Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Mewariskan Kearifan Ulun Lampung kepada Generasi Digital. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 19 Sep 2026 02:30 Admin NA 41 kali dibaca
Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Mewariskan Kearifan Ulun Lampung kepada Generasi Digital. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para nakhoda adat, generasi penerus Sai Bumi Ruwa Jurai. 
Izinkanlah saya, seorang punyimbang yang telah menghabiskan waktu menyaksikan langit Lampung berganti warna, bertutur tentang sebuah kisah yang menggema di antara rimbunnya pepohonan dan megahnya gunung Pesagi. Bukan sekadar cerita, melainkan cermin untuk kita renungkan bersama di era yang serba digdaya ini.

Di Kampung Kenali, Lampung Barat, hiduplah seorang pemuda bernama Sutan Jaya. Ia dikenal cerdas dan lincah bermain gawai, namun jauh dari nilai-nilai adat yang dijunjung leluhur. Suatu ketika, pada sebuah acara gawi adat perkawinan yang digelar di Kampung Kiluan, Sutan Jaya datang tanpa menanggalkan alas kaki dan duduk di tempat yang semestinya diperuntukkan bagi para penyimbang. 
Ia dengan lantang memamerkan kemampuannya merekam dan menyebarkan momen pesta melalui media sosial, tanpa meminta izin atau ngelangkok kepada tuan rumah. Rombongan yang hadir pun terkesima, namun sebagian merasa terganggu. Di sanalah, seorang tetua adat dari Keratuan Darah Putih, Dalom Putekha Jaya Makhga, yang merupakan cendekiawan besar dan penulis kitab adat, menatap Sutan Jaya dengan tatapan bijak. "Anakku," ujar Dalom yang penuh wibawa, "gawai di tanganmu mungkin lebih cepat dari kilat, tetapi adat di hatimu lebih lambat dari siput. Mana yang akan kau wariskan kepada anak cucumu nanti?" 
Teguran halus itu menusuk kalbu Sutan Jaya. Ia merenung, menyadari bahwa teknologi yang ia banggakan telah membuatnya lupa akan ajaran dasar orang Lampung: Nemui Nyimah (ramah dan saling memberi), Nengah Nyappur (terbuka dan bersosialisasi), dan yang paling utama, Pesenggiri (harga diri dan kehormatan). 
Bagaimana mungkin ia menjaga harga diri jika ia sendiri merendahkan adat yang menjadi identitasnya? Sejak saat itu, Sutan Jaya bertekad menjadi pelopor muda yang memadukan genggaman teknologi dengan kearifan lokal, bukan meninggalkan yang satu demi yang lain.

Peristiwa itu membawa kita pada pertanyaan besar: bagaimana generasi muda berperan dalam melestarikan adat Lampung, yang notabene terbagi dalam dua tatanan besar yaitu Pepadun dan Saibatin, di tengah derasnya arus teknologi? 
Dalam Piil Pesenggiri, falsafah hidup ulun Lampung, terkandung lima unsur utama: Pesenggiri sendiri, Juluk-Adok (gelar kehormatan), Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan (gotong-royong). Kelima unsur ini bagaikan lima kelopak siger yang memperkokoh mahkota kepribadian orang Lampung. 
Kita lihat sejarah marga-marga besar Lampung. Dalam manuskrip kuno Kitab Kuntara Raja Niti yang sering dirujuk oleh para penyimbang, tertulis sebuah ajaran tentang tata krama dan kepemimpinan yang menjadi inti dari keberlanjutan adat. Salah satu petikan dalam aksara Lampung kuno berbunyi:
"Tanom mak ngelappo, tanom mak ngeghik, wat piil pesenggiri di dalam hati."
(Kurang lebih berarti: "Jangan menjadi batu sandungan, jangan menjadi duri, tetapi tanamkan harga diri dalam hati.")

