Khutbah Jum'at: Jangan Khawatir, Rezekimu Telah di Jamin Allah. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

KHUTBAH JUM'AT 27 Aug 2026 00:26 Admin NA
Khutbah Jum'at: Jangan Khawatir, Rezekimu Telah di Jamin Allah. Oleh: Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Di antara kegelisahan terbesar manusia dalam hidup ini adalah kegelisahan tentang rezeki.

Ada yang khawatir karena pekerjaan belum tetap. Ada yang takut karena usaha sedang sepi. Ada yang gelisah memikirkan biaya pendidikan anak. Ada yang cemas menghadapi masa depan. Ada pula yang siang dan malam pikirannya dipenuhi pertanyaan:

"Besok saya makan dari mana?"
"Bagaimana jika usaha ini bangkrut?"
"Bagaimana masa depan keluarga saya?" Dalam kesempatan khutbah hari ini khatib akan membacakan materi khutbah yang berjudul: "Jangan Khawatir, Rezekimu Telah di Jamin Allah."

KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ الْخَلْقَ وَتَكَفَّلَ بِأَرْزَاقِهِمْ، وَقَسَّمَ بَيْنَهُمْ مَعَايِشَهُمْ بِحِكْمَتِهِ وَرَحْمَتِهِ. نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَىٰ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَىٰ يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ التَّقْوَى، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَخَابَ وَخَسِرَ الْمُعْرِضُونَ.

Jamaah Jum'at rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subḥanahu wata'ala Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan yang singkat ini. Dengan takwa, hati menjadi tenang. Dengan takwa, Allah membukakan jalan keluar. Dan dengan takwa pula Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak pernah kita sangka.

Di antara kegelisahan terbesar manusia dalam hidup ini adalah kegelisahan tentang rezeki.

Ada yang khawatir karena pekerjaan belum tetap. Ada yang takut karena usaha sedang sepi. Ada yang gelisah memikirkan biaya pendidikan anak. Ada yang cemas menghadapi masa depan. Ada pula yang siang dan malam pikirannya dipenuhi pertanyaan:

"Besok saya makan dari mana?"
"Bagaimana jika usaha ini bangkrut?"
"Bagaimana masa depan keluarga saya?"

Padahal, wahai jamaah sekalian, sebelum kita mengenal dunia, sebelum tangan kita mampu bekerja, sebelum kaki kita dapat melangkah, bahkan ketika kita masih berada dalam kegelapan rahim ibu, Allah telah menetapkan rezeki kita.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ، وَأَجَلِهِ، وَعَمَلِهِ، وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ

Tsummā yursalu ilaihil-malaku fa yanfukhu fīhir-rūḥa, wa yu'maru bi arba'i kalimātin: bi katbi rizqihi, wa ajalihi, wa 'amalihi, wa syaqiyyun au sa'īd.

“Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan ruh kepadanya. Dan malaikat itu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, serta apakah ia termasuk orang yang celaka atau bahagia.” HR. Bukhari dan Muslim.

Allahu Akbar!

Renungkanlah, jamaah yang dimuliakan Allah.

Ketika kita masih janin, kita belum mempunyai pekerjaan. Belum mempunyai ijazah. Belum memiliki pengalaman. Belum mengetahui perdagangan. Belum mempunyai kecerdasan yang dapat dibanggakan.

Tetapi rezeki kita sudah ditulis.

Maka, kalau hari ini kita bekerja, janganlah kita menyangka bahwa pekerjaan itulah satu-satunya penentu datangnya rezeki. Kalau hari ini kita berdagang, janganlah kita menyangka bahwa kecerdasan kitalah yang menentukan keberhasilan.

Usaha adalah sebab. Tetapi Allah-lah yang menentukan hasil.

Allah Subḥanahu wata'ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

Wa mā min dābbatin fil-arḍi illā 'alallāhi rizquhā.

“Dan tidak satu pun makhluk melata di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.” QS. Hud: 6.

Jamaah Jum'at rahimakumullah,

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa seluruh makhluk berada dalam jaminan Allah. Burung yang terbang di langit, ikan yang berenang di lautan, semut yang berjalan di antara tanah dan bebatuan, semuanya mendapatkan rezekinya dari Allah.

Lalu mengapa manusia yang memiliki akal, tangan, kaki, dan kemampuan berikhtiar justru terlalu takut bahwa Allah tidak akan mencukupi rezekinya?

