Memahami Identitas, Sejarah, dan Nilai Dasar Adat Lampung. Nemui Nyimah, Tradisi Keramahan yang Tetap Dibutuhkan.Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Izinkanlah saya, sebagai salah seorang penyimbang yang telah menghabiskan waktu bergelut dengan lembaran-lembaran adat, bercerita di beranda sederhana ini.
Malam ini, angin sejuk dari arah Bukit Barisan menemani kita, mengingatkan pada sebuah kisah lama tentang sebuah kampung di kaki Gunung Pesagi, di tanah Saibatin yang megah.
Kampung itu bernama Bumi Dipasena, terletak di pesisir barat Lampung, tempat ombak Samudra Hindia berdebur memecah sunyi.
Konon, pada masa lampau, hiduplah seorang saudagar kaya bernama Dalom Sutan Nata. Rumah panggungnya yang besar selalu ramai, bukan hanya karena perdagangan lada dan rempah yang makmur, tetapi karena hatinya yang lapang.
Setiap musim panen, Dalom Sutan Nata akan membuka lebar-lebar pintu rumahnya. Bukan hanya untuk sanak saudara, tetapi juga untuk para pendatang dari seberang, para musafir kelelahan, bahkan untuk mereka yang hanya singgah berteduh.
Suatu ketika, datanglah seorang pengembara yang bertubuh ringkih, pakaiannya lusuh, dan wajahnya dipenuhi debu perjalanan. Ia bukanlah seorang saudagar, bukan pula bangsawan. Beberapa tetua kampung berbisik, meragukan maksud kedatangannya. Namun, Dalom Sutan Nata justru turun dari berandanya.
Dengan penuh hormat, ia menyambut, "Marilah ke rumah, adikku. Istirahatkanlah kakimu." Pengembara itu pun dijamu dengan makanan terbaik yang ada. Dalom Sutan Nata tak bertanya latar belakangnya, tak menanyakan harta benda. Ia hanya duduk bersimpuh, mendengar cerita si pengembara yang datang dari tanah jauh.
Esok harinya, sebelum melanjutkan perjalanan, si pengembara berkata, "Tuan, aku tak punya apa-apa untuk membalas kebaikanmu. Tapi aku akan menyebarkan namamu ke seluruh rantau, bahwa di tanah Lampung ini, ada seorang saudagar yang lebih kaya akan budi daripada hartanya."
Lama setelah pengembara itu pergi, Dalom Sutan Nata baru tahu, bahwa ia telah menjamu seorang utusan dari Kerajaan Majapahit yang sedang dalam misi penyamaran. Atas kebaikannya itu, persahabatan dua kerajaan pun terjalin erat, dan kampung Bumi Dipasena makmur karena kepercayaan yang datang dari sana.
Cerita tentang Dalom Sutan Nata ini mengajarkan kita sebuah filosofi tua yang disebut Nemui Nyimah. Dalam bahasa kita, "Nemui" berarti menerima tamu atau bersilaturahmi, sedangkan "Nyimah" berarti suka memberi, murah hati, dan bersikap santun. Ini bukan sekadar aturan tentang bagaimana memberi makanan atau minuman.
Lebih dari itu, Nemui Nyimah adalah tentang bagaimana kita memuliakan setiap manusia yang datang ke rumah kita sebagai saudara. Ia adalah cerminan Piil Pesenggiri, harga diri orang Lampung. Malu rasanya jika seorang tuan rumah disebut pelit atau tidak santun, karena itu berarti menjatuhkan martabat dirinya di hadapan orang banyak.
Jika kita telusuri sejarah, adat yang luhur ini bersumber dari kitab-kitab kuno peninggalan leluhur kita. Salah satunya adalah Kitab Kuntara Raja Niti, yang menjadi pedoman hidup bagi masyarakat Pepadun, dan tradisi lisan yang hidup di kalangan Saibatin.
Dalam adat Sai Bumi Ruwa Jurai, ada dua kelompok besar, yaitu Saibatin yang mendiami pesisir dan Pepadun yang mendiami daratan. Meskipun berbeda sistem, inti dari kepribadian mereka tetap sama: memegang teguh falsafah Piil Pesenggiri.
Seorang penyimbang di masa lalu, sering menuturkan sebuah petuah tua yang menggambarkan begitu besarnya nilai Nemui Nyimah. Beliau mengutip sebuah nasihat dari orang tua kepada generasi muda: "Sapapun sai sai khatong didepan ranguk nuwamu, walau kebelah hulun kebelah asu, kayin ya kukhuk. Undahko nginum, juk ya mengan."
Jika kita terjemahkan, petuah ini berbunyi: "Siapapun yang datang ke pintu rumahmu, walaupun badannya sebelah manusia dan sebelah anjing, terimalah dan persilakan dia masuk. Layani dia, beri dia minum dan makan."
