Cermin Retak: Ini Oleh-Oleh Jakarta, Bagaimana Jombang?. Oleh : Mukhotib MD. Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta
nataragung.id - Yogyakarta - Pakde Kliwon mengelus dada. Overthinking mengenai kerusuhan di Jakarta tak jadi kenyataan. Meski ada pihak yang kecewa, dan ada yang ditangkap, semua menjadi dinamika dalam gerakan massa.
Pilihan membubarkan diri seusai Pimpinan DPR RI menandatangani surat komitmen--meski tanpa Ketua--pembahasan RUU Perampasan Aset dengan jatuh tempo tanggal 15 Desember 2026, menurut Pakde Kliwon merupakan keputusan yang tepat.
"Hitung-hitungan itu sangat cerdas," katanya disusul dengan batuk kering tak henti-henti. Air matanya bercucuran, dan Yuk Nah mendekatinya. Ia mengulurkan tisu lembut berwarna putih dengan aroma bunga kecubung.
Inilah kabar gembira dari Jakarta. Gerakan melawan kekuasaan korup itu dengan mendesakkan permberlakuan UU untuk mencegah korupsi. Tindakan yang akan terus menjamur ke depan. Bahkan Kepala Daerah pun katanya akan sulit dipecat ketika melakukan korupsi. Pasalnya, mereka sudah berpengalaman.
"Apa kabar dari Jombang," ujar Pakde No menyela, mengacaukan pikiran Pakde Kliwon tentang Jakarta. Padahal, ia masih akan menyusun kalimat-malimat indah tentang demonstrasi di depan Gedung DPR RI itu.
"Kalau kabar Jombang saya kira ada bahagia dan lebih banyak dukanya," sahut Yuk Nah sambil menggigit potongan pisang goreng karyanya sendiri.
"Nah, ini pasti seru kalau teman perempuanku sudah melakukan analisis," kataku dalam hati. Kalau aku ucapkan, bisa menggaringkan suasana diskusi segitiga itu.
Saya selalu ingat, kalau Yuk Nah melakukan analisis ia selalu menggunakan alat analisis gender. Ia akan membedah dengan tajam relasi kuasa timpang yang hampir menjadi akar persoalan sosial, termasuk penindasan, pemiskinan, dan kekerasan.
Benar saja dugaanku. Yuk Nah mulai bilang Muktamar NU ke-35 itu memiliki beragam wajah. Pertama, kita bangga sebab sebagian peserta itu masih ada yang ikhlas. Apalagi kelompok Romli (baca: Rombongan liar) yang sering kali lebih gaduh ketimbang peserta resminya,
Mereka masih memandang NU sebagai gerakan masyarakat sipil yang tetap bisa mengimbangi kekuasaan negara. Mereka berharap NU tetap bisa mengambil jarak, dan bersikap kritis kepada para pemegang jabatan di negeri ini.
"Yakin masih ada?" tanya Pakde Kliwon dengan nada suara terasa bimbang dan tidak percaya.
"Haqqul yaqin," sahut Yuk Nah tanpa keraguan sedikit pun.
Kedua, kelompok yang hadir untuk berburu kekuasaan. Apapun gagasannya, apapun pemikiran yang disampaikan semuanya untuk kepentingan meraih keuntungan. Mereka ingin NU sebagai tangga meraih kekuasaan di masa depan. Tahun 2026 merupakan momentum strategis dalam mempersiapkan perebutan kekuasaan.
Mereka inilah yang akan jor-joran memanfaatkan sumber daya negara untuk memenangkan kepentingannya dalam tubuh NU. Bila perlu menarik NU ke dalam pusaran Istana. Setidaknya, sebagai langkah menyodorkan kue pendukung kekuasaan saat ini.
Kelompok ketiga, kata Yuk Nah, mereka yang ingin menarik NU sebagai pendukung mutlak partai. Penumpang NU itu jutaan, suaranya selama ini terpecah karena NU bersikap tidak mewajibkan warganya ke dalam satu partai. Jargon kebanggaan para pengurus NU di seluruh tingkatan, 'warga NU ada di mana-mana', tak disadari sebagai narasi pemecah kekuatan NU sendiri.
"Ruwet. Kelompok dua dan tiga punya uang. Kelompok pertama hanya punya doa," kata Pakde No.
Saya tersenyum mendengar celetukan Pakde No. Meski benar tetapi agak kurang ajar, dan bisa jadi dituduh menistakan agama.
Apapun itu, kata Yuk Nah, situasinya memang sudah berbalik dibandingkan saat masih ada Gus Dur," ujar Yuk Nah. Matanya mengembang, ada bulir-bulir yang memaksa hendak keluar mengikuti hukum alam: mengalir ke bawah.
"Saat Gus Dur, Muktamar menjadi simbol perlawanan terhadap Istana. Soeharto tak menghendaki Gus Dur menjadi Ketua, Muktamirin melawan dengan tetap memilihnya," ungkap Yuk Nah. Nada suaranya meninggi, dan terasa sesak dadanya.
Saat ini, ujar Yuk Nah, dua kelompok terakhir justru akan berebut restu dari Istana, dan kelompok pertama bingung mendoakan siapa.
Dan tentu saja, menurut Yuk Nah lagi, karena politik di negeri ini masih didominasi budaya patriarki, posisi perempuan dalam kepengurusan NU masih tetap akan terbatas. (*)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar