Mengkaji Tantangan Globalisasi, Modernisasi, dan Perubahan Sosial. Modernisasi Tanpa Kehilangan Akar Budaya. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)
nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun, para pembaca budiman, saudara-saudaraku sei-Bumi Ruwa Jurai. Malam ini, izinkanlah saya, sebagai seorang penyimbang yang telah menyaksikan sendiri bagaimana zaman bergulir dari masa ke masa, bercerita di beranda sederhana ini.
Angin malam dari arah Bukit Barisan mengingatkan saya pada sebuah kisah dari Kampung Buyut Ilir, di tanah Lampung Tengah, tempat pepohonan tua masih setia menjadi saksi bisu perjalanan waktu dan generasi.
Di kampung itu, hiduplah seorang pemuda bernama Dalom Sutan Gumanti. Ia adalah keturunan dari marga Unyi, salah satu marga tertua yang tercatat dalam silsilah adat Pepadun. Menurut cerita turun-temurun, marga Unyi berasal dari keturunan para penyimbang yang membawa ajaran Kitab Kuntara Raja Niti dari tanah Jawa ke Lampung pada abad ke-15.
Sutan Gumanti adalah anak ketiga dari Dalom Pangeran Jaya, seorang tetua kampung yang sangat dihormati. Berbeda dengan kebanyakan pemuda di kampungnya, Sutan Gumanti sangat gemar dengan teknologi. Ia memiliki ponsel pintar, mahir menggunakan media sosial, dan selalu mengikuti perkembangan dunia dari layar kecil di tangannya. Setiap malam, ia menghabiskan waktu berjam-jam menonton video dari luar negeri, membaca berita global, dan berinteraksi dengan teman-teman dari berbagai daerah.
Namun, kekagumannya pada dunia modern membuatnya mulai meremehkan adat istiadat. Ia enggan mengenakan pakaian adat saat upacara Begawi, malas belajar aksara Lampung, dan sering beralasan sibuk ketika diminta ikut gotong-royong atau Sakai Sambayan.
Suatu hari, ketika para tetua berkumpul untuk membahas persiapan Cangget Agung yang akan digelar dalam sebulan, Sutan Gumanti justru asyik bermain ponsel di sudut ruangan, tidak peduli dengan apa yang dibicarakan. Orang tuanya menegur dengan lembut, tetapi ia hanya mengangkat bahu dan berkata, "Itu semua kuno, Ayah. Zaman sudah berubah. Kita harus mengikuti perkembangan."
Suatu hari, kampung itu kedatangan seorang tamu penting dari Jakarta, seorang pejabat kementerian yang ingin belajar tentang budaya Lampung. Para tetua kampung kebingungan, karena tidak ada satu pun pemuda yang bisa menjelaskan makna di balik tarian Cangget atau filosofi rumah adat.
Sutan Gumanti dipanggil oleh penyimbang kampung, Dalom Jaya Makhga, seorang tetua yang telah mempelajari Kitab Kuntara Raja Niti selama puluhan tahun. Dengan lembut namun tegas, sang penyimbang berkata, "Nak Sutan Gumanti, kau pandai berbicara tentang dunia luar, tapi apakah kau tahu petuah dari kitab yang menjadi pedoman hidup kita selama ratusan tahun?" Beliau lalu membacakan sebuah kutipan dari Kitab Kuntara Raja Niti:
"Mayuh Tiyuh: kamak di mukak di bulakang, mak bupungkalan, mak busesat, mak bulanggar mak bumusigit, mak ngegantung kalekup, mak begeduk, hun kuruk tiyan mak ngendu dandan batin, mak bukahandak, kurang kanian, punyimbang lom tiyuh mak sai tungkul."
Sutan Gumanti terdiam. Ia tidak mengerti apa maksud petuah itu. Sang penyimbang menjelaskan dengan sabar, petuah ini mengajarkan tentang sepuluh hal yang membuat sebuah kampung menjadi buruk jika dilanggar: tidak ada kejujuran, tidak ada kerukunan, tidak ada kepatuhan, dan para pemimpin yang tidak becus.
"Kampung kita," lanjut sang penyimbang, "akan menjadi mayuh tiyuh jika generasi mudanya melupakan adat, karena tanpa adat, kita kehilangan arah dan identitas. Kau mungkin bisa berbicara tentang dunia luar dengan lancar, tetapi jika kau tidak mengenal kampung halamanmu sendiri, apa bedanya kau dengan sebatang pohon yang tumbang?"