Allah Subḥanahu wata'ala juga berfirman:

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

Innallāha huwar-razzāqu dzul-quwwatil-matīn.

“Sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Pemberi Rezeki, Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” QS. Adz-Dzariyst: 58.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Nama Allah Ar-Razzāq mengajarkan kepada kita bahwa sumber rezeki bukanlah kantor tempat kita bekerja, bukan pula toko tempat kita berdagang, bukan perusahaan tempat kita mencari nafkah.

Semua itu hanyalah jalan dan sebab.

Hari ini Allah bisa membuka satu pintu rezeki. Besok Allah mampu menutupnya dan membuka pintu yang lain.

Jangan pernah mengira bahwa jika satu pintu tertutup, maka seluruh rezeki telah berakhir.

Tidak!

Selama Allah adalah Ar-Razzaaq, maka pintu rezeki-Nya tidak pernah terbatas.

Bahkan Allah Subḥanahu wata'ala menjanjikan kepada orang yang bertakwa jalan keluar dan rezeki yang tidak pernah diduga-duga.

Allah berfirman:

«وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا ۝ وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ»

Wa may yattaqillāha yaj'al lahū makhrajā. Wa yarzuqhu min ḥaitsu lā yaḥtasib.

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan baginya jalan keluar. Dan Dia akan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” QS. Ath-Thalaq: 2–3.

Perhatikan firman Allah:

«مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ»

Min ḥaitsu lā yaḥtasib.

“Dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Inilah yang sering kita lupakan.

Kita hanya melihat apa yang ada di depan mata. Kita mengira rezeki hanya datang dari satu pekerjaan, satu usaha, atau satu jalan.

Padahal Allah memiliki jalan-jalan yang tidak kita ketahui.

Hari ini mungkin satu pintu tertutup. Jangan langsung berputus asa. Bisa jadi Allah sedang mengarahkan kita kepada pintu lain yang lebih baik. Bisa jadi apa yang kita anggap kehilangan ternyata adalah jalan menuju karunia yang lebih besar.

Namun demikian, jamaah yang dimuliakan Allah, keyakinan bahwa rezeki telah ditetapkan bukan berarti kita boleh bermalas-malasan.

Tidak!

Islam mengajarkan kita untuk berusaha, bekerja, dan mencari rezeki yang halal.

Tetapi yang dilarang adalah menggantungkan hati kepada usaha.

Bekerjalah dengan tanganmu, tetapi jangan gantungkan hatimu kepada tanganmu.

Berusahalah dengan segenap kemampuanmu, tetapi jangan menyangka kemampuanmu yang menciptakan rezeki.

Carilah sebab-sebab duniawi, tetapi yakinlah bahwa yang memberi hasil hanyalah Allah Subḥanahu wata'ala

Allah berfirman:

«وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ»

Wa fis-samā'i rizqukum wa mā tū'adūn.

Artinya: “Dan di langit terdapat rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” QS. Adz-Dzariyat: 22.

Jamaah Jum'at rahimakumullah,

Oleh sebab itu, jangan biarkan kekhawatiran terhadap rezeki merampas ketenangan hidup kita.

Yang lebih pantas kita khawatirkan bukanlah:

"Apakah aku mendapatkan rezeki?"

Tetapi:

Apakah rezeki yang aku peroleh halal?
Apakah aku jujur dalam mencarinya?
Apakah aku bersyukur ketika Allah melapangkannya?
Apakah aku sabar ketika Allah menyempitkannya?
Dan apakah rezeki itu mendekatkanku kepada Allah atau justru menjauhkanku dari-Nya?

Sebab, wahai jamaah sekalian, rezeki yang banyak belum tentu berkah. Tetapi rezeki yang sedikit, halal, dan penuh keberkahan jauh lebih membahagiakan.

Jamaah Jum'at rahimakumullah,

Marilah kita pulang dari masjid ini dengan membawa satu keyakinan yang kuat:

Rezeki kita telah Allah tetapkan, tetapi kita tetap diperintahkan untuk berikhtiar.

Jangan malas dengan alasan tawakal.

Dan jangan pula sombong dengan alasan merasa berhasil.

