Tragedi Cicilan iPhone di India Perspektif Psikologis Terapan. Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA. Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

ARTIKEL 24 Aug 2026 15:14 Admin NA
Tragedi Cicilan iPhone di India Perspektif  Psikologis Terapan. Dr. Aguswan Khotibul Umam, S. Ag., MA. Dosen UIN Jurai Siwo Lampung

nataragung.id - Metro - Tragedi cicilan iPhone yang menimpa sebuah keluarga di India pada Agustus 2026 dengan korban satu keluarga yang terjatuh ke jurang telah menunjukkan bahwa persoalan finansial dapat berkembang menjadi krisis psikologis dan keluarga. Kasus tersebut dapat dibandingkan dengan sejumlah peristiwa di Indonesia, seperti tragedi keluarga di Kediri dan Ciputat yang dalam penyelidikan dikaitkan dengan persoalan utang dan pinjaman daring. Tentu, tidak tepat menyimpulkan bahwa utang menjadi satu-satunya penyebab tragedi. Tekanan finansial biasanya berinteraksi dengan kecemasan, rasa malu, konflik keluarga, keterbatasan dukungan sosial, dan perasaan kehilangan kontrol.

Pertanyaan pentingnya adalah  mengapa masalah finansial yang sebenarnya mungkin masih dapat dicari jalan keluarnya justru dipersepsikan sebagai situasi tanpa harapan?. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah [94]: 5–6). Ayat tersebut mengingatkan bahwa kesulitan tidak seharusnya membuat manusia berhenti melihat kemungkinan dan harapan.

Tekanan Finansial dan Perbandingan Sosial.

Penelitian Samuel et al. (2025) menunjukkan bahwa financial strain dapat berkaitan dengan berbagai persoalan kesehatan dan kesejahteraan psikologis. Tekanan ekonomi bukan hanya persoalan kekurangan uang, tetapi juga dapat memengaruhi cara individu berpikir dan mengambil keputusan. Dalam kasus cicilan barang konsumtif, persoalannya dapat pula berkaitan dengan perbandingan sosial. Teori social comparison Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia sering menilai dirinya melalui perbandingan dengan orang lain. Media sosial semakin memperkuat kecenderungan tersebut. Barang tertentu kemudian tidak lagi sekadar memiliki fungsi, tetapi menjadi simbol status dan penerimaan sosial. Masalah muncul ketika keinginan untuk memiliki tidak sejalan dengan kemampuan finansial. Cicilan, kredit digital, paylater, dan pinjaman online dapat memperbesar peluang konsumsi, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber tekanan ketika kewajiban pembayaran melebihi kemampuan.

Dalam kondisi tekanan yang terus berulang, konsep learned helplessness Martin Seligman menjadi relevan. Individu dapat merasa bahwa apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan. Perasaan kehilangan kontrol tersebut dapat berkembang menjadi hopelessness atau keputusasaan. Hadis Nabi Muhammad SAW memberikan pesan penting: “Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim). Pesan tersebut mengajarkan bahwa menghadapi masalah tidak harus dilakukan sendirian. Mencari pertolongan merupakan bagian dari usaha untuk keluar dari kesulitan.

Krisis Individu ke Krisis Keluarga.

Masalah finansial jarang hanya berdampak pada satu orang. Family Stress Model menjelaskan bahwa tekanan ekonomi dapat berkembang menjadi tekanan emosional, konflik relasi, dan gangguan dalam kehidupan keluarga. Penelitian Lee et al. (2024) menunjukkan bahwa ketidakamanan ekonomi dapat berkaitan dengan meningkatnya tekanan psikologis orang tua dan memburuknya kualitas relasi keluarga. Penelitian lain pada 2024 juga menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat membantu mengurangi dampak negatif tekanan ekonomi terhadap keluarga. Kasus-kasus di Kediri dan Ciputat menjadi pengingat bahwa ketika tekanan finansial memasuki ruang keluarga, masalah tersebut tidak lagi sekadar berkaitan dengan angka utang. Kecemasan dapat menular, komunikasi memburuk, dan rasa malu dapat membuat keluarga semakin terisolasi.

Dalam kondisi krisis, seseorang juga dapat mengalami cognitive constriction, yaitu menyempitnya kemampuan untuk melihat berbagai alternatif penyelesaian masalah. Pilihan sebenarnya mungkin masih ada, tetapi tekanan dan keputusasaan membuat individu merasa bahwa semua jalan telah tertutup. Allah SWT berfirman: “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Yusuf [12]: 87). Pesan tersebut penting dalam konteks psikologis. Harapan berarti kemampuan untuk tetap melihat bahwa situasi sulit hari ini bukanlah keseluruhan masa depan.

Akhirnya penting untuk dicermati bahwa tragedi cicilan iPhone di India dengan tergelincirnya anak, ayah dan ibu ke jurang dan kasus-kasus tekanan utang di Indonesia menunjukkan bahwa masalah finansial dapat berkembang menjadi persoalan psikologis dan keluarga. Utang memang bukan satu-satunya penyebab suatu tragedi, tetapi tekanan finansial dapat memperbesar kecemasan, konflik, rasa malu, dan perasaan kehilangan kontrol. Karena itu, literasi finansial perlu berjalan bersama literasi psikologis. Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan cara menghitung cicilan, tetapi juga perlu memahami tanda-tanda stres, kecemasan, dan keputusasaan. Ketika seseorang mulai merasa tidak memiliki jalan keluar, keluarga dan lingkungan seharusnya tidak segera menghakimi. Satu percakapan, dukungan sosial, bantuan profesional, atau pendampingan dalam menyelesaikan masalah keuangan dapat membantu seseorang kembali melihat pilihan yang sebelumnya terasa hilang. Masalah finansial dapat menjadi berat, tetapi tidak seorang pun seharusnya merasa harus menghadapi krisis sendirian. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 3 = ?
Berita Terkait