Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Mengelola Majelis Taklim. Tulisan: Mang Kumir *)

CEKHITA LAPPUNG 24 Aug 2026 00:13 Admin NA
Cekhita Lappung - Nasihat Mehayu: Mengelola Majelis Taklim. Tulisan: Mang Kumir *)

nataragung.id - Teginenong - Bingi sina gerimis khag-goh lalun-lalun ngebasohi tekhabbah mesigid Al-Furqon. Lappu-lappu mesigid nyinakhi lattai kekhamik. Pattulan cahaya ni kuning-kuning di lattai sai pagun basoh kena tapak selop jama'ah. Pengajian Ba'da Isya appai bekhadu.

Tapi jama'ah sai khatong bingi iji mak lebih anjak belasan jelema gawoh. Shaf sai biasa ni ngisi penuh, tenah-han renggang.

Se-khadu pengajian, nayah jama'ah sai kak mulang. Tinggal pikha-pikha pengurus mesigid sai pagun ngeberes ko sulan khik kabel sound system.

Di sudut mesigid, Ardi - pengurus mesigid, lalun-lalun ngitai Ustadz Munawwar sai lagi ngerapi ko kitab ni.

"Maaf, Ustadz... jama'ah ni cutik," cawa ni lalun. "Maklum warga dija masing-masing ngedok kesibukan."

Ustadz Munawwar nyengih tenang.

"Tapi masyarakat pan-ndai lamun bingi sa wat pengajian?"

“In Syaa Allah pan-ndai, Ustadz. Khadu di umum ko se-khadu sembayyang Maghrib pikha khani sai likut. Jama'ah mesigid munih khadu dijuk pan-ndai."

Ustadz Munawwar mengangguk lalun.

"Lamun jama'ah haga khamik, mak cukup cuma di umum ko gawoh, harus ngedok rekayasa..., harus di kelola."

Ardi tenah-han penasaran.

"Rekayasa api cawi, Ustadz?"

Ustadz Munawwar mejong luwot di ke-khassi khadik tiang mesigid. Bunyi ni tenang tapi setiap cawani te-khasa mengandung penekanan.

"Gohiji, Ardi.....

Pertama, bentuk tim khusus guway ngelola majelis taklim sa. Libatko unyin pengurus mesigid. Dang sappai pengajian di ang-ngop acara tam-mbahan. Majelis ilmu harus jadi program utama mesigid.

Tim ina natti nyusun rencana kekhaj-ja. Misal ni target sai semester atawa setahun. Sapa ustadz sai haga di diundang, tema-tema ni api, kapan jadwal ni, malah sappai anggaran konsumsi khik publikasi ni hakhus di pikekh ko."

Hulu Ardi ngangguk-ngangguk suwa memperhatiko

"Ke-khua," lanjut Ustadz Munawwar, "data masyarakat sekitar mesigid. Kenali jama'ah ni. Sapa sai khajin guk mesigid, sapa sai jakhang khatong, sapa tokoh masyarakat ni, sapa kaban sanak ngu-kha ni.

Dakwah ina dapok lebih mudah, lamon kham kenal sapa-sapa sai kham dakwahi."

“Masya Allah..., iyu munih, Ustadz,” sela Ardi.

"Ketel-lu, guway pamflet atawa pengumuman sai menarik. Tempelko di papan mesigid jama di pok-pok sai starategis. Dang nagan ko usang be minggu-minggu. Perbarui tekhus.

Lamun pengumuman ni menarik, ulun jadi pan-ndai. Lajin ulun pan-ndai makkung tattu khatong. Mulani pekhallu lakkah selanjut ni.

"Ke-eppak, guway undangan tertulis atawa kikhim pesan pribadi guk warga. Kadang-kadang ulun mak khatong, layin ulah mak haga, tapi ulah ia nge-khasa mak di ajak."

Gerimis di luwah tambah jelas ketengisan.

Pikha-pikha jama'ah sai makkung mulang nutuk nge-khad-dik. Tiyan menong nengis ko.

"Kelima," lanjut Ustadz Munawwar, "guway suasana majelis sai menyenangko, kaban ulun ge-khing khatong guk pok sai nyaman."

