Khutbah Jum'at: Jangan Jadi Pohon Yang Mudah Tumbang. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT • 05 Nov 2026 00:40 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 20 kali dibaca
Khutbah Jum'at: Jangan Jadi Pohon Yang Mudah Tumbang. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Pernahkah kita melihat pohon yang tampak berdiri tegak, tetapi sebenarnya tidak memiliki akar yang kuat? Batangnya mungkin terlihat besar, daunnya tampak rindang. Namun, ketika angin kencang datang, pohon itu mudah tumbang. Sebab kekuatannya hanya terlihat di permukaan, sementara bagian yang menopangnya rapuh.

Begitulah perumpamaan yang Allah hadirkan dalam Al-Qur'an untuk menggambarkan kalimat yang buruk. Dikesempatan khutbah hari Jum'at yang mulia ini, khatib akan akan membawakan khutbah yang berjudul: "Jangan Jadi Pohon Yang Mudah Tumbang."

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

Alhamdu lillāh, nahmaduhu wa nasta'īnuhu wa nastaghfiruhu, wa na'ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyi'āti a'mālinā.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa rasūluh.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Allāhumma shalli wa sallim 'alā nabiyyinā Muhammad, wa 'alā ālihi wa shahbihi ajma'īn.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Amma ba'du, fa yā 'ibādallāh, ūshīkum wa iyyāya bitaqwāllāh, faqad fāzal-muttaqūn.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa. Menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pernahkah kita melihat pohon yang tampak berdiri tegak, tetapi sebenarnya tidak memiliki akar yang kuat? Batangnya mungkin terlihat besar, daunnya tampak rindang. Namun, ketika angin kencang datang, pohon itu mudah tumbang. Sebab kekuatannya hanya terlihat di permukaan, sementara bagian yang menopangnya rapuh.

Begitulah perumpamaan yang Allah hadirkan dalam Al-Qur'an untuk menggambarkan kalimat yang buruk.

Allah berfirman:

وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ

Wa matsalu kalimatin khabītsatin kasyajaratin khabītsatin uj'tutstsat min fauqil-ardhi mā lahā min qarār.

"Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun." (QS. Ibrahim: 26).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ayat ini merupakan gambaran tentang kebatilan yang tidak memiliki dasar dan tidak mampu bertahan. Berbeda dengan kalimat yang baik pada ayat sebelumnya, yang diumpamakan seperti pohon yang baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.

Dari perumpamaan ini, ada pelajaran besar bagi kehidupan kita.

Pertama: Jangan membangun kehidupan tanpa akar keimanan.

Manusia bisa memiliki harta berlimpah, jabatan tinggi, rumah megah, dan kedudukan terhormat. Namun, jika tidak memiliki iman yang kokoh, semua itu tidak menjamin ketenangan hidupnya.

Ketika ujian datang, ia mudah putus asa. Ketika kehilangan harta, ia kehilangan harapan. Ketika mendapat kesulitan, ia menyalahkan keadaan. Bahkan, ketika keinginannya tidak tercapai, ia mulai berburuk sangka kepada Allah.

Padahal, kekuatan seorang mukmin bukan terletak pada banyaknya harta yang dimiliki, melainkan pada kuatnya iman yang tertanam di dalam hati.

Allah berfirman:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ

Yutsabbitullāhul-ladzīna āmanū bil-qaulits-tsābiti fil-hayātid-dunyā wa fil-ākhirah.

"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh dalam kehidupan di dunia dan di akhirat." (QS. Ibrahim: 27).

Karena itu, kuatkan akar keimanan kita dengan ilmu, ibadah, zikir, dan ketakwaan.

Kedua: Jangan menjadi manusia yang banyak berangan-angan, tetapi miskin perjuangan.

Ada orang yang ingin kaya, tetapi malas bekerja. Ingin berhasil, tetapi enggan berusaha. Ingin dihormati, tetapi tidak mau memperbaiki diri.

Hidupnya dipenuhi rencana, tetapi sedikit tindakan. Hari-harinya habis untuk membicarakan keberhasilan orang lain, sementara dirinya sendiri tidak bergerak melakukan perubahan.

Ingatlah, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk hidup dalam kemalasan.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ، وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

Al-mu'minul-qawiyyu khairun wa ahabbu ilallāhi minal-mu'minidh-dha'īf, wa fī kullin khair.

"Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan." (HR. Muslim).

Kekuatan itu mencakup kekuatan iman, tekad, kemauan, dan kesungguhan dalam melakukan kebaikan.

Jangan hanya ingin memetik buah, tetapi enggan menanam benih. Jangan berharap kehidupan berubah jika kita sendiri tidak mau berubah.

Ketiga: Jadilah manusia yang tumbuh dengan ilmu dan memberikan manfaat.