Sebab keberhasilan bukan semata-mata karena kecerdasan kita. Kelapangan bukan semata-mata karena kuatnya usaha kita. Semuanya terjadi dengan kehendak dan karunia Allah Subḥanahu wata'ala

Ketika Allah melapangkan rezeki, bersyukurlah.

Ketika Allah menyempitkannya, bersabarlah.

Ketika satu jalan tertutup, jangan berputus asa.

Sebab kita memiliki Rabb Yang Maha Mengetahui jalan yang tidak kita ketahui dan Maha Kuasa membuka pintu yang tidak mampu kita buka.

Ingatlah selalu:

Tangan kita bekerja, tetapi Allah yang memberi.
Kaki kita melangkah, tetapi Allah yang menunjukkan jalan.
Akal kita merencanakan, tetapi Allah yang menentukan.
Kita berusaha mencari rezeki, tetapi Allah-lah Ar-Razzāq yang melimpahkan rezeki.

Maka tenangkan hatimu.

Jangan terlalu takut kepada hari esok.

Karena Allah yang menjamin rezekimu hari ini adalah Allah yang sama yang akan menjagamu esok hari.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang yakin kepada jaminan-Nya, bersungguh-sungguh dalam ikhtiar, sabar ketika diuji dengan kesempitan, dan bersyukur ketika diberi kelapangan.

بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

Alhamdu lillāhi ḥamdan katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, kamā yuḥibbu rabbunā wa yardhā. Asyhadu an lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhu wa rasūluh. Allāhumma ṣalli wa sallim wa bārik ‘alā nabiyyinā Muḥammad wa ‘alā ālihi wa ṣaḥbihi ajma‘īn.

أُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّهَا زَادُ الْمُتَّقِينَ، وَنُورُ السَّالِكِينَ، وَوَصِيَّةُ رَسُولِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. فَاتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

Uuṣīkum ‘ibādallāh wa nafsī bitaqwāllāh, fa innahā zādal-muttaqīn, wa nūrus-sālikīn, wa waṣiyyatu rasūli rabbil-‘ālamīn. Fattaqullāha ḥaqqa tuqātih, wa lā tamūtunna illā wa antum muslimūn.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا، وَارْفَعِ الْبَلَاءَ عَنَّا وَعَنْ بِلَادِنَا.

Allāhumma ighfir lil-mu’minīna wal-mu’mināt, wal-muslimīna wal-muslimāt, al-aḥyā’i minhum wal-amwāt. Allāhumma ṭahhir qulūbanā, wa aṣliḥ aḥwālanā, wa bārik lanā fī a‘mārinā wa arzāqinā, wa rfa‘il-balā’a ‘annā wa ‘an bilādinā.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، وَارْزُقْنَا صِدْقَ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، وَحُسْنَ الظَّنِّ بِكَ، وَلُزُومَ طَاعَتِكَ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ. يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَيَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ.

Allāhumma ij‘alnā min ‘ibādikas-ṣāliḥīn, warzuqnā ṣidqat-tawakkuli ‘alaik, wa ḥusnaẓ-ẓanni bik, wa luzūma ṭā‘atika fis-sirri wal-‘alan. Yā muqallibal-qulūb tsabbit qulūbanā ‘alā dīnik, wa yā muṣarrifal-qulūb ṣarrif qulūbanā ilā ṭā‘atik.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَوَفِّقْهُمْ لِمَا فِيهِ صَلَاحُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا، وَاجْعَلْهُمْ رُحَمَاءَ بِالرَّعِيَّةِ، قُوَّامًا بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ.

Allāhumma aṣliḥ wulāta umūrinā, wa waffiqhum limā fīhi ṣalāḥud-dīn wad-dunyā, waj‘alhum ruḥamā’a bir-ra‘iyyah, quwwāman bil-ḥaqqi wal-‘adl.

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

Allāhumma ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-ākhirah ḥasanah, wa qinā ‘adzāban-nār.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.

‘Ibādallāh, innallāha ya’muru bil-‘adli wal-iḥsān wa ītā’i dhil-qurbā, wa yanhā ‘anil-faḥsyā’i wal-munkari wal-baghy. Ya‘iẓukum la‘allakum tadhakkarūn. Fa dzkurullāha yadzkurkum, wasykurūhu ‘alā ni‘amihi yazidkum, wa ladzikrullāhi akbar, wallāhu ya‘lamu mā taṣna‘ūn.

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 8 = ?
Berita Terkait