Petuah ini bukan berarti kita menerima kejahatan, tetapi sebuah perumpamaan yang mengajarkan tentang keterbukaan yang tanpa pamrih. Bahkan kepada orang yang dianggap rendah sekalipun, kita tetap wajib menjaga adab dan memuliakannya sebagai tamu. Karena dengan memberi dan melayani, derajat kita sebagai manusia akan diangkat oleh Allah SWT.
Nilai Nemui Nyimah ini selaras dengan ajaran Islam yang kita anut. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nisa ayat 36 yang artinya,
وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡــًٔـا ؕ وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا وَّبِذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَ الۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡجَـارِ ذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡجَـارِ الۡجُـنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَـنۡۢبِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنۡ كَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرَا
Wa'budullaha wa la tusyriku bihi syai'aw wa bil-walidaini ihsanaw wa bizil-qurba wal-yatama wal-masakini wal-jari zil-qurba wal-jaril-junubi was-sahibi bil-jambi wabnis-sabil(i), wa ma malakat aimanukum, innallaha la yuhibbu man kana mukhtalan fakhura.
"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
Ayat ini turun (Asbāb al-nuzūl) sebagai bimbingan untuk membangun tatanan sosial yang penuh kasih, di mana kita diperintahkan untuk memuliakan tamu dan berbuat baik kepada semua orang tanpa memandang status, persis seperti ajaran Nemui Nyimah.
Bayangkan saudara-saudaraku, di zaman sekarang yang seringkali terasa semakin individualistis, di mana pintu-pintu rumah terkunci rapat dan tetangga tak saling sapa, tradisi Nemui Nyimah bagaikan oase di tengah padang pasir. Nilai ini menumbuhkan kembali rasa persaudaraan yang hangat.
Orang Lampung terkenal akan keramahannya; menyembelih kambing atau unggas untuk tamu adalah hal biasa, bahkan terkadang mengeluarkan seluruh persediaan makanan di rumah untuk memuliakan tamu yang datang. Ini bukan pemborosan, melainkan wujud kehormatan dan rasa syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diberikan.
Tak hanya itu, Nemui Nyimah juga menjadi pintu masuk bagi nilai-nilai Pancasila, khususnya sila ketiga, Persatuan Indonesia, dan sila kelima, Keadilan Sosial. Dengan sikap terbuka (Nengah Nyappur) dan gemar memberi, kita membangun jembatan antar suku, antar agama, dan antar golongan. Lampung adalah miniatur Indonesia, tempat berbagai budaya bertemu.
Berkat tradisi Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur, para pendatang dari Jawa, Sunda, Bali, dan daerah lainnya dapat diterima dengan tangan terbuka, berbaur, dan membangun Lampung bersama-sama. Inilah gotong-royong yang kita sebut Sakai Sambayan.
Maka, sudah selayaknya kita sebagai generasi penerus tidak melupakan warisan luhur ini. Teruslah berpegang pada Piil Pesenggiri, jagalah gelar atau juluk adok kita dengan perbuatan baik. Mari kita hidupkan kembali semangat Nemui Nyimah bukan hanya di upacara adat, tetapi dalam keseharian kita.
Sambutlah tetangga dengan senyuman, ulurkan tangan kepada yang membutuhkan, dan bukalah hati untuk mendengar keluh kesah saudara. Karena dengan begitu, kita tidak hanya melestarikan adat, tetapi juga memperkuat ukhuwah dan menjaga marwah Lampung di mata dunia. Tabik pun. (*)
Daftar Pustaka:
- Syahputra, M. C. (2020). Pendidikan Multikultural Dalam Budaya Nemui Nyimah. El-Hikmah: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam, 14(1).
- Implementasi Piil Pesenggiri dalam Kehidupan Masyarakat Adat Lampung. Jurnal Ilmiah Penelitian.
- Zarkasi, A. (2020). Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Falsafah Hidup Ulun Lampung Piil Pesenggiri. Skripsi UIN Raden Intan Lampung.
- Hadikusuma, H. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
- Nilai-Nilai Budaya Lampung dalam Falsafah Piil Pesenggiri. Jurnal Komunikasi dan Media Sosial.
- Hakikat Budaya Nemui Nyimah Perspektif Filsafat Moral. UIN Raden Intan Lampung.
- Nurdin, B. V. (2017). Marga Legun Way Urang (Sebuah Catatan Etnografi). Bandar Lampung: AURA Publishing.
- Fachruddin & Suharyadi. (2003). Peranan Nilai-nilai Tradisional Daerah Lampung dalam Melestarikan Lingkungan Hidup. Lampung: CV. Gunung Pesagi.
- Nota Over De Lampoengsche Marga's. (1930). Dr. J.W. Van Royen.
- Al-Qur’an dan Terjemahnya. (Surah An-Nisa: 36).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar