Belenggu Yang Tak Mampu di Putuskan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MUTIARA PAGI 12 Aug 2026 02:22 adm@nataragung.id
Belenggu Yang Tak Mampu di Putuskan. Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Ada sebuah pemandangan yang begitu dahsyat di akhirat kelak; pemandangan yang membuat hati orang beriman gemetar dan mata yang lalai seharusnya kembali terbuka. Ketika manusia yang selama hidupnya menolak kebenaran telah sampai di hadapan Rabbnya, tidak ada lagi kekuatan yang dapat menolongnya. Harta telah ditinggalkan, kedudukan telah hilang, keluarga tidak mampu menyelamatkan, dan semua jalan keluar telah tertutup.

Allah Ta‘ala berfirman:

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ ۝ ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ ۝ ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

“Tangkaplah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (QS. Al-Haqqah [69]: 30–32)

خُذُوهُ —

“Tangkaplah dia!”

Inilah perintah yang menggetarkan. Dahulu ia berjalan di atas bumi dengan penuh kesombongan. Dahulu ia merasa bebas melakukan apa saja. Ia menolak nasihat, meremehkan dosa, dan menunda taubat. Dahulu kedua tangannya leluasa berbuat maksiat. Namun pada hari itu, kebebasan telah berakhir.

فَغُلُّوهُ —
“Lalu belenggulah dia!”

Tangan yang dahulu digunakan untuk kezaliman kini tidak lagi mampu bergerak sesukanya. Tidak ada lagi kesempatan untuk melarikan diri. Tidak ada lagi pintu taubat. Tidak ada lagi amal yang dapat ditambahkan.

Kemudian terdengar perintah yang lebih dahsyat:

ثُمَّ الْجَحِيمَ صَلُّوهُ —

“Kemudian masukkanlah dia ke dalam neraka Jahim.”

Neraka bukanlah tempat yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia dengan segala kedahsyatannya. Rasulullah shalallahu alaihi menggambarkan kedalaman neraka dalam sebuah hadits:

لَوْ أَنَّ حَجَرًا أُلْقِيَ فِي جَهَنَّمَ لَهَوَى فِيهَا سَبْعِينَ خَرِيفًا قَبْلَ أَنْ يَبْلُغَ قَعْرَهَا

“Seandainya sebuah batu dilemparkan ke dalam neraka Jahannam, niscaya batu itu akan terus jatuh selama tujuh puluh tahun sebelum sampai ke dasarnya.”

Betapa mengerikan! Sebuah batu dilemparkan dari bibir neraka, lalu terus meluncur ke bawah selama tujuh puluh tahun, sebelum mencapai dasarnya. Ini menggambarkan betapa dalam dan dahsyatnya tempat azab tersebut.

Lalu Allah berfirman:

ثُمَّ فِي سِلْسِلَةٍ ذَرْعُهَا سَبْعُونَ ذِرَاعًا فَاسْلُكُوهُ

“Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.”

Rantai itu adalah gambaran penghinaan sekaligus azab. Tetapi sesungguhnya, bukan hanya rantai yang menghalangi penghuni neraka untuk keluar. Azab Allah, ketetapan-Nya, dan tertutupnya seluruh jalan keselamatan bagi orang yang mati dalam kekufuran itulah belenggu yang tidak akan mampu diputuskan.

Allah berfirman:

وَمَا هُم بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

“Dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 167)

Inilah yang seharusnya membuat manusia takut kepada dosa. Sebab dosa yang hari ini terasa kecil, bila tidak segera ditaubati, dapat menjadi sebab penyesalan yang sangat panjang. Maksiat yang dilakukan hanya beberapa menit di dunia, jangan sampai berujung pada penyesalan yang tidak berkesudahan di akhirat.

Hari ini kita masih hidup.

Hari ini tangan kita belum dibelenggu.

Hari ini kaki kita masih dapat melangkah menuju masjid.

Hari ini lisan kita masih dapat beristighfar.

Hari ini hati kita masih dapat menangis dalam taubat.

Jangan menunggu hingga terdengar perintah:

خُذُوهُ فَغُلُّوهُ

“Tangkaplah dia, lalu belenggulah dia!”

Sebab ketika saat itu tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk berkata, “Ya Allah, berilah aku waktu sekali lagi.”

Maka sebelum tubuh dibelenggu oleh rantai akhirat, belenggulah diri kita hari ini dengan ketaatan. Sebelum kaki terseret menuju Jahim, arahkanlah langkah menuju jalan Allah. Sebelum tangan diikat karena dosa, gunakanlah tangan untuk amal saleh. Dan sebelum mulut tidak lagi mampu mengucapkan istighfar, basahilah lisan dengan memohon ampun kepada-Nya.

Neraka Jahim adalah peringatan, tetapi selama nyawa belum sampai di tenggorokan, pintu taubat masih terbuka. Maka pulanglah kepada Allah sekarang, sebelum tidak ada lagi jalan untuk pulang. (*/316)
WaAllahu A'lam

_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mutiara Pagi

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 8 = ?
Berita Terkait