Khutbah Jum'at: Jalan Yang Disangka Cahaya. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT • 01 Oct 2026 01:59 • Admin NA • 22 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Jalan Yang Disangka Cahaya. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak setiap jalan yang terang adalah jalan yang benar.

Ada jalan yang dihiasi gemerlap dunia.
Ada jalan yang dipuji manusia.
Ada jalan yang disebut kemajuan.
Ada jalan yang tampak begitu indah di mata manusia.

Namun, belum tentu jalan itu terang di hadapan Allah.

Sebaliknya, ada jalan yang sunyi.
Ada jalan yang berat.
Ada jalan yang membuat kita harus menahan keinginan.
Ada jalan yang memaksa kita meninggalkan sesuatu yang kita cintai demi ketaatan kepada Allah.

Tetapi bisa jadi, justru di jalan itulah terdapat cahaya. Pada kesempatan hari Jum'at yang mulia ini, khatib akan membawakan khutbah yang berjudul. "Jalan Yang Disangka Cahaya."

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْهُدَى نُورًا، وَالطَّاعَةَ سَبِيلًا، وَالتَّقْوَى نَجَاةً. نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.


Alhamdu lillaahil-ladzii ja'alal-hudaa nuuraa, wath-thaa'ata sabiilaa, wat-taqwaa najaatan. Nahmaduhu wa nasta'iinuhu wa nastaghfiruhu, wa na'uudzu billaahi min syuruuri anfusinaa wa min sayyi-aati a'maalinaa. Man yahdihillaahu falaa mudhilla lahu, wa man yudhlil falaa haadiya lahu.

Wa asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasuuluhu. Allahumma shalli wa sallim wa baarik 'alaa Muhammad, wa 'alaa aalihi wa ash-haabihi ajma'iin.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Takwa bukan sekadar kata yang kita ucapkan, tetapi cahaya yang menerangi langkah, menuntun hati, dan menjaga kita agar tidak tersesat di tengah jalan kehidupan.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Tidak setiap jalan yang terang adalah jalan yang benar.

Ada jalan yang dihiasi gemerlap dunia.
Ada jalan yang dipuji manusia.
Ada jalan yang disebut kemajuan.
Ada jalan yang tampak begitu indah di mata manusia.

Namun, belum tentu jalan itu terang di hadapan Allah.

Sebaliknya, ada jalan yang sunyi.
Ada jalan yang berat.
Ada jalan yang membuat kita harus menahan keinginan.
Ada jalan yang memaksa kita meninggalkan sesuatu yang kita cintai demi ketaatan kepada Allah.

Tetapi bisa jadi, justru di jalan itulah terdapat cahaya.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَمَن لَّمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِن نُّورٍ

Wa man lam yaj‘alillāhu lahu nūran famā lahu min nūr.

“Dan barang siapa yang tidak diberi cahaya oleh Allah, maka tidak ada cahaya baginya.” (QS. An-Nur: 40)

Jamaah rahimakumullah,

Cahaya yang paling kita butuhkan bukanlah cahaya lampu yang menerangi mata.

Kita membutuhkan cahaya hidayah yang menerangi hati.

Sebab seseorang bisa memiliki mata, tetapi tidak melihat kebenaran.

Bisa memiliki ilmu, tetapi tidak tunduk kepada Allah.

Bisa memiliki harta, tetapi tidak mengenal syukur.

Bisa memiliki kedudukan, tetapi tidak mengenal kerendahan hati di hadapan Rabb-nya.

Bisa berjalan sangat jauh di dunia, tetapi sebenarnya semakin jauh dari Allah.

Karena itu, jangan hanya bertanya:

“Seberapa jauh aku telah berjalan?”

Tetapi bertanyalah:

“Ke mana perjalanan ini membawaku?”

Jika pekerjaan membuat kita lalai dari shalat, apakah itu kemajuan?

Jika harta membuat kita lupa kepada Allah, apakah itu keberuntungan?

Jika ilmu membuat kita sombong, apakah itu cahaya?

Jika popularitas membuat kita haus pujian manusia dan lupa mencari ridha Allah, apakah itu kemenangan?

Jamaah yang dirahmati Allah,

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah memberikan ukuran yang sangat jelas tentang dunia dan akhirat.

Beliau bersabda:

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

Ad-dunyā sijnul-mu’mini wa jannatul-kāfir.

“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)

Hadits ini mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.

Ia menikmati dunia, tetapi tidak diperbudak oleh dunia.

Ia memiliki harta, tetapi hatinya tidak dimiliki harta.

Ia memiliki jabatan, tetapi tidak menjadikan jabatan sebagai tuhannya.

Ia mengejar kehidupan dunia, tetapi pandangannya tetap tertuju kepada kehidupan akhirat.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,

Kadang manusia tertipu oleh banyaknya pintu yang terbuka.

Padahal tidak semua pintu harus dimasuki.

Ada pintu yang membawa kepada kemuliaan.
Ada pintu yang membawa kepada kehancuran.

Karena itu, seorang mukmin tidak cukup bertanya:

“Apakah ini bisa aku lakukan?”

Tetapi ia bertanya:

“Apakah Allah ridha jika aku melakukannya?”

Inilah cahaya takwa.

Takwa membuat seseorang berhenti sebelum melangkah ke jalan yang salah.

Takwa membuat tangan berhenti sebelum mengambil yang haram.

Takwa membuat lisan diam sebelum menyakiti.

Takwa membuat mata berpaling sebelum melihat yang Allah haramkan.

Dan takwa membuat hati menangis ketika ia merasa semakin jauh dari Rabb-nya.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Yā ayyuhalladzīna āmanuttaqullāha wa qūlū qaulan sadīdan. Yushlih lakum a‘mālakum wa yaghfir lakum dzunūbakum.

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Dia akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu.” (QS. Al-Ahzab: 70–71)

Maka jangan sampai kita tertipu oleh jalan yang tampak indah tetapi berakhir dalam kegelapan.

Sebab yang paling berbahaya bukanlah berjalan dalam gelap.

Yang paling berbahaya adalah berjalan dalam gelap sambil mengira diri sedang menuju cahaya.

Semoga Allah menerangi hati kita dengan iman, menerangi langkah kita dengan hidayah, dan menjadikan setiap perjalanan kita sebagai perjalanan menuju ridha-Nya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ؛ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

Ibadhallah...

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 2 = ?
Berita Terkait