Hari Ini Kita Diam, Besok Anak Cucu Hanya Mengenal Nama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 21 Sep 2026 00:21 Admin NA 25 kali dibaca
Hari Ini Kita Diam, Besok Anak Cucu Hanya Mengenal Nama. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik puun, para Sai Bumi Ruwa Jurai, para penerus yang kami cintai. Izinkanlah seorang punyimbang yang telah banyak melihat musim berganti ini, bercerita dari beranda yang mulai sepi. 
Hari ini, kita akan berbincang tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekadar pusaka, yaitu tentang nyawa adat yang mulai terasa hambar di lidah generasi.

Dahulu kala, di tepian Way Sekampung yang berliku, hiduplah seorang gadis muda bernama Rindu. Setiap senja, ia duduk di halaman rumah panggungnya, mendengarkan suara neneknya melantunkan Pisaan, syair-syair lama yang penuh nasihat. 
Sang nenek bercerita tentang Lembak, tentang nenek moyang yang menyeberangi lautan dengan perahu bercadik, tentang bagaimana gelar Juluk Adok bukanlah sekadar nama, melainkan tanggung jawab yang dipikul seumur hidup. Rindu mendengarkan dengan mata berbinar, menghafal setiap patah kata, meski terkadang ia tak mengerti seluruh maknanya.
Kini, Rindu telah dewasa dan memiliki anak. Rumah panggung itu masih berdiri, namun lantunan syair telah lama padam. Neneknya telah pergi, dan Rindu sibuk dengan dunianya yang lain.

Di ruang tamu yang kini bertelevisi, anak-anaknya lebih akrab dengan lagu-lagu dari ponsel daripada dengan lagu Cangget Agung. Di sekolah, mereka belajar tentang pahlawan nasional, tetapi jarang sekali mendengar kisah tentang Punyimbang yang bijaksana atau Kitab Kuntara Raja Niti yang pernah menjadi rujukan hidup.
Rindu tiba-tiba teringat pada sebuah kalimat bijak dari adat: "Muloh bujang kiwak, sibulah hasan." Kurang lebih, itu bermakna duduklah dengan tenang, dan ketika berdiri, lakukanlah dengan baik dan sempurna.

Neneknya dulu mengajarkan bahwa setiap tindakan, sekecil apa pun, punya konsekuensi. Termasuk tindakan kita hari ini terhadap adat. Jika hari ini kita memilih diam dan acuh, maka besok, anak cucu kita mungkin hanya akan mengenal kata "Lampung" dari buku sejarah, sekadar nama yang pernah ada.
Hari-hari ini, kita sering mendengar seruan dari pemerintah. Pidato tentang pelestarian budaya sering disampaikan dalam upacara dan acara resmi. Instruksi Gubernur pun diterbitkan, mengimbau para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengenakan batik Lampung dan menggunakan bahasa Lampung setiap hari Kamis. Di permukaan, ini terlihat sebagai sebuah keberpihakan. Namun, jika direnungkan, seberapa dalamkah upaya ini?
Ada anekdot yang menggelitik. Seorang pejabat tinggi dengan gagahnya mengenakan pakaian adat Pepadun atau Saibatin. Tapi apakah ia tahu makna di balik setiap lipatan kain dan ukiran logamnya? Apakah ia mampu berdialog dengan warganya dalam logat Lampung yang halus? Ataukah itu semua hanya selebrasi belaka, sebuah pertunjukan yang difoto dan diunggah untuk menunjukkan bahwa pemerintah "turut hadir" melestarikan budaya? Kritik ini keras, namun inilah kenyataan yang harus kita hadapi. Jika tidak, tradisi itu hanya akan menjadi sebuah panggung musiman, bukan sebuah jiwa yang hidup.
Alasan klasik yang kerap terdengar adalah soal dana. "Anggaran terbatas," begitu kata mereka. Tapi bukankah melestarikan budaya bukan hanya soal uang? Sakai Sambayan, semangat gotong royong, adalah falsafah utama orang Lampung. Di masa lalu, membangun sebuah rumah atau mengadakan Begawi (pesta adat) dilakukan bersama-sama, tanpa beban finansial yang memberatkan. Dana boleh jadi tidak cukup, tapi komitmen dan konsistensi tidak bisa dibeli. Ketika infrastruktur dan proyek fisik mendapat prioritas utama, adat justru terpinggirkan. Jika tidak ada kemauan, segala alasan akan terasa klise.

Adat istiadat Lampung, baik yang Pepadun maupun Saibatin, tidak pernah berdiri sendiri. Ia terintegrasi erat dengan nilai-nilai spiritual dan kebangsaan. Para penyebar Islam di Lampung dari masa silam, seperti dari Kesultanan Banten, tidak menghapus adat, melainkan menyiraminya dengan nilai-nilai keislaman. Tradisi Nengah Nyappur (bergaul dalam masyarakat) dan Nemui Nyimah (keramahan) adalah cerminan akhlak mulia dalam Islam. Menerima tamu dengan tangan terbuka bukan hanya etika budaya, tapi juga ajaran agama.
Sayangnya, kemasan adat sering kali kehilangan isinya. Upacara adat mungkin masih digelar, tapi esensi dari Piil Pesenggiri mulai luntur. Piil Pesenggiri bukan hanya soal harga diri dan kehormatan; di dalamnya terkandung amanah untuk menjaga martabat, seperti disebutkan dalam filosofi Bejuluk Beadek (pemberian gelar yang sarat tanggung jawab). Seseorang dengan gelar adat tidak boleh hanya diam, ia harus menjadi teladan. Dialah yang seharusnya menjadi jembatan antara norma adat dan zaman modern.

