Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Membangun Kebanggaan Menjadi Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA 18 Sep 2026 02:16 Admin NA 21 kali dibaca
Peran Generasi Muda, Pendidikan, dan Teknologi dalam Pelestarian Adat. Membangun Kebanggaan Menjadi Orang Lampung. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para keturunan Sai Bumi Ruwa Jurai yang kami banggakan. Marilah kita duduk sejenak di beranda ini, di bawah naungan rumah adat yang telah berdiri kokoh sejak zaman leluhur. 
Biarlah angin sore yang berhembus lembut menemani kita, sementara suara gamolan terdengar sayup-sayup dari kejauhan, mengingatkan kita pada akar yang tak pernah putus.

Dahulu kala, di Kampung Negeri Ratu yang terletak di kaki Gunung Pesagi, hiduplah seorang pemuda bernama Radin Gading. Ia adalah keturunan dari garis Umpu Belunguh, salah satu dari empat Umpu yang menyebarkan Islam di tanah Skala Brak. 
Radin Gading dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan gagah, tetapi ia memiliki satu kelemahan: ia malu mengakui bahwa ia orang Lampung. Di sekolah di kota, ia lebih senang menggunakan bahasa Indonesia dan berpura-pura berasal dari daerah lain. Ia menganggap adat istiadat kampungnya kuno dan tidak keren.

Suatu hari, kampung mereka kedatangan musibah. Hujan deras mengguyur selama tiga hari tiga malam, menyebabkan Way Pengubuan meluap dan merendam sawah-sawah mereka. Tanaman padi yang hampir panen terendam, dan warga kampung dilanda kepanikan. Para tetua adat berkumpul di Balai Adat untuk bermusyawarah, tetapi mereka kebingungan karena banyak pemuda pemudi yang merantau dan tidak kembali.

Di tengah keputusasaan, Puyang Keramat, seorang Punyimbang sepuh yang usianya telah melewati seratus tahun, memanggil Radin Gading. "Cucuku," katanya dengan suara lirih, "apakah kau masih ingat ajaran sakai sambayan yang pernah kau dengar di pangkuanku dulu? Bahwa orang Lampung tidak pernah menyerah, bahwa kita adalah satu bumi, ruwa jurai, yang saling menguatkan?"
Radin Gading tertunduk. Ia teringat masa kecilnya, ketika ia ikut serta dalam kerja bakti membersihkan saluran air bersama warga. Saat itu ia merasa bangga, tetapi kemudian rasa bangga itu hilang digantikan oleh rasa malu yang keliru. 
Puyang Keramat melanjutkan, "Ingatlah, nak, bahwa piil pesenggiri bukanlah gengsi kosong, melainkan harga diri yang harus dijaga dengan perbuatan nyata. Kembalilah ke kampung, kumpulkan saudara-saudaramu, karena hanya dengan bersatu kita bisa selamat."
Kata-kata Puyang itu seperti petir di siang bolong. Radin Gading tersadar. Ia segera menghubungi kawan-kawannya yang merantau, mengirim pesan melalui surat dan utusan. "Mari pulang," tulisnya, "kampung kita membutuhkan kita." Satu per satu pemuda dan pemudi Kampung Negeri Ratu kembali. 
Mereka bergotong-royong membersihkan saluran air, memperbaiki tanggul yang jebol, dan membantu para petani menyelamatkan sisa-sisa panen mereka. Dalam waktu sepekan, kampung itu pulih. Radin Gading akhirnya memahami bahwa Pesenggiri, harga diri sejati, bukanlah tentang menyembunyikan identitas, melainkan tentang bangga menjadi bagian dari Sai Bumi Ruwa Jurai dan turut serta dalam menjaga marwah adat.

Dari cerita ini, kita belajar bahwa kebanggaan menjadi orang Lampung tidak datang dengan sendirinya. Ia harus dipupuk, dirawat, dan diaktualisasikan dalam perbuatan nyata. Seperti kata petuah, "Juluk adok segagham muli, gelar pusaka turun temurun; sakai sambayan jadi penyuluh, nengah nyappur perekat hidup."

Cerita Radin Gading hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang mengajarkan kita tentang pentingnya identitas. Untuk benar-benar memahami siapa kita, kita harus menelusuri jejak leluhur yang telah berjalan ribuan tahun sebelum kita. 
Suku Lampung, sebagaimana disebut dalam berbagai naskah kuno, memiliki dua aliran besar yang kita kenal sebagai Sai Batin dan Pepadun. Istilah Sai Bumi Ruwa Jurai, "satu bumi dua aliran," bukanlah sekadar semboyan. Ia adalah pengakuan bahwa di tanah Lampung ini, dua kelompok budaya yang berbeda dapat hidup berdampingan, saling menghormati, dan saling mengisi.

