Asimilasi Budaya dan Integrasi Sosial untuk Indonesia yang Rukun Perspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL • 26 Sep 2026 01:46 • Admin NA • 10 kali dibaca
Asimilasi Budaya dan Integrasi Sosial untuk Indonesia yang Rukun Perspektif Psikologi Terapan

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Indonesia dibangun di atas kenyataan sosial yang sangat beragam. Perbedaan suku, agama, bahasa, adat istiadat, asal-usul keluarga, serta latar belakang budaya merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam kondisi demikian, menjaga kerukunan bukan sekadar persoalan moral, melainkan juga persoalan psikologis dan sosial. Bagaimana seseorang memandang kelompok lain, bagaimana identitas kelompok dibentuk, serta bagaimana pengalaman hidup bersama memengaruhi rasa percaya, semuanya ikut menentukan kuat atau rapuhnya kohesi sosial. Dalam konteks ini, istilah pribumi dan nonpribumi perlu dipahami secara historis dan kritis. Identitas seseorang tidak pernah hanya terdiri atas satu kategori. Seseorang dapat sekaligus menjadi anggota keluarga, komunitas keagamaan, kelompok etnis, warga daerah, warga negara Indonesia, dan bagian dari komunitas kemanusiaan yang lebih luas. Karena itu, perbedaan identitas tidak semestinya menjadi tembok pemisah.

Psikologi sosial memberikan salah satu kunci untuk memahami persoalan tersebut melalui konsep identitas sosial. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa identitas yang lebih inklusif dan pengalaman kontak antarkelompok dapat membantu membangun hubungan sosial yang lebih positif. Reimer, Kamble, Schmid, Hewstone, dan rekan-rekannya (2022), misalnya, menunjukkan bahwa kontak antarkelompok dapat mendorong terbentuknya identitas sosial yang lebih inklusif.  Dengan demikian, semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan kenegaraan, tetapi dapat dibaca sebagai prinsip psikologis yaitu kita boleh berbeda dalam identitas kelompok, tetapi memiliki identitas bersama sebagai bangsa Indonesia.

_Asimilasi, Akulturasi, dan Integrasi: Tidak Harus Menghapus Identitas._
Dalam pembahasan hubungan kelompok mayoritas dan minoritas, istilah asimilasi sering dipahami sebagai proses ketika kelompok yang berbeda semakin menyerupai budaya dominan. Namun, dari perspektif psikologi lintas budaya, integrasi tidak selalu berarti seseorang harus meninggalkan identitas asalnya. Kajian tentang bicultural identity integration menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki lebih dari satu identitas budaya dan menghayatinya secara relatif harmonis. Spiegler, Schmid, Saleem, Hewstone, dan Benet-Martínez (2022), misalnya, meneliti hubungan antara identitas nasional, identitas keagamaan, integrasi identitas bikultural, dan kompleksitas identitas sosial. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya memahami identitas sebagai sesuatu yang dapat berlapis, bukan semata-mata pilihan antara “menjadi kelompok A” atau “menjadi kelompok B”.

Pandangan ini relevan bagi Indonesia. Seorang warga keturunan tertentu tidak harus kehilangan warisan budaya keluarganya untuk menjadi Indonesia. Demikian pula, seseorang yang berasal dari komunitas budaya mayoritas tidak harus merasa kehilangan identitas ketika hidup berdampingan dengan kelompok lain. Karena itu, pendekatan yang lebih konstruktif adalah integrasi berbasis identitas yang inklusif yaitu mempertahankan unsur budaya yang positif sekaligus membangun ruang bersama sebagai warga negara.

Pertiwi dan Faturochman (2023), melalui studi mengenai hubungan antarumat beragama di Jawa Tengah, menemukan bahwa harmoni dapat dibangun melalui pembentukan common ingroup identity, yaitu identitas bersama yang tetap mengakui keberadaan identitas kelompok-kelompok yang berbeda. Identitas bersama tersebut dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kelompok tanpa mengharuskan mereka menghilangkan identitas masing-masing. Dalam bahasa sederhana yaitu kita tidak harus menjadi sama untuk dapat hidup bersama. Kita perlu memiliki tujuan bersama meskipun tetap berbeda.

_Dari “Kami dan Mereka” Menjadi “Kita”: Psikologi Kohesi Sosial._
Salah satu persoalan dalam masyarakat majemuk adalah munculnya kategorisasi sosial: “kelompok kami” dan “kelompok mereka”. Kategorisasi semacam ini pada dasarnya merupakan mekanisme psikologis yang wajar. Persoalannya muncul ketika perbedaan kategori berkembang menjadi prasangka, stereotip, diskriminasi, atau ketidakpercayaan. Karena itu, interaksi nyata antarkelompok menjadi sangat penting. Kontak yang positif memungkinkan seseorang mengenal manusia di balik label kelompok. Ketika tetangga yang berbeda etnis bekerja sama membersihkan lingkungan, ketika pemuda berbeda agama berkolaborasi dalam kegiatan sosial, atau ketika warga berbeda latar budaya bersama-sama membangun fasilitas umum, batas psikologis antara “kami” dan “mereka” dapat menjadi lebih cair.