Bayangkan, jika adat benar-benar terawat, anak-anak Rindu akan tumbuh dengan teguh memegang nilai Pesenggiri. Mereka akan belajar menghargai orang lain dan diri sendiri (Juluk-Adok), mereka akan hidup rukun dengan tetangga (Nengah Nyappur), mereka akan dermawan (Nemui Nyimah), dan mereka akan siap bahu-membahu dalam kebaikan (Sakai Sambayan). Nilai-nilai inilah yang membentengi bangsa dari perpecahan dan krisis moral. Ini adalah perekat sosial yang lebih kuat dari sekadar seragam dan bahasa yang dipaksakan pada hari Kamis saja.
Sebuah konsep dari Kitab Kuntara Raja Niti mengingatkan, "Jika berjalan di rumpun duri, alun-alun supaya pagun, lambat-lambat asal selamat, lambat laun akan sampai juga." Ini mengajarkan tentang kesabaran dan kebijaksanaan. Pelestarian budaya memang perjalanan panjang, bukan pekerjaan selesai dalam satu atau lima tahun kepemimpinan. Dibutuhkan langkah hati-hati namun pasti, dengan fondasi niat yang tulus. Upaya yang sifatnya seremonial dan instan, seperti sebuah instruksi tanpa implementasi yang terukur, hanya akan menjadi perjalanan di rumpun duri yang sia-sia, terlihat dari kejauhan, namun tak pernah sampai pada tujuan.

Hari ini kita harus bertanya pada diri sendiri, terutama pada para pemimpin yang kami sepuh. Apakah kebijakan "Hari Kamis Beradat" hanya akan menjadi simbol indah yang dicatat di kertas, sementara kesejahteraan dan pendidikan rakyat justru tertinggal? Jangan sampai pelestarian budaya hanya dijadikan upaya mengalihkan perhatian dari persoalan mendasar bangsa. Menjaga identitas budaya adalah penting, namun perut kosong dan masa depan anak-anak adalah persoalan yang tak bisa ditunda.

Kritik ini adalah wujud cinta. Kami, masyarakat adat Lampung, bukan hendak menggurui, tetapi kami telah melihat banyak peradaban besar karam karena mereka lupa pada akar mereka sendiri. Jika hari ini, para pemimpin tidak serius memperhatikan pelestarian adat, maka sejarah akan mencatat ketidakpedulian ini sebagai pengkhianatan terhadap warisan leluhur. Generasi mendatang bukan hanya tidak bisa berbahasa Lampung, mereka juga akan kehilangan rasa malu dan harga diri (Pesenggiri).

Kepada saudara-saudaraku di Lampung, mari kita berhenti sejenak meratapi kebijakan yang ada. Mari kita, dari rumah kita masing-masing, hidupkan kembali adat. Ajari anak-anak kita pisaan atau sekadar sapaan dalam bahasa Lampung. Ceritakan tentang Sai Bumi Ruwa Jurai, bahwa kita adalah satu, dalam perbedaan Pepadun dan Saibatin. Sebab, jika kita bergantung pada selebrasi semata, kita akan kecewa. Namun, jika kita mulai dari diri sendiri, kita akan menjadi pemula perubahan.
Kembali ke Rindu di awal cerita. Rumah panggungnya kini mungkin masih berdiri kokoh, namun yang mengisi ruang itu adalah keheningan budaya. Anak-anaknya besar dengan rasa malu untuk mengaku orang Lampung, karena mereka tidak tahu apa yang harus dibanggakan. Mereka hanya mengenal nama "Lampung" sebagai alamat di KTP, bukan sebagai identitas yang menghangatkan dada.
Ini adalah peringatan penutup yang berat. Jika kita terus diam, jika pemerintah hanya sibuk dengan pidato dan simbol, maka nama-nama seperti Pepadun, Saibatin, Juluk-Adok, dan Kitab Kuntara Raja Niti akan menjadi artefak museum. Mereka akan menjadi fosil kata yang diperkenalkan kepada anak cucu dengan kalimat: "Dulu, di tanah ini, pernah ada sebuah peradaban bernama adat Lampung."
Ini bukan takdir yang ingin kita lihat. Marwah adat Lampung adalah bagian dari identitas nasional yang berdasarkan Pancasila dan agama. Mari kita balikkan keadaan, bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Jangan biarkan hari esok datang tanpa jejak yang berarti dari hari ini. Tabik pun, selamat berjuang untuk adat yang lebih bermartabat.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

9 + 8 = ?
Berita Terkait