 Aug 2026 10:51 Admin NA
17-an Dan Nasionalisme Kaum Muda. Catatan lepas: Gunawan Handoko. Mantan aktivis Organisasi Kemasyarakatan Pemuda, tinggal di Bandar Lampung

nataragung.id - Bandar Lampung - SETIAP kali memasuki bulan Agustus, masyarakat mulai sibuk mempersiapkan pesta rakyat dengan menghias pagar dan halaman rumah masing-masing serta mengibarkan bendera Merah Putih satu tiang penuh. Tanpa menunggu perintah, anak-anak muda dengan didukung orang tua mulai mengemas acara tujuh belasan yang akan dilombakan. Lagu-lagu perjuangan berkumandang menambah semangat acara lomba. Dan ketika tanggal 17 Agustus tiba, semua kampung mengadakan pesta rakyat dengan menggelar bermacam kesenian tradisional.

Semangat persatuan dan gotong royong begitu kental. Itulah kenangan di masa kecil dulu yang tetap membekas dalam ingatan hingga hari ini.

Bagaimana dengan sekarang, masihkah kita dan kaum muda memiliki semangat nasionalisme dan cinta Tanah Air? Lalu terpanggil untuk menyemarakkan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di lingkungannya?

Jangan dulu bicara tentang nasionalisme dan cinta Tanah Air, jika untuk mengibarkan bendera Merah Putih saja merasa terpaksa. Jangan dulu bicara tentang bela negara jika untuk merayakan kemerdekaan negeri sendiri saja tidak mau. Fenomena yang terjadi sekarang sungguh memprihatinkan. Banyak yang berpendapat untuk apa mikirin orang lain, urus saja diri masing-masing. Kalimat tersebut terdengar rasional, tapi berbahaya. Sebagian kaum muda lebih memilih diam di kamar sambil membuat konten dan TikTok ketimbang harus berpanas-panasan di lapangan menggelar lomba 17-an. Mereka lupa bahwa secara kodrati manusia itu makhluk ganda, sebagai makhluk individu dan makhluk sosial.

Makhluk individu berarti butuh pangan dan sandang serta memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Makhluk sosial berarti butuh bantuan orang lain, sejak masih dalam kandungan hingga meninggal nanti. Artinya, kita butuh teman, tetangga, komunitas dan juga negara. Acara peringatan 17-an itu sekolahnya makhluk sosial. Disitu bisa belajar membuang ego, bekerjasama, berbagi tugas, menghargai perbedaan, dan berani mengalah demi kepentingan yang lebih besar.

Kalau kaum muda lebih memilih berdiam diri di kamar sambil bercengkerama dengan tablet, maka yang rugi bukan bangsa dan negara, tapi dirinya sendiri. Memang, sifat individualisme bisa melahirkan generasi hebat secara pribadi, tapi miskin secara komunitas. Jujur harus diakui, saat ini rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air serta bela negara sudah semakin pudar, khususnya generasi muda.

Mengapa semua ini bisa terjadi, salah satu jawabnya adalah bahwa kita telah lupa sejarah. Perjalanan sejarah bangsa yang seharusnya dapat menjadi pedoman dalam meneruskan perjuangan para pendahulu, kini telah ditinggalkan. Fenomena ini harus dilihat sebagai sebuah ancaman yang sangat serius dalam konteks perjalanan bangsa ke depan. Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan apabila generasi di era 10 tahun kedepan tidak dapat menerima secara utuh saat disodorkan cerita tentang sejarah proklamasi kemerdekaan, tentang kebangkitan nasional, sumpah pemuda dan sejarah pergerakan nasional lainnya. Inilah tantangan yang harus mendapat jawaban, khususnya lembaga Pemerintah yang bersentuhan langsung dengan masyarakat.

Peringatan HUT Kemerdekaan RI merupakan alarm refleksi atas gejala memudarnya rasa nasionalisme. Fenomena ini terlihat nyata, dimana perayaan kerap direduksi sekedar seremonial belaka. Pudarnya rasa bangga terhadap negeri sendiri, hingga lunturnya kepedulian sosial di tengah gempuran arus globalisasi dan individualisme. Sulit mengajak kaum muda mencintai negerinya, ketika perilaku elite atau generasi tua kerap mempertontonkan lomba korupsi, bagi-bagi proyek, dan egoisme kelompok. Ini memicu kekecewaan yang mendalam dan sikap apatis kaum muda. Masuknya budaya asing secara bebas lewat media sosial membuat generasi muda lebih mengidolakan budaya luar ketimbang memahami sejarah bangsanya sendiri.

Tahu dengan K-Pop, tapi tidak tahu pahlawan Lampung. Hafal lirik lagu luar, tapi gagap ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bahkan sering ditemui, peringatan 17-an tidak pernah memperdengarkan lagu-lagu perjuangan dalam acara lomba maupun puncak resepsi. Ironis dan menyedihkan. Kesenjangan sosial ekonomi, seperti beban hidup yang berat membuat sebagian masyarakat merasa ‘negara tidak hadir’ untuk mereka. Ketika jalan lingkungan rusak, lapangan kerja susah, harga pangan dan BBM mahal, lalu disuruh lomba dan gerak jalan? Timbul pertanyaan: untuk apa? Sehingga muncul sikap apatis dan masa bodoh terhadap kewajiban bernegara. Maka kegiatan 17 Agustus semestinya bukan hanya soal lomba makan kerupuk atau dekorasi lingkungan, melainkan ajang untuk evaluasi. Nasionalisme modern menuntut tindakan nyata dalam menjaga persatuan dan kebersamaan, peduli pada sesama, semangat gotong royong dan menjaga toleransi. Bukan sekadar pekik ‘Merdeka’ di lapangan, lalu pulang. Maka siapapun kita, tanpa membedakan agama mestinya terpanggil untuk merayakannya.

Jangan ada yang membuat dinding pembatas antara kelompok agama dan kelompok nasionalis. Ada fakta sejarah yang terlupakan, sehingga sering muncul anggapan bahwa masalah HUT RI bukan urusan ulama. Tugas ulama adalah memakmurkan masjid, menggelar pengajian. Padahal peran ulama sangat besar dalam merebut kemerdekaan. Sebut saja KH. Hasyim Asyari, beliau bukan cuma ulama besar. Beliau pejuang kemerdekaan dan pencetus ‘Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Beliau yang mengeluarkan fatwa bahwa membela tanah air dari penjajah hukumnya fardhu ‘ain. Fatwa inilah yang telah mengobarkan api semangat ‘arek-arek’ Surabaya berontak pada 10 November 1945 dan melahirkan Hari Pahlawan. Beliau yang berkata Hubbul wathan minal iman- Cinta tanah air sebagian dari iman. KH. Hasyim Asyari merupakan guru para pendiri bangsa ini, karena Soekarno, Hatta, dan Gus Dur semua pernah berguru atau terinspirasi pemikiran beliau.

Maka jangan membuat dinding pembatas, antara kelompok agama dan kelompok nasionalis. Jika ulama dulu berdarah-darah demi Merah Putih, masihkan ulama hari ini hanya berdiam diri? Jika masih ada yang bertanya, seberapa pentingkah memasang bendera Merah Putih dan mengadakan peringatan 17-an? Jawabnya sangat penting karena didalamnya terkandung sebuah proses yang luar biasa. Proses yang dinamakan pembelajaran dan penanaman pemahaman akan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan. Jangan sampai cita-cita Indonesia Emas 2045 gagal oleh sikap apatisnya generasi muda.  
Dirgahayu 81 Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, Jayalah Pemuda!!!

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 4 = ?
Berita Terkait