Mengenal Rujih, Simbal Kuno dari Lampung Penjaga Irama Talo Balak dan Wayang Sekelik Sebagai Sarana Merawat Sastra Tutur Warahan

SOSIAL DAN BUDAYA • 06 Oct 2026 06:33 • Admin NA • 36 kali dibaca
Mengenal Rujih, Simbal Kuno dari Lampung Penjaga Irama Talo Balak dan Wayang Sekelik Sebagai Sarana Merawat Sastra Tutur Warahan

_Foto: Koleksi Rujih/Simbal Talo Balak berbahan kuningan dengan tali pengikat warna-warni_

nataragung.id - Tegineneng - Di tengah gempuran musik modern, Lampung masih menyimpan kekayaan alat musik tradisional yang megah dan penuh makna. Salah satunya adalah Rujih.

Rujih adalah salah satu instrumen penting dalam kesatuan perangkat alat musik Talo Balak, ansambel gamelan tradisional kebanggaan masyarakat Lampung. Jika Talo Balak adalah orkestranya, maka Rujih adalah penjaga aksen dan kemeriahannya.

Rujih terbuat dari logam pilihan seperti kuningan, tembaga atau besi. Bentuknya pipih melingkar seperti piringan kecil dengan tonjolan di bagian tengah sebagai tempat pegangan.

Alat musik ini terdiri dari sepasang (dua buah) yang saling berpasangan. Di bagian tengahnya diberi lubang untuk diikat tali sebagai pegangan. Cara memainkannya pun unik dan sederhana namun membutuhkan kepekaan ritme, dipegang dengan tangan kiri dan kanan, kemudian dibunyikan dengan cara diadu keduanya. Dari aduan itulah lahir suara "cing... cing..." yang nyaring, jernih dan menjadi penanda tempo.

Dalam perangkat Talo Balak, Rujih biasa juga disebut Gujih atau Simbal kecil. Perannya sangat vital. Ansambel Talo Balak yang terdiri dari gong besar (Gung), gong kecil (Bende), bonang/kulintang, gendang, dan Rujih ini biasanya dimainkan oleh 5-7 hingga 15-30 orang dalam upacara adat besar.

Secara fungsi sosial budaya, Talo Balak termasuk Rujih di dalamnya tidak dimainkan sembarangan. Alat ini menjadi pengiring wajib dalam seperti untuk Upacara Adat Begawi Cakak Pepadun, sebagai simbol kemegahan dan status sosial dalam hierarki adat Lampung.

Mengiringi Tari Sigeh Penguten, tari selamat datang kebesaran Lampung.

Pertunjukan Wayang Sekelik, untuk membangun suasana riang, sedih maupun tegang.

Istilah Talo sendiri bermakna gong atau gema, sedangkan Balak berarti besar. Penyamaan nama Talo Balak sendiri disepakati pada seminar adat tahun 1989 di Bandar Lampung, untuk menyatukan berbagai penyebutan seperti Kelenongan, Kulintang, hingga Gamolan Balak (istilah di wilayah Saibatin Skala Brak).

Sayangnya, keberadaan Rujih dan perangkat Talo Balak kini mulai langka dan hanya dimiliki oleh kelompok adat atau sanggar tertentu. Padahal bahan pembuatannya yang dari logam kuningan membuatnya tahan lama hingga ratusan tahun seperti yang terlihat pada foto ini yang masih terawat meski sudah berusia.

_Wayang Sekelik_

Ada hal menarik tentang apa yang dimaksud dengan Wayang Sekelik. Perlu di pahami bahwa Wayang Sekelik itu bukan wayang Jawa, tapi Wayang Khas Lampung yang baru.

Wayang Sekelik adalah pertunjukan wayang hasil akulturasi budaya Jawa dan Lampung. Secara visual mirip Wayang Kulit Jawa, tapi isinya 100 persen Lampung.

Diciptakan pertama kali tahun 2005 oleh dalang Supriyanto, S.Sn., M.M. (gelar Pangeran Nata Wijaya), dosen pewayangan lulusan ISI Yogyakarta yang tinggal di Kampung Yukum Jaya, Terbanggi Besar, Lampung Tengah.

Awalnya tercetus dari diskusi tokoh adat Tulang Bawang Megou Pak tentang Warahan - yaitu sastra tutur lisan Lampung yang isinya legenda, mitos, dan sejarah - yang selama ini hanya diceritakan tanpa gambar. Supaya mudah dipahami anak muda, Warahan itu divisualkan lewat wayang.

Dalam Bahasa Lampung, Sekelik artinya Saudara. Pemberian nama ini harapan penciptanya agar kesenian ini bisa diterima dengan semangat persaudaraan, sesuai falsafah orang Lampung Tengah: Nemui Nyimah dan Nengah Nyappur yang artinya ramah, pandai bergaul, dan bisa menerima satu sama lain.

Dulu orang Lampung sebenarnya sudah punya wayang yang disebut "Lineu" artinya bayangan, tapi bentuknya sangat sederhana. Sekarang lebih dikenal dengan sebutan Wayang.

Kemudian apa bedanya dengan Wayang Jawa? Ada beberapa perbedaan antara wayang sekelik dan wayang Jawa yaitu:

Alur cerita, kalau wayang Jawa lakonnya Ramayana-Mahabharata, Wayang Sekelik lakonnya legenda lokal Lampung, seperti Legenda Terjadinya Gunung Sugih, Legenda Pulau Apus, Kisah Patih Guling Sekaro.

Kemudian ornamen wayang. Di gunungan dan tokohnya ada siger (mahkota Lampung), ornamen pucuk rebung, dan simbol Siwo Migo / Sembilan Marga.

Dari sisi musik pengiring, bukan gamelan Jawa, tapi Talo Balak (yang Rujih tadi bagian di dalamnya). Tabuhannya punya nama sendiri seperti tabuh rajo menggalo, tabuh layang kasiwan, tabuh alau-alau, tabuh sanak miwang untuk adegan sedih.

Bahasa dan  Sastra, dialognya pakai Bahasa Lampung, ada sinden pria-wanita yang menyanyikan begurau, panggeh-ringgeh, ngedio, bebandung, ringget, pepacul.

Sehingga secara singkat, Wayang Sekelik itu adalah satu kesatuan seni pertunjukan yang menggabungkan wayang kulit, wayang orang,  sastra, musik Talo Balak dan tari Lampung dalam satu panggung.

Karena itu dalam penelitian FKIP Unila disebutkan Wayang Sekelik sebagai "Media Ekspresi Seni Pertunjukan Multikultur di Lampung Tengah."

Melestarikan Rujih dan wayang sekelik berarti melestarikan identitas Sang Bumi Ruwa Jurai. Sudah saatnya generasi muda Lampung kembali mengenal bunyi cing-cing dari Rujih sebagai jati diri, bukan sekadar tontonan museum. (*)

Editor: SyahidanMh

#alatmusiktradisional #lampung #budayaindonesia #kesenianindonesia #TaloBalak #Rujih  #WayangSekelik #budayalampung

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

2 + 9 = ?
Berita Terkait