Yogeeswaran, Verkuyten, dan Ealam (2021) menunjukkan bahwa pendekatan interculturalism yang menekankan interaksi dan hubungan antarkelompok tanpa menghapus keberagaman dapat meningkatkan kemauan melakukan kontak antarkelompok, kepercayaan, dan kerja sama dalam beberapa eksperimen. Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa hasilnya tidak selalu lebih unggul daripada pendekatan multikulturalisme, sehingga tidak ada satu pendekatan tunggal yang dapat diterapkan secara mekanis pada semua masyarakat.  Dalam konteks Indonesia, temuan tersebut menguatkan pentingnya ruang perjumpaan. Integrasi sosial tidak cukup dibangun melalui slogan toleransi. Ia perlu diwujudkan melalui pengalaman konkret: gotong royong, pendidikan multikultural, kegiatan ekonomi bersama, organisasi kemasyarakatan, olahraga, seni, pelayanan publik, serta dialog antarwarga.

Di Indonesia juga menemukan hubungan antara keanggotaan dalam organisasi sosial dan meningkatnya kepercayaan sosial masyarakat. Dengan menggunakan data World Values Survey 2020, penelitian tahun 2024 menunjukkan bahwa keterlibatan dalam organisasi berkaitan dengan peningkatan kepercayaan sosial. Di sinilah psikologi terapan memiliki peran penting. Masyarakat dapat didorong untuk menciptakan situasi psikologis yang memperbanyak pengalaman “kita”. Semakin sering orang bekerja sama dengan mereka yang berbeda latar belakang untuk mencapai tujuan yang sama, semakin besar peluang tumbuhnya kepercayaan, empati, dan rasa memiliki terhadap komunitas bersama.

Kondisi tersebut sangat selaras dengan pesan Al-Qur’an: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13). Ayat tersebut menarik jika dibaca dalam perspektif psikologi sosial. Perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan, melainkan kesempatan untuk ta'aruf saling mengenal. Tujuan akhirnya bukan menyeragamkan manusia, melainkan membangun relasi yang dilandasi penghormatan terhadap martabat manusia. Nabi Muhammad SAW juga menggambarkan pentingnya hubungan sosial melalui hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti sebuah bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.”. Pesan tersebut dapat diperluas dalam kehidupan kebangsaan: masyarakat yang kuat bukan masyarakat yang seluruh anggotanya identik, melainkan masyarakat yang bagian-bagiannya saling menguatkan.

_Agenda Psikologi Terapan untuk Indonesia yang Rukun_
Jika integrasi sosial ingin benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, pendekatannya perlu bergerak dari wacana menuju praktik. Setidaknya terdapat beberapa langkah yang dapat dikembangkan. Pertama, pendidikan perlu membangun identitas yang berlapis dan inklusif. Anak-anak perlu memahami bahwa menjadi bagian dari suku, agama, atau budaya tertentu tidak bertentangan dengan menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kedua, ruang perjumpaan antarkelompok harus diperbanyak. Pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, tempat ibadah, dan komunitas warga dapat menciptakan kegiatan bersama yang berorientasi pada kerja sama, bukan sekadar pertemuan seremonial.

Ketiga, prasangka perlu dilawan melalui pengalaman, bukan hanya nasihat. Seseorang mungkin memiliki stereotip terhadap kelompok lain karena informasi yang terbatas. Interaksi langsung yang positif dapat memberikan pengalaman baru yang lebih manusiawi dan konkret. Keempat, media digital perlu menjadi ruang perjumpaan yang sehat. Algoritma media sosial dapat memperkuat kelompok-kelompok yang hanya berinteraksi dengan orang yang sepemikiran. Karena itu, literasi digital dan kemampuan memeriksa informasi menjadi bagian penting dari kesehatan psikologis masyarakat modern. Kelima, identitas kebangsaan perlu ditempatkan sebagai identitas bersama yang inklusif. Penelitian Pertiwi dan Faturochman (2023) di Indonesia menunjukkan pentingnya identitas bersama yang mampu menaungi identitas kelompok tanpa menghapusnya. Dengan demikian, Bhinneka Tunggal Ika bukan berarti “berbeda tetapi dipaksa menjadi sama”. Sebaliknya, ia mengandung gagasan bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan di bawah tujuan bersama.

Akhirnya penting untuk dipahami bawa bangsa Indonesia tidak membutuhkan masyarakat yang seragam. Indonesia membutuhkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan secara dewasa. Dari perspektif psikologi sosial, kerukunan tumbuh ketika manusia mampu melihat orang lain bukan hanya sebagai anggota kelompok yang berbeda, tetapi juga sebagai sesama manusia dan sesama warga negara. Identitas etnis, agama, budaya, maupun asal-usul tidak perlu dihapus. Yang perlu dibangun adalah identitas bersama yang lebih luas, inklusif, dan manusiawi. Karena itu, asimilasi hendaknya tidak dimaknai sebagai penghapusan identitas, melainkan sebagai proses perjumpaan budaya yang memungkinkan lahirnya kehidupan bersama. Integrasi sosial pun bukan tuntutan agar semua orang menjadi sama, melainkan kemampuan untuk bekerja sama dalam perbedaan. Pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan jalan, gedung, teknologi, dan pertumbuhan ekonomi. Kita juga membutuhkan kepercayaan sosial, empati, solidaritas, dan kemampuan hidup bersama. Sebab pembangunan akan lebih kuat apabila masyarakatnya merasa bahwa mereka bukan “kami” dan “mereka”, melainkan kita. Bhinneka Tunggal Ika dengan demikian bukan sekadar semboyan yang tertulis di bawah lambang negara. Ia adalah tugas psikologis dan sosial setiap warga yaitu berbeda tanpa bermusuhan, beragam tanpa terpecah, dan bersama-sama membangun Indonesia. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

8 + 8 = ?
Berita Terkait