Analisis mendalam dari kutipan ini mengajarkan bahwa harga diri (Pesenggiri) bukanlah tentang kesombongan, melainkan fondasi untuk tidak merendahkan orang lain dan selalu menjaga sikap. Seorang anak muda yang mengunggah konten budaya di media sosial tanpa riset atau tanpa etika adalah seperti "batu sandungan" yang membuat orang lain salah paham. Sebaliknya, konten yang sarat makna dan disampaikan dengan sopan adalah cerminan Juluk-Adok, gelar kehormatan yang disandang seseorang. 
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Hujurat ayat 13, yang turun (Asbāb al-nuzūl) sebagai pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari keturunan atau kekayaan, melainkan dari ketakwaannya:

يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Ayat ini selaras dengan falsafah Nengah Nyappur dan Sakai Sambayan. Dalam konteks modern, generasi muda dapat menggunakan platform digital untuk saling mengenal dan bekerja sama dalam proyek pelestarian budaya tanpa menghilangkan nilai-nilai Islam. 
Mereka bisa membuat dokumentasi digital tentang sejarah marga seperti Abung Siwo Megow atau Pubian Telu Suku, atau mengarsipkan lagu-lagu daerah lawas yang hampir punah. Gerakan seperti "Digital Heritage Archive" yang dilakukan oleh mahasiswa pecinta musik tradisional adalah contoh nyata bagaimana sakai sambayan dan nengah nyappur diwujudkan di ranah digital.

Di kampung halaman kita, nilai Nemui Nyimah sangat terasa. Dalam tradisi, menolak tamu atau membiarkan tamu berdiri di luar adalah pelanggaran adat. Dalam kitab adat disebutkan bahwa setiap rumah di Lampung, dari Kampung Pugung hingga Tanjung Harapan, harus menyediakan kopi untuk siapa pun yang singgah. Hal ini mengajarkan kita tentang keramahan yang menjadi identitas bangsa, sejalan dengan sila ke-2 Pancasila: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
Tentu, teknologi adalah pisau bermata dua.

Banyak anak muda yang lebih akrab dengan budaya populer daripada budaya sendiri. Namun, di tangan yang tepat, teknologi menjadi jembatan. Bayangkan, aplikasi "Si Muli" yang diluncurkan di Lampung Selatan tidak hanya menjadi pasar digital untuk UMKM, tetapi juga sebuah gerakan berbasis kearifan lokal. Ini adalah bukti bahwa inovasi digital tidak harus bertentangan dengan adat. Justru, adat menjadi fondasi agar teknologi digunakan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk menghilangkan identitas.
Maka, marilah kita, para orang tua dan tetua adat, memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkreasi. Jangan kita cap mereka sebagai generasi perusak adat karena mereka gemar bermedia sosial. Bimbinglah mereka agar konten-konten yang mereka buat tentang tari-tarian, upacara Cuwak Mengan atau Nayuh, serta filosofi Siger, dikemas dengan menarik tetapi tetap tidak meninggalkan esensi syariat dan nilai-nilai luhur. 
Pesenggiri harus tetap tegak di dada, meskipun genggaman mereka erat pada layar sentuh. Karena pada akhirnya, mewariskan kearifan Lampung kepada generasi digital bukanlah tentang memilih antara masa lalu atau masa depan, melainkan merangkul keduanya dengan teguh berpegang pada tali adat yang tidak akan pernah putus.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri: Sopan Santun sebagai Identitas Orang Lampung. Seri 5: Nyimah, Ngelangkok, dan Mulim – Tiga Tali Adat. 
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Merawat Jejak Hidup Lampung untuk Generasi Mendatang. Tata Krama Berbicara yang Mulai Terlupakan. 
3. RRI Bandar Lampung. (2026). Mahasiswa dan Peran Strategis dalam Pelestarian Budaya Lampung. 
4. RRI Bandar Lampung. (2026). "Digital Heritage Archive": Aksi Komunal Remaja Mengarsipkan Lagu Daerah Lawas.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

5 + 8 = ?
Berita Terkait