Motivasi Belajar di Balik Konten Edukatif Para Influencer. Oleh: M.Firly Pasha. Mahasiswa Tadris Matematika, UIN Jurai Siwo Lampung

ARTIKEL • 07 Nov 2026 15:47 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 10 kali dibaca
Motivasi Belajar di Balik Konten Edukatif Para Influencer. Oleh: M.Firly Pasha. Mahasiswa Tadris Matematika, UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Media sosial kini tidak hanya menjadi ruang untuk hiburan dan komunikasi, tetapi juga menjadi tempat peserta didik menemukan berbagai sumber belajar. Salah satu bentuknya adalah konten edukatif yang dibuat oleh influencer, guru, mahasiswa, maupun kreator yang membagikan pengetahuan melalui video singkat, tutorial, penjelasan materi, dan pengalaman belajar. Konten semacam ini menarik karena materi pendidikan dikemas dengan bahasa yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari dan disajikan melalui media yang sudah akrab bagi peserta didik.

Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, Yusri et al. (2018) menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar setelah penggunaan media YouTube berbasis berbagai pendekatan. Rata-rata motivasi belajar meningkat dari 33,74 pada tes awal menjadi 48,28 pada siklus kedua. 
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik media digital dapat menjadi pintu masuk untuk membangun ketertarikan peserta didik terhadap pembelajaran.

Namun, munculnya influencer sebagai penyampai pesan pendidikan membawa perubahan yang lebih luas daripada sekadar perpindahan materi pembelajaran dari buku ke layar. Peserta didik tidak hanya menerima informasi, tetapi juga melihat figur yang menyampaikan informasi tersebut. Cara berbicara, gaya penyajian, pengalaman pribadi, serta interaksi dengan pengikut dapat membuat proses belajar terasa lebih dekat dan personal.

Dewanti dan Sujarwo (2021) menekankan pentingnya media pembelajaran yang inovatif untuk menarik minat peserta didik. Mereka menyatakan bahwa “to captivate the student's interest in the learning activity, the teacher needs to use innovative media” (Dewanti & Sujarwo, 2021). Kutipan tersebut dapat dipahami bahwa motivasi belajar tidak hanya berkaitan dengan isi materi, tetapi juga dengan bagaimana materi tersebut dikemas sehingga peserta didik merasa tertarik untuk memperhatikannya.
Hal ini menjadi penting ketika influencer mengubah materi yang pada awalnya terasa formal menjadi konten yang lebih komunikatif. Video tentang cara belajar, tips memahami suatu materi, pengalaman mengikuti kompetisi, atau penjelasan konsep tertentu dapat memberikan rangsangan awal bagi peserta didik untuk mulai belajar.

Penelitian Tohari et al. (2019) memperlihatkan bahwa mahasiswa yang menggunakan YouTube sebagai sumber belajar memiliki motivasi belajar dalam kategori sangat baik. Penelitian tersebut juga menemukan adanya perbedaan hasil belajar antara kelas kontrol dan kelas eksperimen serta hubungan yang signifikan antara motivasi belajar dan hasil belajar. Dengan demikian, konten digital dapat dipandang bukan hanya sebagai hiburan yang disisipi pendidikan, tetapi sebagai stimulus yang membantu menggerakkan peserta didik dari rasa tertarik menuju aktivitas belajar.
Akan tetapi, ketertarikan terhadap konten belum tentu secara otomatis menjadi motivasi belajar yang bertahan lama. Peserta didik mungkin tertarik karena pembawaan influencer yang menyenangkan, visual yang menarik, atau cerita keberhasilan yang ditampilkan. Ketertarikan tersebut perlu berkembang menjadi keinginan untuk memahami materi, mencoba, bertanya, dan menggunakan pengetahuan yang diperoleh. Di sinilah terdapat perbedaan antara motivasi karena konten dan motivasi untuk belajar. Konten dapat menjadi pemicu awal, tetapi proses belajar tetap membutuhkan keterlibatan peserta didik secara aktif.

Temuan Putri et al. (2023) mendukung pandangan tersebut karena penelitian mereka menunjukkan bahwa media sosial YouTube dan motivasi belajar sama-sama memberikan kontribusi terhadap prestasi belajar tata busana, meskipun kontribusinya tidak sepenuhnya menjelaskan prestasi belajar siswa. Dalam penelitian tersebut, kedua variabel prediktor secara bersama-sama menjelaskan 19% variasi prestasi belajar.
Dari sini dapat dikembangkan konsepsi bahwa influencer pendidikan berperan sebagai pemantik motivasi, bukan sebagai pengganti proses belajar. Pengaruh seorang influencer terhadap peserta didik dapat dimulai dari perhatian, berkembang menjadi ketertarikan, kemudian mendorong keinginan untuk mencoba. Akan tetapi, tahap berikutnya sangat bergantung pada bagaimana peserta didik mengolah informasi tersebut.

Ketika peserta didik hanya berpindah dari satu video ke video lain tanpa melakukan pendalaman, motivasi yang muncul berpotensi berhenti pada konsumsi konten. Sebaliknya, ketika konten digunakan sebagai titik awal untuk membaca sumber lain, melakukan latihan, berdiskusi, atau mempraktikkan pengetahuan, media sosial dapat berubah menjadi jembatan menuju pembelajaran yang lebih bermakna.
Konsepsi tersebut juga menunjukkan bahwa kualitas konten edukatif perlu diperhatikan, bukan hanya jumlah penonton atau tingkat popularitas pembuatnya. Dewanti dan Sujarwo (2021) mengembangkan video pembelajaran untuk Instagram dan YouTube dengan memperhatikan relevansi, konsistensi, kegunaan, dan keefektifan. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa video yang dikembangkan memenuhi kriteria tersebut dan membantu pelaksanaan pembelajaran daring. Artinya, konten edukatif yang mampu memotivasi tidak cukup hanya dibuat menarik; konten juga perlu memiliki tujuan pembelajaran yang jelas dan memberikan informasi yang dapat digunakan peserta didik.

Pada akhirnya, kehadiran influencer dalam ruang pendidikan memperlihatkan bahwa motivasi belajar dapat tumbuh dari sumber yang sebelumnya tidak selalu dianggap sebagai bagian dari pembelajaran formal. Peserta didik dapat menemukan dorongan belajar melalui seseorang yang mereka ikuti, sebuah video yang mereka temukan secara tidak sengaja, atau pengalaman belajar yang dikemas dalam bentuk cerita. Namun, nilai pendidikan dari konten tersebut menjadi lebih berarti ketika rasa tertarik tidak berhenti pada aktivitas menonton. Motivasi yang muncul perlu diarahkan menjadi proses mencari tahu, memahami, mencoba, dan merefleksikan pengetahuan. Dengan demikian, konten edukatif influencer dapat dipahami sebagai ruang pemantik motivasi belajar yang mempertemukan daya tarik media sosial dengan kebutuhan peserta didik untuk belajar secara aktif dan bermakna. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 6 = ?
Berita Terkait