Alhusni Duki Hamim: Rektor Unila, Tokoh Asal Tulang Bawang, Bapak Modernisasi Unila

ARTIKEL 10 Sep 2026 01:50 Admin NA 25 kali dibaca
Alhusni Duki Hamim: Rektor Unila, Tokoh Asal  Tulang Bawang, Bapak Modernisasi Unila

Oleh: Prof. Admi Syarif, PhD.
Guru Besar Unila dan Penulis buku “50 Tahun Universitas Lampung Membangun Negeri”

nataragung.id - Bandar Lampung - Berbicara tentang sejarah Universitas Lampung, tidak lengkap rasanya jika kita tidak menyebut nama Alhusni Duki Hamim, SE., MSc., Rektor ketiga Universitas Lampung, putra daerah asal Menggala, Tulang Bawang.

Saya kebetulan merupakan salah seorang yang menulis buku autobiografi beliau. Bahkan hingga pemakaman beliau di Menggala pun saya ikut mengantarkan jenazah beliau. Diperjalanan, saya duduk di sebelah Prof. Sutopo Ghani Nugroho, Pembantu Rektor I saat itu, sambil bercerita tentang kinerja beliau selama menjadi rektor Unila (1990-1998). Saya masih ingat benar bahwa Pak Duki ini juga memiliki selera kuliner yang sama dengan saya. Kami sering makan bersama. Di tenda Mie Salim  Putra, di depan pasar Koga. Makanan yang kami pesan sama, Cap Cimahi. Saat kuliah di Jepang. Saya satu kampus dengan anak beliau, Zul Duki dan Nita. Kami beberapa kali berdiskusi tentang visi beliau membangun Lampung.

Pak Duki menurut saya bukan hanya seorang rektor yang memimpin Universitas Lampung dua periode. Lebih dari itu, beliau pantas disebut sebagai Bapak Modernisasi Universitas Lampung—seorang pemimpin yang mulai membawa Unila memasuki babak baru: dari perguruan tinggi yang sedang tumbuh menjadi universitas yang mulai dikelola dengan pendekatan modern, berbasis teknologi, mutu, dan pengembangan sumber daya manusia.

Salah satu warisan penting kepemimpinan beliau adalah pembangunan sistem teknologi informasi Universitas Lampung. Pada masa itu, gagasan menjadikan teknologi informasi sebagai bagian penting dari tata kelola perguruan tinggi belumlah semaju sekarang.

Alhusni Duki Hamim, Pak Duki demikian saya menyebutnya, membangun fondasi Pusat Komputer (Puskom) Universitas Lampung sebagai bagian penting dari modernisasi pengelolaan universitas. Dalam proses tersebut, beliau dibantu oleh Bapak Anshori Djausal, yang ikut berperan dalam pengembangan sistem teknologi informasi Unila.

Langkah ini menjadi sangat penting karena dari sinilah Universitas Lampung mulai mengenal dan membangun sistem pengelolaan informasi yang lebih terstruktur. Apa yang pada saat itu mungkin terlihat sebagai sebuah langkah kecil, kemudian berkembang menjadi kebutuhan yang sangat fundamental bagi universitas.

Hari ini, ketika hampir seluruh aktivitas akademik dan administrasi perguruan tinggi bergantung pada teknologi informasi, kita mungkin tidak lagi menyadari bahwa fondasi awalnya telah diletakkan jauh sebelumnya.

Beliau juga meletakkan dasar bagi manajemen Universitas Lampung berbasis mutu. Salah satu pendekatan yang mulai diperkenalkan dan diimplementasikan adalah Total Quality Management (TQM).

Ini merupakan sebuah lompatan pemikiran.

Universitas tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administrasi dan akademik. Setiap proses harus diarahkan kepada peningkatan mutu secara terus-menerus. Ada standar yang harus dicapai, ada proses yang harus dievaluasi, dan ada budaya organisasi yang harus dibangun.

Tetapi mungkin warisan terbesar beliau justru bukan gedung, bukan sistem komputer, dan bukan pula perangkat manajemen.

Warisan terbesar beliau adalah manusia. Melalui program Higher Education Development Support (hEDS) Project, Universitas Lampung mengirimkan banyak dosennya untuk melanjutkan pendidikan doktor atau S3 ke berbagai perguruan tinggi di luar negeri.

Banyak dosen muda pada masa itu mendapatkan kesempatan untuk belajar, meneliti, dan memperoleh pengalaman akademik di luar negeri. Mereka kemudian kembali ke Universitas Lampung membawa ilmu, pengalaman, jaringan akademik, serta budaya akademik baru.

Mereka kemudian menjadi guru besar, pemimpin fakultas, peneliti, dan pembentuk generasi akademisi saat ini.

Karena itu, tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa sebagian besar profesor Universitas Lampung yang kita kenal hari ini merupakan bagian dari mata rantai panjang investasi sumber daya manusia yang salah satu fondasinya dibangun pada masa kepemimpinan Alhusni Diki Hamim.

Itulah sebabnya, ketika kita berbicara tentang Unila hari ini, kita tidak boleh hanya melihat apa yang tampak di depan mata. Di balik sistem informasi yang semakin canggih, budaya mutu yang terus berkembang, serta semakin banyaknya profesor dan doktor yang dimiliki Unila, terdapat sejarah panjang dan keputusan-keputusan strategis yang pernah dibuat oleh para pemimpin terdahulu.

Alhusni Duki Hamim adalah salah satu di antaranya. Bapak Modernisasi Unila. Seorang rektor yang tidak hanya memikirkan bagaimana menjalankan universitas pada zamannya, tetapi mulai memikirkan universitas seperti apa di masa depan. ‎<>

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 4 = ?
Berita Terkait