Khutbah Jum'at: Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah. Selama Pintu Taubat Masih Terbuka, Pulanglah kepada-Nya

KHUTBAH JUM'AT • 05 Nov 2026 00:57 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 32 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah. Selama Pintu Taubat Masih Terbuka, Pulanglah kepada-Nya

Penulis : Ma'ruf Ridho Syahrofi, S.Pi.
Ditulis di Yogyakarta, 31 Oktober 2026 / 20 Jumadil Awal 1448 H.
Penulis adalah: Manager Batik Travel Umroh - Haji dan Ketua Yayasan MPD Peduli Yogyakarta.
Khutbah Jum'at untuk dibaca pada tanggal: 6 November 2026.

nataragung.id - Yogyakarta - Setiap manusia mempunyai masa lalu. Ada dosa yang hanya diketahui dirinya dan Allah. Ada kesalahan yang sampai hari ini masih membuat hati malu. Ada maksiat yang sudah berkali-kali ingin ditinggalkan, tetapi seseorang kembali terjatuh. Ada pula orang yang kemudian berkata dalam hatinya:
“Dosa saya sudah terlalu banyak.”
“Apakah Allah masih mau mengampuni saya?”
“Sepertinya tidak ada lagi jalan untuk kembali.”
Jika ada perasaan seperti itu, dengarkanlah bagaimana Allah memanggil hamba-hamba-Nya.  Pada kesempatan Khutbah hari ini, khatib akan membacakan Khutbah yang berjudul: "Jangan Berputus Asa Dari Rahmat Allah.
Selama Pintu Taubat Masih Terbuka, Pulanglah kepada-Nya"

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Setiap manusia mempunyai masa lalu. Ada dosa yang hanya diketahui dirinya dan Allah. Ada kesalahan yang sampai hari ini masih membuat hati malu. Ada maksiat yang sudah berkali-kali ingin ditinggalkan, tetapi seseorang kembali terjatuh. Ada pula orang yang kemudian berkata dalam hatinya:
“Dosa saya sudah terlalu banyak.”
“Apakah Allah masih mau mengampuni saya?”
“Sepertinya tidak ada lagi jalan untuk kembali.”

Jika ada perasaan seperti itu, dengarkanlah bagaimana Allah memanggil hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah, ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar: 53)

Perhatikan, Allah Ta'ala tidak mengatakan:
“Wahai hamba-Ku yang tidak pernah berdosa.”
Allah mengatakan:
الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ
“Orang-orang yang telah melampaui batas terhadap dirinya sendiri.”
Orang yang dosanya banyak. Orang yang telah jauh. Tetapi Allah Ta'ala tetap memanggil mereka:
يَا عِبَادِي — “Wahai
hamba-hamba" Dan Allah Ta'ala mengatakan:
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Jangan berputus asa dari rahmat Allah.”

Ayat ini merupakan kabar gembira bahwa dosa apa pun dapat diampuni bagi orang yang benar-benar bertaubat dan kembali kepada Allah.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama: Jangan Membesarkan Dosa Melebihi Besarnya Ampunan Allah
Dosa memang berbahaya. Kita tidak boleh meremehkannya. Tetapi jangan sampai setan membawa kita dari satu kesalahan menuju kesalahan yang lebih besar: berputus asa dari ampunan Allah.
Setan memiliki banyak pintu. Jika ia tidak berhasil membuat seseorang merasa aman dari dosa, ia bisa datang dari arah sebaliknya:
“Dosamu terlalu besar.”
“Tidak mungkin Allah mengampunimu.”
“Percuma engkau bertaubat.”
Jangan percaya bisikan itu.

Rasulullah ﷺ meriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman:
يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنَا أَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا، فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan pada malam dan siang hari, sedangkan Aku mengampuni seluruh dosa. Maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian.” (HR. Muslim)

Allah mengetahui kelemahan kita. Allah mengetahui kita bisa jatuh. Tetapi Allah memerintahkan: “Mintalah ampun kepada-Ku.”
Maka sebesar apa pun dosa seseorang, jangan lari menjauh dari Allah. Justru, larilah menuju Allah.