Kisah Sutan Gumanti ini adalah cerminan dari tantangan yang kita hadapi di era modernisasi dan globalisasi. Teknologi memang membawa kemudahan yang luar biasa. Kita bisa berkomunikasi dengan sanak saudara di perantauan melalui panggilan video, mengakses ilmu pengetahuan dari seluruh dunia hanya dalam hitungan detik, dan bahkan mempromosikan budaya Lampung ke mata dunia melalui media sosial dengan biaya yang sangat murah.
Namun, di sisi lain, arus modernisasi yang deras seringkali menggerus nilai-nilai luhur yang telah menjadi identitas kita selama berabad-abad. Generasi muda kita lebih akrab dengan ponsel daripada dengan aksara Lampung, lebih sibuk dengan dunia maya daripada dengan gotong-royong di kampung halaman, dan lebih bangga mengikuti tren global daripada mengenakan pakaian adatnya sendiri.
Sejarah mencatat, orang Lampung bukanlah masyarakat yang tertutup. Kita adalah bangsa pelaut dan pedagang yang telah berinteraksi dengan dunia luar sejak zaman kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Kitab-kitab kuno seperti Kuntara Raja Niti dan Kingschap yang ditulis oleh para penyimbang pada abad ke-17 menunjukkan bahwa leluhur kita adalah pemikir-pemikir besar yang terbuka pada perubahan, namun tetap berpegang pada nilai-nilai luhur.
Dalam Kitab Kuntara Raja Niti, misalnya, dijelaskan tentang pentingnya kepemimpinan yang bijaksana, keadilan, dan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Ini menunjukkan bahwa modernisasi sebenarnya bukanlah hal baru bagi orang Lampung, karena leluhur kita juga pernah menghadapi perubahan besar ketika Islam masuk ke tanah Lampung pada abad ke-15.
Sebagai orang Lampung, kita memiliki bendera untuk menghadapi arus perubahan ini, yaitu Pi'il Pesenggiri. Dalam falsafah ini, terkandung nilai-nilai yang telah terbukti kokoh selama berabad-abad: Juluk-Adok (harga diri dan gelar kehormatan), Nemui Nyimah (keramahtamahan), Nengah Nyappur (keterbukaan dan bersosialisasi), dan Sakai Sambayan (gotong-royong). Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi identitas kita sebagai orang Lampung, sebuah identitas yang tidak lekang oleh waktu.
Pi'il Pesenggiri bukanlah penghalang kemajuan, melainkan kompas yang akan menuntun kita agar tidak tersesat di tengah arus modernisasi. Seseorang yang memiliki pesenggiri yang kuat tidak akan mudah terombang-ambing oleh tren global, karena ia tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, dan ke mana ia akan melangkah.
Lalu, bagaimana kita bisa menerima kemajuan teknologi tanpa kehilangan akar budaya? Jawabannya ada pada kearifan lokal yang kita miliki. Kita bisa memanfaatkan teknologi untuk melestarikan budaya, bukan sebaliknya. Misalnya, kita bisa membuat konten digital tentang budaya Lampung, mengajarkan bahasa Lampung melalui aplikasi, atau mendokumentasikan upacara adat dalam bentuk video yang bisa diakses oleh generasi muda di mana saja.
Pemerintah Provinsi Lampung sendiri telah berupaya mengarusutamakan bahasa dan kebudayaan dalam pembangunan daerah, melalui Perda Nomor 11 Tahun 2024 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Lampung, serta mengintegrasikan muatan lokal bahasa dan aksara Lampung di sekolah-sekolah.
Di Kampung Buyut Ilir, misalnya, para pemuda kini mulai belajar menggunakan media sosial untuk mempromosikan upacara Begawi dan Cangget Agung. Mereka merekam tarian adat, menuliskan cerita di balik setiap gerakan, dan membagikannya ke dunia. Hasilnya, banyak wisatawan dari luar Lampung yang tertarik datang dan belajar tentang adat kita. Sutan Gumanti, setelah ditegur oleh Dalom Jaya Makhga, mulai berubah.
Ia belajar bahwa ponselnya bisa digunakan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Ia mulai merekam tarian Cangget, mewawancarai para tetua tentang sejarah marga Unyi, dan membuat konten menarik yang memperkenalkan budaya Lampung kepada anak-anak muda. Kontennya menjadi viral, dan banyak pemuda dari kampung lain yang terinspirasi untuk melakukan hal serupa.
