Cermin Retak: Poros di Muktamar NU. Oleh : Mukhotib MD. Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

ARTIKEL 26 Aug 2026 10:36 Admin NA
Cermin Retak: Poros di Muktamar NU. Oleh : Mukhotib MD.  Penulis adalah : Jurnalis dan peneliti senior pada Adicita Swara Publika (ASP) Yogyakarta

nataragung.id - Yogyakarta - Yuk Nah tertawa lebar. Tampak gigi-giginya berbaris rapih. Para generasi seangkatannya menyebut dengan istilah mbiji mentimun. Istilah ini mungkin tak pernah lagi dikenali para generasi milenial, generasi z, apalagi generasi alpha.

Namun, bagi generasi dengan kepala enam, pasti akan merasa bangga, telinga naik turun, manakala mendapatkan pujian gigi mbiji mentimun. Namun, tidak bagi Yuk Nah. Apalagi kalau Pakde Kliwon yang memuji-muji, bukannya kepala terasa membesar, tetapi ada gerakan protes dari lambungnya. Hendak muntah.

Pagi itu, gigi mbiji mentimun kembali terpajang indah di hadapan Pakde Kliwon. Nyaris tidak ada cela, bahkan titik hitam pun tiada. Pakde Kliwon lantas mendapatkan pujian atas pilihan cintanya. Cinta perempuan yang dikejarnya. Meski, ia tetap harus bersabar, sebab sampai kini pun, cinta itu tak pernah menjadi miliknya. Sama seperti puluhan tahun lalu, "engkau sahabat baikku, jangan ubah status ini. Nanti hilang kehangatannya."

Ketika itu, 30 tahun lalu, Pakde Kliwon lunglai tulang belulangnya. Ia duduk sendiri sambil menghisap rokoknya dengan ritme dan jarak makin cepat dan dekat. Yah, gaya laki-laki saat cintanya ditolak, mimpinya berantakan.

"Tidak buka stand di lokasi Muktamar, Yuk?' tanya Pakde Kliwon setelah untuk beberapa menit terjerumus ke dalam masa-masa mudanya saat kuliah itu.

"Tadinya berniat begitu," sahutnya singkat padat dan berisi. Tangannya menarik ujung jilbabnya, dan dengan santainya memasukkan ke dalam hidung. Bahan upil pun tertarik dengan lembut dan penuh bahagia.

"Kenapa enggak jadi?"

"Khawatir sedih saja, gagal dagang malah jadi tontonan. Disangkanya sedang pentas teater jalanan."

Yuk Nah bilang, Muktamar ke-35 ini semakin menyedihkan saja. Ributnya bukan soal paradigma gerakan jam'iyah, tetapi soal remeh temeh, bahkan nyaris menyerempet kebangkrutan moral.

Ia memberikan contoh pada zaman Gus Dur, perdebatan bukan soal politik uang seperti sekarang ini. Mereka berdebat soal gerakan soal, masyarakat sipil, soal nilai-nilai kebangsaan, dan multikulturalisme dalam hidup bernegara. Bicara soal kesetaraan dan keadilan bagi semua.

"Panas tetapi ngintelek," kata Yuk Nah.

"Ya, benar," ujar Pakde Kliwon. Tangan kanannya memutar-mutar cangkir kopinya yang hanya tinggal setengahnya.

"Eh, sekarang malah muncul soal poros-porosan. Memangnya NU gardan truk?"

Pakde Kliwon tertawa mendengar seloroh Yuk Nah. Ia kembali melihat lesung pipit di pipi kiri Yuk Nah. Ah, kenapa perempuan cerdas ini tak pernah memberi kesempatan untuk cintanya.

Yuk Nah bilang, tidak ada salahnya calon mencalonkan. Namun, tidak perlu lah sampai membayangkan Muktamar itu seperti Pemilu, pakai kampanye, membangun narasi di media sosial, dan poros-porosan

Santun saja, toh soal calon lebih dari satu tidak hanya monopoli Muktamar ke-35 ini saja. Dulu enggak ada poros-porosan, apalagi poros istana. Lha wong istana saja sedang karut marut kok malah dijadikan poros. Mereka mevgurusi angka-angka saja enggak beres, malah ditarik-tarik urus NU.

Yuk Nah tertawa kembali. Kali ini terkekeh-kekeh. Giginya tetap terlihat rapi dan putih. Namun, Pakde Kliwon melihat jelas, ada beberapa butir air dari sela bibir itu meluncur cepat ke adonan pisang goreng.

Dan Kliwon terlihat bergidik, laki-laki itu menunduk melihat kopinya di cangkir yang tak lagi memiliki pegangan. Tak ada yang tahu apa yang dipikirkannya. Hanya ia, Tuhan dan malaikat yang mengetahuinya. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 3 = ?
Berita Terkait