Menurut naskah Kuntara Raja Niti, yang menjadi kitab rujukan hukum adat Lampung, asal muasal masyarakat Lampung bermula dari Skala Brak. Konon, wilayah ini pertama kali dihuni oleh suku Tumi yang menganut kepercayaan animisme. Mereka mengagungkan sebatang pohon bernama lemasa kepampang, sejenis nangka dengan dua cabang yang dipercaya memiliki kekuatan magis. Namun, semuanya berubah ketika masuknya Islam ke tanah Lampung. 
Empat Umpu, yakni Umpu Berjalan di Way, Umpu Belunguh, Umpu Nyerupa, dan Umpu Peranong, datang dan menyebarkan ajaran Islam. Mereka bersahabat dengan Puteri Bulan, penduduk setempat, dan bersama-sama mereka menebang pohon lemasa kepampang. Dari kayu pohon itulah kemudian dibuat pepadun, singgasana adat yang menjadi simbol kepemimpinan dan persatuan. Sejak saat itu, animisme perlahan hilang dari tanah Lampung, dan Islam menjadi agama yang dianut mayoritas masyarakat.

Nama Gunung Pesagi di Lampung Barat juga menyimpan cerita penting. Gunung tertinggi di Lampung ini dianggap sakral oleh masyarakat adat, terutama suku Lampung Pepadun di wilayah Liwa. Masyarakat percaya bahwa di gunung itulah bersemayam roh leluhur mereka, Minak Keramat, seorang tokoh yang diyakini sebagai pendiri dan pelindung keturunan Lampung Barat. 
Minak Keramat digambarkan memiliki kekuatan spiritual yang tinggi, dan kisahnya dipelihara melalui tradisi lisan dan upacara adat. Kepercayaan ini bukanlah kesyirikan, melainkan bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berjasa menjaga tanah dan adat. Gunung Pesagi, bagi kami, adalah pengingat bahwa kami memiliki akar yang dalam dan sejarah yang panjang, yang patut dibanggakan.

Dalam adat Pepadun, status sosial tidaklah statis. Seseorang dapat mencapai gelar tinggi melalui upacara Cakak Pepadun, atau naik singgasana. Upacara ini bukan sekadar pesta, melainkan sebuah prosesi sakral yang menandai pengakuan masyarakat terhadap kemampuan dan dedikasi seseorang. 
Dengan kata lain, dalam Pepadun, siapa pun bisa menjadi Pemimpin jika ia memenuhi syarat, seperti memiliki penguasaan adat, kemampuan memimpin, dan restu dari para Punyimbang. Ini berbeda dengan Sai Batin yang lebih mengutamakan garis keturunan. Namun perbedaan ini bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan untuk disyukuri sebagai bagian dari kekayaan budaya Lampung.

Saudara-saudara, jika kita ingin berbangga menjadi orang Lampung, kita harus memahami dan menghayati falsafah hidup kita, yaitu Piil Pesenggiri. Banyak orang yang salah kaprah mengartikannya sebagai sekadar gengsi atau keangkuhan. Padahal, Piil Pesenggiri bukanlah tentang kesombongan, melainkan tentang harga diri yang dijunjung tinggi, integritas yang tak tergoyahkan, dan kehormatan yang dijaga dengan tutur kata dan perbuatan. Falsafah ini adalah way of life orang Lampung, yang di dalamnya terkandung lima pilar utama: Pesenggiri, Juluk-Adok, Nemui Nyimah, Nengah Nyappur, dan Sakai Sambayan.
Dalam setiap upacara adat, dari Begawi yang meriah hingga Cakak Pepadun yang sakral, nilai-nilai Islam selalu menyatu. Masyarakat Lampung memahami bahwa adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Tidak ada pertentangan di antara keduanya. 
Tradisi Busunat pada masyarakat Lampung Saibatin, misalnya, bukan hanya sekadar upacara adat, tetapi juga sarana untuk memperkuat tali silaturahmi dan menanamkan nilai-nilai keislaman seperti akidah, ibadah, dan akhlak mulia.

Mari kita telaah satu per satu pilar Piil Pesenggiri ini dalam terang ajaran Islam:

Pertama, Pesenggiri, harga diri dan kehormatan. Ini adalah fondasi dari segala sikap dan perilaku orang Lampung. Harga diri yang kita junjung bukanlah arogansi, melainkan ketakwaan. Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 13, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." Dengan memahami ayat ini, kita tahu bahwa Pesenggiri yang sejati adalah menjaga martabat sebagai hamba Allah melalui akhlak yang mulia, bukan dengan menyombongkan diri.

Kedua, Juluk-Adok, gelar kehormatan. Gelar dalam adat Lampung bukanlah sekadar nama, melainkan amanat dan tanggung jawab. Seseorang yang menyandang gelar seperti Suttan, Raja, atau Dalom harus mampu menjaga perilakunya karena gelar itu adalah cerminan dari seluruh keluarga besarnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian" (HR. Muslim). Gelar adalah pengingat, bukan kebanggaan yang menyesatkan.

