Belajar Menjaga Kesehatan Diri di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau Perspektif Psikologi Terapan

ARTIKEL 08 Sep 2026 15:09 Admin NA
Belajar Menjaga Kesehatan Diri di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau Perspektif Psikologi Terapan

Oleh: Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag. MA.
Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Peristiwa erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi pengalaman nyata yang dapat dimanfaatkan sebagai pembelajaran psikologis bagi anak. Selain memahami fenomena alam, anak dapat belajar menjaga kesehatan, kebersihan, keselamatan, serta bertanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain. Dalam pendidikan, pengalaman nyata seperti bencana dapat menjadi sarana membangun kesadaran dan karakter anak.

Kesadaran Diri dan Menjaga Kesehatan
Menjaga kesehatan merupakan bagian dari kemampuan anak mengenali dan mengelola dirinya. Anak perlu dibiasakan memahami kebutuhan tubuh melalui perilaku sederhana seperti mencuci tangan, menjaga kebersihan tubuh, beristirahat cukup, mengonsumsi makanan sehat, dan menghindari lingkungan yang berisiko. Dalam teori Social Learning, Bandura menekankan bahwa anak belajar melalui pengamatan dan peniruan terhadap perilaku orang di sekitarnya. Karena itu, orang tua dan guru harus menjadi contoh dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Dalam situasi erupsi Gunung Anak Krakatau, anak dapat belajar bahwa menjaga kesehatan juga berarti mengikuti petunjuk keselamatan, menggunakan perlindungan diri ketika diperlukan, serta segera memberitahu orang dewasa apabila mengalami gangguan kesehatan. Dengan demikian, pendidikan kesehatan tidak hanya menghasilkan kepatuhan, tetapi membangun kesadaran diri dan kemampuan mengatur perilaku.

Kebersihan dan Tanggung Jawab Sosial.

Kebersihan bukan hanya persoalan pribadi, tetapi juga bentuk tanggung jawab terhadap orang lain. Anak yang menjaga kebersihan tangan, tubuh, kelas, dan lingkungan turut membantu menciptakan lingkungan yang sehat. Hal ini sejalan dengan pandangan WHO (2026) bahwa sekolah merupakan lingkungan strategis untuk membangun kesehatan dan kesejahteraan anak. Sekolah tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kebiasaan dan perilaku hidup sehat. Dalam konteks erupsi, anak dapat belajar bahwa abu vulkanik dan kondisi lingkungan yang kotor perlu ditangani secara hati-hati. Anak harus mengikuti arahan guru dan orang tua serta tidak bermain di wilayah yang berbahaya.

Nilai tersebut sesuai dengan firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222). Rasulullah SAW juga bersabda: “Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR. Ibnu Majah). Ayat dan hadis tersebut memberikan dasar bahwa menjaga kebersihan dan keselamatan merupakan bagian dari tanggung jawab seorang manusia.

Mengubah Rasa Takut Menjadi Kewaspadaan.

Bencana dapat menimbulkan rasa takut pada anak. Oleh karena itu, guru dan orang tua perlu memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan tidak menakut-nakuti. Dalam konsep self-efficacy, Bandura menjelaskan pentingnya keyakinan seseorang terhadap kemampuan dirinya dalam menghadapi suatu keadaan. Anak yang telah dilatih menghadapi situasi darurat akan lebih percaya diri dalam melakukan tindakan yang tepat. Anak dapat diajarkan untuk mengenali informasi resmi, mengikuti arahan orang dewasa, mengetahui tempat aman, tidak menyebarkan berita yang belum benar, dan membantu teman yang merasa takut.

Sementara itu, Self-Determination Theory dari Ryan dan Deci (2020) menekankan pentingnya kemandirian, rasa mampu, dan hubungan dengan orang lain dalam perkembangan motivasi. Anak perlu diberi kesempatan melakukan tindakan keselamatan sederhana agar tumbuh rasa mampu sekaligus tetap memahami pentingnya bekerja sama. Allah SWT berfirman:  “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat tersebut dapat menjadi landasan bahwa keberanian bukan berarti mengabaikan bahaya, tetapi mampu bersikap tenang, waspada, dan melakukan ikhtiar keselamatan.

Pengalaman Bencana sebagai Pendidikan Karakter.

Erupsi Gunung Anak Krakatau dapat menjadi momentum untuk mengembangkan karakter anak. Anak dapat belajar disiplin, tanggung jawab, kepedulian, empati, kesabaran, dan kerendahan hati. Anak perlu memahami bahwa manusia tidak mampu mengendalikan seluruh keadaan alam. Namun, manusia memiliki kemampuan untuk menentukan sikap dan perilakunya. Ketika terjadi bencana, anak dapat memilih untuk tetap tenang, mengikuti aturan, menjaga kesehatan, membantu orang lain, dan tidak melakukan tindakan yang membahayakan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan dan kebencanaan sesungguhnya merupakan pendidikan karakter. Anak tidak hanya belajar bagaimana menjaga dirinya, tetapi juga belajar bahwa keselamatan dirinya berkaitan dengan keselamatan orang lain.

Akhirnya penting untuk sipahami bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau memberikan pelajaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengendalikan alam, tetapi memiliki kemampuan untuk mengendalikan perilakunya. Melalui pembelajaran yang tepat, anak dapat diarahkan untuk menjaga kesehatan, kebersihan, keselamatan, dan lingkungan. Dalam perspektif psikologi terapan, kebiasaan tersebut  m membangun kesadaran diri, regulasi diri, self-efficacy, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Dalam perspektif Islam, menjaga diri dan orang lain merupakan bagian dari ikhtiar dan amanah. Dengan demikian, anak tidak hanya belajar menjadi pribadi yang sehat dan disiplin, tetapi juga menjadi manusia yang peduli, bertanggung jawab, mampu menghadapi situasi sulit, serta menyadari keterbatasan dirinya di hadapan kebesaran Allah SWT. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 1 = ?
Berita Terkait