Pohon yang baik bukan hanya kuat untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberikan keteduhan dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Demikian pula seorang mukmin. Kehadirannya membawa kebaikan. Ucapannya menenangkan, ilmunya mencerahkan, dan tindakannya memberikan manfaat.

Jangan menjadi manusia yang kehadirannya justru mengganggu, perkataannya menyakiti, dan perilakunya merintangi kebaikan orang lain.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Khairun-nāsi anfa'uhum lin-nās.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya." (HR. Ath-Thabrani, dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).

Jamaah Jumat yang berbahagia,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah iman menjadi akar kehidupan kita?

Sudahkah ilmu menjadi penerang perjalanan kita?

Sudahkah amal menjadi buah yang dapat dinikmati orang lain?

Jangan sampai kita terlihat kuat di hadapan manusia, tetapi rapuh di hadapan ujian. Jangan sampai kita tumbuh tinggi dalam urusan dunia, tetapi kehilangan akar dalam urusan akhirat.

Jadilah pohon yang baik: akarnya menghunjam kuat, batangnya kokoh, buahnya bermanfaat, dan kehadirannya memberikan keteduhan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah.

Hidup ini bukan tentang siapa yang paling tinggi kedudukannya, paling banyak hartanya, atau paling terkenal namanya. Hidup ini adalah tentang siapa yang paling kuat imannya, paling baik amalnya, dan paling besar manfaatnya.

Ingatlah, pohon yang tidak memiliki akar akan mudah tumbang. Demikian pula manusia yang tidak memiliki iman, ilmu, dan prinsip kehidupan akan mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Maka, kuatkan iman, tumbuhkan ilmu, perbanyak amal, dan tebarkan manfaat.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang kokoh dalam iman, teguh dalam kebenaran, dan bermanfaat bagi sesama.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
Bārakallāhu lī wa lakum fil-Qur'ānil-'azhīm, wa nafa'anī wa iyyākum bimā fīhi minal-āyāti wadz-dzikril-hakīm.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Aqulu qaulī hādzā wa astaghfirullāhal-'azhīma lī wa lakum wa lisā'iril-muslimīna min kulli dzanbin, fastaghfirūhu, innahū huwal-ghafūrur-rahīm.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ تَعْظِيمًا لِشَأْنِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَإِخْوَانِهِ.

Al-ḥamdu lillāhi ‘alā iḥsānih, wasy-syukru lahu ‘alā tawfīqihi wa imtinānih, wa asyhadu allā ilāha illallāhu waḥdahu lā syarīka lah ta‘ẓīman lisya’nih, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluhud-dā‘ī ilā riḍwānih, allāhumma ṣalli wa sallim ‘alayhi wa ‘alā ālihi wa aṣḥābihi wa ikhwanih.

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ الْمُقَصِّرَ أَوَّلًا بِتَقْوَى اللَّهِ، فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَرَاقِبُوهُ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِيَّةِ، ﴿إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ﴾.

Uūṣīkum wa iyyāya al-muqassiṟa awwalan bitaqwāllāh, fattaqūllāha ḥaqqa tuqātih, wa rāqibūhu fīs-sirri wal-‘alāniyyah, (inna Allāha ma‘a alladhīna attaqaw walladhīna hum muḥsinūn).

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى فِيهِ بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ جَلَّ مِنْ قَائِلٍ عَلِيمًا: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾.

I‘lamū anna Allāha amarakum bi amrin bada’a fīhi binafsih, wa thannā fīhi bimalā’ikatihil-musabbiḥati biqudsih, faqāla jalla min qā’ilin ‘alīmā: (inna Allāha wa malā’ikatahu yuṣallūna ‘alan-nabī, yā ayyuhalladhīna āmanū ṣallū ‘alayhi wa sallimū taslīmā).

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallayta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

Allāhummaghfir lil-muslimīna wal-muslimāt, wal-mu’minīna wal-mu’mināt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt, innaka samī‘un qarībun mujību-d-da‘awāt.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ.

Allāhumma a‘izzal-islāma wal-muslimīn, wa adhillasy-syirka wal-musyrikīn, wa dammir a‘dā’ad-dīn, wansur ‘ibādakal-muwaḥḥidīn

اَللَّهُمَّ فَرِّجْ هُمُومَنَا، وَاشْرَحْ صُدُورَنَا، وَيَسِّرْ أُمُورَنَا، وَاحْفَظْ بِلَادَنَا وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ سُوءٍ وَفِتْنَةٍ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.

Allāhumma farrij humūmanā, wasyraḥ ṣudūranā, wa yassir umūranā, wa iḥfaẓ bilādanā wa bilādal-muslimīn min kulli sū’in wa fitnatin yā rabbal-‘ālamīn.

Ibadhallah...

اِعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

I‘lamū anna Allāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhīl-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy, ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn, fa-dhkurūllāhal-‘aẓīma yadhkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

7 + 8 = ?
Berita Terkait