Jamaah rahimakumullah,
Kedua: Jika Pembunuh Seratus Nyawa Masih Memiliki Jalan Taubat, Bagaimana dengan Kita?

Rasulullah ﷺ pernah menceritakan kisah seorang laki-laki yang telah membunuh 99 manusia. Ia ingin bertaubat. Ia bertanya kepada seorang ahli ibadah: “Apakah masih ada taubat untukku?”
Orang tersebut menjawab: “Tidak.”
Akhirnya ia membunuhnya pula hingga genap 100 orang. Kemudian ia bertanya kepada seorang yang berilmu: “Apakah masih ada taubat untukku?”
Orang alim tersebut menjawab: “Siapa yang bisa menghalangimu dari taubat?”
Ia kemudian diperintahkan meninggalkan lingkungan buruknya dan menuju negeri yang dihuni orang-orang saleh. Dalam perjalanan, ia meninggal dunia. Namun karena ia benar-benar telah berjalan menuju Allah dan menuju taubat, Allah memasukkannya ke dalam rahmat-Nya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah dan bahwa seorang pendosa tidak boleh dibuat kehilangan harapan untuk kembali kepada-Nya.

Jamaah sekalian,
Kalau orang yang telah membunuh seratus jiwa saja masih diberi jalan untuk kembali, maka mengapa kita berkata: “Tidak ada harapan untuk saya.”
Jangan! Selama ruh belum sampai di tenggorokan, selama matahari belum terbit dari barat, pintu taubat masih terbuka.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ
“Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah, shahih)
Tetapi ingat: Karena pintu masih terbuka, jangan menunda masuk ke dalamnya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Ketiga: Jangan Hanya Berharap Ampunan, Tetapi Bertaubatlah dengan Benar
Berharap kepada rahmat Allah bukan berarti terus bermaksiat lalu berkata: “Allah kan Maha Pengampun.”
Ini bukanlah cara seorang mukmin. Rahmat Allah seharusnya membuat kita segera bertaubat, bukan semakin berani melakukan dosa. Taubat yang benar memiliki tanda.
Pertama, berhenti dari maksiat.
Tidak cukup berkata: “Astaghfirullah,” tetapi maksiat tetap dipelihara.
Kedua, menyesali dosa.
Hatinya sedih karena telah melanggar perintah Allah.
Ketiga, bertekad tidak mengulanginya.
Kalau suatu hari ia tergelincir lagi, ia bertaubat lagi. Tetapi pada saat bertaubat, tekadnya harus sungguh-sungguh.
Keempat, apabila dosa berkaitan dengan hak manusia, selesaikan hak tersebut.
Jika mengambil harta, kembalikan. Jika memiliki utang, berusahalah melunasi. Jika menzalimi orang lain, selesaikan kezalimannya sesuai kemampuan dan tuntunan syariat. Inilah di antara syarat-syarat taubat yang dijelaskan para ulama.

Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
“Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Jamaah Jumat rahimakumullah,
Keempat: Kalau Terjatuh Lagi, Jangan Berhenti Kembali kepada Allah
Ada orang yang berkata: “Saya sudah pernah taubat, tapi kemudian saya melakukan dosa itu lagi.”
Kemudian ia malu untuk bertaubat. Ia berpikir: “Saya sudah terlalu sering meminta ampun.”
Jangan begitu. Selama setiap kali bertaubat kita benar-benar menyesal dan ingin meninggalkan dosa tersebut, ketika suatu saat kita tergelincir kembali maka bertaubatlah kembali.
Jangan pernah berkata: “Percuma.”

