Cermin Retak: Jombang - Jakarta. Oleh : Mukhotib MD. Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

ARTIKEL 27 Aug 2026 11:49 Admin NA
Cermin Retak: Jombang - Jakarta. Oleh : Mukhotib MD.  Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

Cermin Retak: Jombang - Jakarta.
Oleh : Mukhotib MD. 
Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

nataragung.id - Yogyakarta - "Dua hari ini hatiku selalu berdegub keras," kata Yuk Nah saat duduk di bangku panjang depan warungnya.

Pakde Kliwon, sang pemuja setianya sudah pasang wajah serius dengan tangan menyangga dagu yang berhias beberapa lembar jenggot putihnya. Terlihat satu helai menjulur ke bawah, lalu beberapa mili mendekati ujung melengkung ke arah depan. Runcing membahayakan.

"Dua kekuatan besar di negeri ini sedang bergolak. Satu di Jombang dan satu di Jakarta," lanjut Yuk Nah dengan tatapan mata lurus ke depan, tak berkedip dan kaku.

Mengertilah sekarang apa yang sedang dipikirkan Yuk Nah pujaannya itu. Ia menggelisahkan dua gerakan besar civil society di negeri yang sedang porak poranda etika para pejabatnya.

Jakarta guncang di mulai dengan pemblokiran rekening seperti diakui Bank Mandiri, dan penundaan transaksi menurut aparat hukum. Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tidak turut dalam tindakan yang berakibat bekunya rekening milik aktivis dari Pati itu.

Orang awam pun paham benar kenapa pembekuan rekening itu terjadi. Sebuah sabotase gaya baru dalam membungkam gerakan perlawanan rakyat. Ini seperti mencekik aliran nafas para aktivis yang hari ini tetap bergerak menuju gedung kura-kura dari berbagai daerah di Indonesia.

Di Jombang, meski ribut soal tali (baca: tambang) tampak terdengar melemah, diganti dengan hiburan baru soal pencalonan Ketua Umum PBNU, karantina di Sukolilo, dan politik uang.

Namun, ada yang begitu memprihatinkan di antara dinamika di Jombang itu, dengan adanya pelaporan tindakan fitnah kepada seorang Kiai, dengan pelakunya Kiai.

Tak ada yang salah dengan pengaduan itu, setiap orang boleh saja laporkan orang lain. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di muka hukum. Beda kalau di mukamu.

Hanya saja , bagi Yuk Nah, bagaimana mungkin di kalangan NU yang memiliki tradisi tabayyun itu, tiba-tiba muncul aksi seperti para petualang politik di pusaran kekuasaan. Tanpa terdengar ikhtiar membuka ruang dialog, yang terdengar langsung di kepolisian.

"Gusti besarlah selalu ampunan-Mu," kata Yuk Nah. Tentu doanya menggetarkan langit, sebab selama ini ia sangat hemat dalam berdoa sebagai jalan melibatkan Tuhan dalam menyelesaikan masalah para makhluk-Nya.

Pakde Kliwon masih enggak memberikan komentar mesti terlihat beberapa kali bibirnya bergerak seperti hendak mengatakan bait-bait bertuahnya.

Saya bersyukur Pakde No enggak ada. Jika ia sudah hadir di warung Yuk Nah, satu kalimat akan meluncur tajam, "Bibir hanya umak-umik, seperti silit pitik."

Yuk Nah dan Pakde saling pandang meski hanya sejenak. Sebab Yuk Nah merasa bertemunya pandangan itu merupakan musibah, sedang Pakde Kliwon merasa sebuah anugerah dari Sang Pencipta.

Sebuah kecelakaan besar, kata Yuk Nah, ketika di Jombang itu tak ada diskusi tentang RUU Perampasan Aset, karena di Jakarta mereka meneriakkannya di bawah bayang senjata, dan mungkin juga luka dan hilangnya nyawa.

Di Jombang berada dalam situasi aman dan nyaman, dan dalam lindungan aparat keamanan," kata Yuk Nah.

"Dan berkumpul juga para aktivis masyarakat sipil," sahut Pakde No.

Terlepas dari relasi kacau dua aktivis gaek itu, kali ini saya membenarkan semuanya yang mereka pikirkan mengenai peristiwa di Jombang dan Jakarta. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 4 = ?
Berita Terkait