Mesigid dawak, sound jelas, udara sejuk, pelayanan ni betik.

Lamun pekhallu, sedia ko teh hangat, kupi, atawa kikim gukhing. Dang ang-ngop enteng pekakha-pekakha lunik macam sa.

Kadang sai nge-guway ulun ngi-kham haga khatong layin ulah ilmu ni, tapi ulah suasana ukhuwah ni.

Ardi nyengih.

"Oh... gohna ya, Ustadz?"

“Iyu lah,” jawab Ustadz Munawwar.

"Ulun sai haga jualan bakhang  dunia gawoh nge-guway target, strategi, promosi, pelayanan jama evaluasi.

Nah, iji sai kham perjuang ko adalah dakwah, agama Allah, khanglaya nuju surga.

Jadi tattu hakhus lebih pantas luwot, lamun di kelola jama temon-temon."

Beliau bekhadu sekhab-bok, tekhus melanjut ko:

"Mesigid dang cuma hukhik watta puasa atawa khani Jum'at gawoh.

Mesigid harus jadi pusat ilmu. Pusat persaudaraan, pusat pembinaan umat. Ngan hati-hati sai jawoh, tagan tam-mbah khaddik jama Allah."

Suasana mesigid mendadak te-khasa han-ndop, walaupun cuaca ngison mulai menusuk.

Ardi medduko ruangan mesigid sai mulai sepi jama pedduan sai bebida.

Delom hati ni tuwoh semangat baru.

Mukkin selama iji, tiyan cuma ngadako pengajian....

Tapi makkung sungguh-sungguh mengelola majelis ilmu.

Mak munni, Ustadz Munawwar, temegi suwa makai selop.

"Kak khallom, sikam pekhemisi pay."

“Syukran, Ustadz, atas nasihat ni,” cawa Ardi suwa nyalami beliau.

Di luwah, gekhimis pagun khag-goh lalun-lalun.

Bingi sina..., di mesigid Al-Furqan sai lunik ina, sebuah kesadaran mulai tuwoh.

Bahwa dakwah sai balak, mak cukup cuma jama niat sai betik

Dakwah pekhallu perencanaan. Pekhallu kesungguhan, pekhallu sakai-sambayyan.

Pekhallu kerjasama. Pekhallu pelayanan sai betik guway umat.

Sebab majelis taklim layin sekadar acara khatong, mejong, nengis tekhus mulang.

Majelis taklim adalah pok ngan nuwoh ko iman, menyambung silaturahmi khik ngebina umat.

Jadi lamun kham mekhat-tok jama'ah ni khamik, dang cuma nung-ngu jama'ah khatong. Khatongi tiyan jama perhatian. Ajak tiyan jama kasih sayang. Kelola jama sungguh-sungguh.

Ulah dapok jadi...

Jama'ah mak khatong layin ulah tiyan mak butuh ilmu. Tapi ulah kham mak cukup sungguh-sungguh ngelola khanglaya tagan ilmu ina sappai jama tiyan.

"Majelis sai betik, layin cuma majelis sai nayah jama'ah ni. Tapi majelis sai di kelola jama ikhlas, direncana ko sai betik khik tekhus berusaha ngusung umat makkin khadik jama   Allah."  (*/324)
_____
📚 H. Komiruddin Imron, Lc
✒️Shabahul_Khair
📚 Cekhita Lappung

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

VERSI BAHASA INDONESIA.

MENGELOLA MAJELIS TAKLIM

Malam itu gerimis turun perlahan membasahi halaman masjid Al-Furqan. Lampu-lampu masjid memantulkan cahaya kekuningan di lantai keramik yang masih basah oleh jejak sandal jamaah. Pengajian ba’da Isya baru saja selesai.

Namun jamaah yang hadir malam itu tidak lebih dari belasan orang. Shaf yang biasanya terisi penuh tampak renggang. Sebagian besar jamaah sudah pulang. Tinggal beberapa pengurus masjid yang masih membereskan tikar dan kabel sound system.

Di sudut masjid, Ardi—salah seorang pengurus masjid—terlihat mendekati ustadz Munawwar yang sedang merapikan kitabnya.

“Maaf ustadz… jamaahnya sedikit,” katanya lirih. “Maklum… warga sini masing-masing punya kesibukan.”