Ketiga, Nemui Nyimah, keramahan dan saling memberi. Sikap ramah dan suka memberi adalah cerminan dari akhlak mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya" (HR. Bukhari dan Muslim). Tradisi Nemui Nyimah ini terlihat jelas dalam setiap acara adat, di mana tuan rumah menyambut tamu dengan senyuman dan hidangan tanpa pamrih.

Keempat, Nengah Nyappur, keterbukaan dan bersosialisasi. Islam mengajarkan umatnya untuk saling mengenal dan menjalin silaturahmi. Dengan Nengah Nyappur, kita menerapkan nilai ta'aruf yang disebutkan dalam QS. Al-Hujurat: 13. Sikap terbuka ini membuat masyarakat Lampung dikenal ramah dan mudah beradaptasi dengan pendatang. Ini mengajarkan kita untuk tidak membeda-bedakan suku, agama, atau golongan dalam pergaulan sehari-hari.

Kelima, Sakai Sambayan, gotong-royong dan kerja sama. Ini adalah inti dari solidaritas sosial, yang dalam Islam disebut sebagai ta'awun. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 2, "Dan tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran."

Semangat Sakai Sambayan inilah yang telah menyelamatkan Kampung Negeri Ratu dari bencana. Tanpa kebersamaan, tanpa gotong-royong, mereka pasti akan binasa.
Saudara-saudara, setelah kita memahami sejarah, identitas, dan nilai-nilai luhur adat Lampung, kini tibalah saatnya bagi kita untuk bertanya: bagaimana kita mewariskan semua ini kepada generasi penerus? Anak-anak muda kita lebih akrab dengan layar ponsel daripada cerita dongeng di beranda. 
Namun, bukankah ini justru peluang besar? Seperti yang sering diingatkan oleh para budayawan, peran konten kreator di era digital sangat penting karena sekarang banyak anak muda sudah malas membaca buku panjang.

Konten digital bisa menjadi cara paling efektif untuk mengedukasi mereka tentang budaya tanpa terkesan menggurui.
Bayangkan potensinya. Kita bisa mengemas kisah Radin Gading yang hampir kehilangan identitasnya menjadi video pendek yang inspiratif di TikTok. Kita bisa membuat podcast santai berdurasi 15 menit tentang filosofi Piil Pesenggiri, diiringi alunan gamolan atau gitar akustik khas Lampung. 
Kita bisa membuat serial Instagram Reel yang menampilkan prosesi Cakak Pepadun atau Begawi dengan narasi ringan dan visual memukau. Bahkan, kita bisa mengadakan kuis daring tentang sejarah marga atau tantangan menari Tari Sembah untuk meningkatkan partisipasi anak muda.

Tapi ingat, konten yang kita buat bukanlah sekadar hiburan kosong. Ia harus mengandung pesan edukatif yang memperkuat identitas dan kebangsaan. Kita harus menonjolkan keselarasan antara adat dan agama, serta menanamkan nilai-nilai Pancasila secara natural. 
Dengan konten digital, kita bisa memastikan bahwa adat Lampung tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah arus globalisasi. Seperti petuah yang sering saya dengar dari para sesepuh, "Kita harus bisa berjalan di dua kaki: satu di tanah adat, satu di dunia modern."
Tabik pun, kembali kita diingatkan bahwa adat dan budaya adalah ruh yang menghidupkan jati diri kita sebagai masyarakat Lampung dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Kebanggaan menjadi orang Lampung bukanlah tentang kesombongan, melainkan tentang menghargai akar, menjaga kehormatan, dan berkontribusi untuk kebersamaan.

Dengan memegang teguh Piil Pesenggiri, kita bukan hanya menjaga harga diri pribadi dan keluarga, tetapi juga memperkuat identitas kebangsaan di tengah keberagaman Indonesia.
Ingatlah selalu petuah dari Kitab Kuntara Raja Niti yang tertulis: "Sikam kugha sikam bubuk, sikam tani sikam jukuk; pesenggiri dijaga teguh, adat istiadat pantang dilupakan." Mari kita rawat warisan ini dengan penuh cinta, baik secara tradisional maupun digital. 
Semoga tulisan ini menjadi pemantik semangat bagi kita semua untuk terus berkarya dan melestarikan adat Lampung demi masa depan yang lebih cerah.
Aamiin.

Daftar Pustaka:
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Natar Agung.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Tata Krama Orang Lampung: Etika Bicara, Bersikap, dan Bertindak. Seri – 7. Natar Agung.
3. Hadikusuma, Hilman. (1989). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
4. "Katalog Warisan Budaya Takbenda Indonesia". (2018). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
5. Masita. (2026). Aktualisasi Nilai-Nilai Falsafah Piil Pesenggiri dalam Pemberdayaan Masyarakat Islam. Disertasi Doktor, UIN Raden Intan Lampung.
6. Tiara, Mutia Putri. (2025). Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Busunat Masyarakat Adat Lampung Saibatin Desa Kunyayan Kecamatan Wonosobo Kabupaten Tanggamus. Skripsi, UIN Raden Intan Lampung.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 2 = ?
Berita Terkait