Yang setan inginkan bukan hanya kita jatuh dalam dosa. Yang lebih ia inginkan adalah setelah jatuh: kita tidak mau bangkit lagi.
Maka kalau hari ini jatuh, bangunlah. Kalau besok tergelincir, kembalilah kepada Allah. Kalau hati menjadi keras, beristighfar. Kalau maksiat terasa berat untuk ditinggalkan, minta pertolongan Allah dan tinggalkan sebab-sebab yang membawa kepadanya. Jangan jadikan dosa kemarin alasan untuk melakukan dosa hari ini.
Masa lalu tidak bisa kita ubah. Tetapi akhir kehidupan kita masih bisa kita perjuangkan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ada satu hal yang harus kita jaga. Islam mengajarkan keseimbangan. Kita tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Tetapi kita juga tidak boleh merasa aman dari hukuman Allah.
Jangan berkata: “Tidak apa-apa bermaksiat, nanti tinggal taubat.”
Siapa yang menjamin kita sempat bertaubat? Siapa yang menjamin umur kita sampai besok? Siapa yang menjamin hati kita masih mau kembali?
Maka sikap seorang mukmin berada di antara: takut kepada azab Allah dan berharap kepada rahmat Allah.

Ketika melihat dosanya, ia takut. Ketika melihat rahmat Allah, ia berharap. Ketika terjatuh, ia bertaubat. Ketika mendapatkan kebaikan, ia bersyukur.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Mungkin di antara kita ada yang hari ini membawa dosa yang sangat berat. Mungkin ada maksiat yang belum pernah diketahui siapa pun. Mungkin ada masa lalu yang ingin sekali kita hapus. Maka pesan khutbah ini sederhana:
JANGAN BERPUTUS ASA.
Selama Allah masih memberikan napas, berarti kesempatan itu masih ada. Selama kita masih bisa bersujud, pintu itu belum tertutup. Selama hati masih ingin kembali, kembalilah kepada Allah sekarang.
Jangan besok. Jangan menunggu Ramadhan. Jangan menunggu tua. Jangan menunggu sakit. Karena kita tidak tahu kapan perjalanan hidup ini selesai.

Allah Ta’ala berfirman:
وَهُوَ الَّذِي يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ
“Dialah yang menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan.” (QS. Asy-Syura: 25)

Maka jangan mengatakan: “Dosa saya terlalu besar.”
Tetapi katakan: “Rahmat Allah jauh lebih luas.”
Dan buktikan harapan itu dengan taubat yang sungguh-sungguh.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ وَتُوبُوا إِلَيْهِ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa di siang hari bertaubat, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa di malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim)
Betapa luas kasih sayang Allah. Malam kita berdosa, siang Allah membuka pintu taubat. Siang kita melakukan kesalahan, malam Allah masih membuka kesempatan untuk kembali.
Maka jangan mati dalam keadaan membawa dosa yang sebenarnya masih bisa kita taubati. Jangan membawa hak manusia yang masih bisa kita selesaikan. Dan jangan menunggu hati menjadi sempurna untuk kembali kepada Allah.
Kembalilah kepada Allah dengan hati yang sedang terluka, penuh dosa, dan penuh kekurangan.
Karena Allah-lah yang akan memperbaikinya.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا كُلَّهَا، دِقَّهَا وَجِلَّهَا، أَوَّلَهَا وَآخِرَهَا، عَلَانِيَتَهَا وَسِرَّهَا.
Ya Allah, ampunilah seluruh dosa kami; yang kecil maupun besar, yang dahulu maupun yang kemudian, yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.

اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْنَا تَوْبَةً نَصُوحًا.
Ya Allah, karuniakan kepada kami taubat yang sebenar-benarnya.

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْقَانِطِينَ مِنْ رَحْمَتِكَ.

Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berputus asa dari rahmat-Mu.

اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ.

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَأَعِذْنَا مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ.

Ya Allah, karuniakan kepada kami akhir kehidupan yang baik dan lindungilah kami dari akhir kehidupan yang buruk.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنَ الْفِتَنِ وَالشُّرُورِ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

Wallahu Ta’ala a’lam. (*)

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 2 = ?
Berita Terkait