Ustadz Munawwar tersenyum tenang.

“Tapi masyarakat tahu kalau malam ini ada pengajian?”

“Insya Allah tahu ustadz. Sudah diumumkan setelah shalat Maghrib beberapa hari ini. Jamaah masjid juga sudah diberitahu.”

Ustadz Munawwar mengangguk pelan.

“Kalau jamaah ingin ramai, tidak cukup hanya pengumuman. Harus ada rekayasa.”

Ardi tampak penasaran.

“Rekayasa bagaimana ustadz?”

Ustadz Munawwar lalu duduk kembali di kursi kayu dekat tiang masjid. Suaranya tenang, namun penuh penekanan.

“Begini Ardi…

Pertama, bentuk tim khusus untuk mengelola majelis taklim ini. Libatkan seluruh pengurus masjid. Jangan sampai pengajian dianggap sekadar acara sampingan. Harus menjadi program utama masjid.

Tim itu nanti menyusun rencana kerja. Misalnya target satu semester atau satu tahun. Siapa ustadz yang akan diundang, tema-temanya apa, kapan jadwalnya, bahkan sampai anggaran konsumsi dan publikasinya.”

Ardi mengangguk-angguk sambil memperhatikan.

“Kedua,” lanjut ustadz, “data masyarakat sekitar masjid. Kenali jamaahnya. Siapa yang rutin ke masjid, siapa yang jarang hadir, siapa tokoh masyarakat, siapa anak mudanya. Dakwah itu akan lebih mudah kalau kita mengenal objek dakwah kita.”

“Masya Allah… iya juga ya ustadz,” sela Ardi.

“Ketiga, buat pamflet atau pengumuman yang menarik. Tempel di papan masjid dan tempat-tempat strategis. Jangan dibiarkan usang berminggu-minggu. Perbaharui terus.”

“Keempat, buat undangan tertulis atau pesan pribadi kepada warga. Kadang orang tidak hadir bukan karena tidak mau, tapi karena merasa tidak diajak.”

Gerimis di luar semakin terdengar jelas. Beberapa jamaah yang belum pulang ikut mendekat mendengarkan.

“Kelima,” lanjut ustadz Munawwar, “buat suasana majelis yang menyenangkan. Orang itu senang tempat yang nyaman. Ruang bersih, sound jelas, udara sejuk, pelayanan baik.

Kalau perlu siapkan teh hangat, kopi, atau singkong goreng. Jangan remehkan hal-hal kecil seperti itu. Kadang yang membuat orang rindu datang bukan hanya ilmunya, tapi suasana ukhuwahnya.”

Ardi tersenyum.

“Begitu ya ustadz…”

“Iya,” jawab ustadz Munawwar.

“Orang mau jualan barang dunia saja membuat target, strategi, promosi, pelayanan, dan evaluasi. Nah… ini yang kita perjuangkan adalah dakwah, agama Allah, jalan menuju surga. Tentu lebih layak lagi kalau dikelola dengan serius.”

Beliau lalu menambahkan:

“Masjid tidak boleh hanya hidup saat Ramadhan atau shalat Jumat saja. Masjid harus menjadi pusat ilmu, pusat persaudaraan, pusat pembinaan umat.”

Suasana masjid mendadak terasa hangat meski udara malam dingin menusuk.

Ardi menatap ruang masjid yang mulai sepi dengan pandangan berbeda. Dalam hatinya tumbuh semangat baru.

Mungkin selama ini mereka hanya mengadakan pengajian…

Tetapi belum benar-benar mengelola majelis ilmu.

Tak lama kemudian ustadz Munawwar berdiri sambil mengenakan sandal.

“Sudah malam. Saya pamit dulu.”

“Syukran ustadz atas nasihatnya,” ujar Ardi sambil menyalami beliau.

Di luar, gerimis masih turun perlahan.

Dan malam itu, di masjid kecil Al-Furqan, sebuah kesadaran mulai tumbuh…

Bahwa dakwah yang besar tidak hanya membutuhkan niat baik, tetapi juga perencanaan, kesungguhan, dan pelayanan terbaik untuk umat. <>

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

6 + 3 = ?
Berita Terkait