Di tempat lain, Festival Nemui Nyimah yang digelar oleh Pemerintah Provinsi Lampung menjadi ajang untuk merawat kebhinekaan dan memperkenalkan budaya Lampung kepada wisatawan lokal maupun nasional. Festival ini menggabungkan unsur adat dengan kemasan modern, sehingga menarik bagi generasi muda. Ini adalah contoh nyata bahwa modernisasi dan pelestarian budaya bisa berjalan beriringan, saling menguatkan, dan bukan saling bertentangan.
Nilai-nilai luhur ini juga sejalan dengan ajaran agama dan Pancasila. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya,
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.
Ayat ini turun untuk mengajarkan bahwa keberagaman adalah sunnatullah, dan kemuliaan seseorang tidak diukur dari status sosial atau kekayaan, melainkan dari ketakwaannya. Dalam konteks modernisasi, ayat ini mengajarkan kita untuk tetap berpegang teguh pada nilai-nilai ketakwaan dan identitas kita, tanpa harus menutup diri dari interaksi dengan bangsa lain. Islam tidak melarang umatnya untuk maju dan berkembang, selama tidak melanggar syariat dan tetap menjaga akhlak mulia.
Sementara itu, nilai-nilai Pi'il Pesenggiri juga selaras dengan Pancasila, khususnya sila ketiga, Persatuan Indonesia, dan sila kelima, Keadilan Sosial. Sakai Sambayan adalah wujud nyata dari gotong-royong yang menjadi semangat bangsa Indonesia. Nengah Nyappur dan Nemui Nyimah mengajarkan toleransi dan keterbukaan, yang merupakan kunci untuk menjaga persatuan di tengah keberagaman.
Dalam konteks modernisasi, Pancasila mengajarkan kita untuk menjadi bangsa yang terbuka terhadap kemajuan, tetapi tetap memiliki kepribadian dan jati diri yang kuat. Sebagai orang Lampung, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan adat ini, karena ia bukan hanya milik kita, tetapi juga milik bangsa Indonesia.
Maka, marilah kita menjadi seperti pohon bambu yang kokoh: akarnya tertancap kuat di tanah adat, tetapi daunnya menjulang tinggi, menyentuh langit modernisasi. Jangan biarkan teknologi menggantikan kearifan, tetapi gunakan teknologi sebagai alat untuk menyebarkan kearifan.
Ajari anak-anak kita untuk bangga menjadi orang Lampung, untuk mengenal silsilah marga mereka, untuk bisa menulis aksara Lampung, dan untuk memahami makna di balik setiap upacara adat. Sebagaimana petuah yang sering diucapkan oleh Dalom Putekha Jaya Makhga: "Induk ayam dikenal dari telurnya, induk harimau dikenal dari belangnya, dan manusia dikenal dari budi pekertinya." Tabik pun.
Daftar Pustaka:
1. Yustiana, B.A., Prayogi, R., & Hilal, I. (2024). Strategi Pelestarian Eksistensi Bahasa Lampung dalam Konteks Keberagaman Bahasa Daerah di Indonesia. Jurnal Punyimbang, 4(1).
2. Penerapan Nilai Piil Pesenggiri bagi Generasi Muda di Era Globalisasi Ditinjau dari Perspektif Sosiologi Hukum. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025).
3. Festival Nemui Nyimah. Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung, 2025.
4. Utami, A.D.I., Warto, & Sariyatun. (2019). Penguatan Pendidikan Karakter melalui Pembelajaran Sejarah Berbasis Kitab Kuntara Raja Niti. Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya, 13(2).
5. Preservation Strategies of Lampung Culture amidst the Challenges of Globalization and Modernity. (Garuda Kemdiktisaintek, 2025).
6. Pemprov Lampung Dorong Pengarusutamaan Bahasa dan Kebudayaan dalam Pembangunan Daerah. Pemerintah Provinsi Lampung, 2025.
7. Bahagianda, M.M. (2025). Sejarah Asal-Usul Marga Pubian Bukuk Jadi di Lampung. Natar Agung.
8. Bahagianda, M.M. (2026). Buku Seri Dari Saibatin hingga Pepadun, Tradisi yang Kian Ditinggalkan. Seri 5: Modernisasi dan Adat. Natar Agung.
9. Hadikusuma, H. (1990). Masyarakat dan Adat Budaya Lampung. Bandung: Mandar Maju.
10. Al-Qur'an dan Terjemahnya. (Surah Al-Hujurat: 13).
*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!
Tinggalkan Komentar