Trump Kalah di Ronde Pertama, Demokrat Kuasai DPR dan Senat. Oleh: M. Habib Purnomo. Aktivis PWNU Lampung, Tinggal di Bandar Lampung

ARTIKEL • 08 Nov 2026 08:22 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 48 kali dibaca
Trump Kalah di Ronde Pertama, Demokrat Kuasai DPR dan Senat. Oleh: M. Habib Purnomo. Aktivis PWNU Lampung, Tinggal di Bandar Lampung

nataragung.id - Bandar Lampung - Sesuai dengan hasil berbagai survei sebelumnya, Partai Republik milik Trump kalah telak dari Partai Demokrat pada pemilihan legislatif dan Senat Amerika Serikat dalam pemilu paruh waktu yang dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 3 November 2026.

Dengan kekalahan Partai Republik ini, Trump tidak lagi bisa bertindak segila seminggu sebelum pemilihan itu.

Kini, Trump berhadapan dengan Partai Demokrat di DPR dan Senat ibarat banteng tak bertanduk, ayam jago tak bertaji.

Apabila Trump melakukan langkah yang ilegal tanpa persetujuan DPR dan Senat yang dikuasai Partai Demokrat, Trump bisa dilengserkan, bahkan bisa dibawa ke ranah pidana, seperti Jenderal Listyo yang sekarang dikerangkeng.

Langkah-langkah Trump yang kontroversial dan menjadi monster bak Jengis Khan, baik kepada mitra koalisi Baratnya di Eropa, apalagi kepada lawannya, menyebabkan banyak pihak, termasuk warga Amerika sendiri, sebagian besar merasa jijik terhadap Trump.

Siapa yang didukung Trump justru kalah, baik calon yang di dalam negeri Amerika maupun di luar negeri. Hal itu adalah cermin ketidaksukaan publik terhadap Trump.

Pada November tahun lalu, Zohran Mamdani, calon wali kota New York yang tidak didukung Trump, justru yang terpilih. Pada pemilihan legislatif dan Senat minggu lalu, calon-calon yang diserang dan tidak didukung Trump juga justru yang kemudian terpilih.

Sialnya lagi, di Israel, Benjamin Netanyahu, sahabat Trump, berdasarkan hasil pemilu 27 Oktober 2026 yang lalu, dipastikan tidak bisa memimpin lagi negara zionis itu, karena partai oposisi Netanyahu yang berkoalisi dengan partai Arab setempat mampu mengalahkan suara partai Netanyahu.

Di Brasil, Presiden incumbent Lula da Silva, yang menjadi komandan BRICS, lawan Amerika, pada Oktober 2026 kemarin menang kembali melawan calon presiden yang pro zionis Israel dan didukung Trump.

Beruntunnya kekalahan calon-calon yang didukung Trump, selain karena kebijakan Trump di sektor perdagangan, juga karena faktor Trump dan Netanyahu yang menyerang Gaza, Palestina, dan Iran, mitra koalisi Rusia dan Cina.

Serangan Amerika dan Israel ke Iran yang sudah diantisipasi pihak koalisi Iran, Rusia, dan Cina, menjadi bumerang dan blunder. Di Eropa terjadi krisis energi dan krisis ekonomi yang menyebabkan krisis politik, begitu juga di banyak negara lainnya, bahkan warga Amerika pun menderita akibat serangan Amerika ke Iran itu.

Perang yang dilakukan Amerika di Timur Tengah, selain faktor minyak, juga dalam rangka membela Israel dan mempertahankan dominasi Amerika di Timur Tengah.

Amerika menciptakan perang di Ukraina melawan Rusia sebagai langkah catur politiknya, supaya Rusia sibuk di Ukraina melawan NATO dan tidak sempat ikut campur membantu mitra koalisinya di Timur Tengah.

Bashar al-Assad, Presiden Suriah, mitra Rusia, Cina, dan Iran, tumbang dan diganti Abu Julani yang didukung Amerika, karena Rusia sedang sibuk perang melawan NATO di Ukraina. Kini, Bashar al-Assad mengungsi ke Moskow, dan Abu Julani setidaknya sudah dua kali sowan ke Presiden Trump. Kini kabarnya, Presiden Suriah yang baru, Abu Julani atau Ahmad al-Syaraa, yang asli keluarganya dari Dataran Tinggi Golan, yang merupakan benteng alam Damaskus, Suriah, justru tidak lagi memasukkan Dataran Tinggi Golan ini dalam peta Suriah yang baru, dan Dataran Tinggi Golan sekarang dicaplok Israel.

Kesuksesan Amerika dan Israel menggulingkan Bashar al-Assad, yang negerinya berbatasan dengan Israel, menyebabkan Israel dan Amerika percaya diri untuk langsung menyerang Iran yang membela Palestina. Serangan itu ternyata berakibat fatal, karena Iran dibantu Rusia dan Cina, bukan hanya mampu bertahan, bahkan bisa menghabisi pangkalan militer Amerika di Timur Tengah dan menyerang langsung Israel.

Kini, sungguh pun mayoritas negara-negara anggota PBB sudah mengakui kemerdekaan Palestina, kecuali Amerika, Israel, Argentina, Papua Nugini, dan beberapa negara kecil proksi Amerika, tetapi dengan hak vetonya, Amerika bisa mengganjal kemerdekaan Palestina itu. Nampaknya, konflik Israel dengan Palestina masih menjadi episentrum konflik global sekarang ini.

Trump, walau sekarang kalah di DPR dan Senat Amerika, namun tetap sebagai Presiden Amerika hingga akhir masa jabatannya pada tahun 2029 nanti.

Drama apalagi yang akan dimainkan Trump di pentas dunia setelah kekalahannya pada pemilu paruh waktu di Amerika minggu yang lalu? (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 9 = ?
Berita Terkait