Mewariskan Adat Lampung kepada Generasi yang Lebih Dekat dengan Layar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

SOSIAL DAN BUDAYA • 28 Oct 2026 00:10 • Redaksi NATARAGUNG.ID • 21 kali dibaca
Mewariskan Adat Lampung kepada Generasi  yang Lebih Dekat dengan Layar. Oleh: Mohammad Medani Bahagianda *)

nataragung.id – Bandar Lampung – Tabik pun.
Malam itu, di teras rumah panggung di Pekon Kenali, Lampung Barat, seorang cucu bertanya kepada kakeknya sambil menatap layar gawai. “Kek, kata teman di grup, adat Lampung itu kuno. Bener nggak?”
Kakek tidak langsung menjawab. Ia menyeruput kopi, lalu tersenyum. “Coba kamu buka YouTube. Cari ‘Si Pahit Lidah’.”
Cucu itu mengetik. Beberapa detik kemudian, sebuah film animasi 3D buatan mahasiswa Institut Teknologi Sumatera muncul di layar. Cerita rakyat Lampung tentang raja yang kutukannya membakar lidah lawan bicaranya itu mengalir dengan gambar hidup, suara jelas, dan durasi yang pas untuk anak seusianya.
Kakek tertawa pelan. “Itu baru namanya menjaga adat. Bukan disembunyikan di lemari, tapi ditaruh di layar.”
Saya pernah mendengar keluhan yang sama ratusan kali. “Anak sekarang tidak peduli adat.” Tapi saya selalu membantah dalam hati. Anak-anak itu bukan tidak peduli. Mereka hanya belum menemukan pintu yang cocok untuk masuk.
Dulu, pintu itu adalah balai adat. Kita duduk melingkar, mendengar penyimbang berbicara berjam-jam, dan pulang membawa cerita. Sekarang, balai itu jarang didatangi. Tapi bukan berarti ceritanya harus ikut mati.

Di Pekon Kunyayan, Tanggamus, seorang pemuda membuat konten Instagram tentang Lamban Langgah, rumah adat Lampung yang mulai dilupakan. Videonya singkat, tidak lebih dari satu menit. Tapi dalam sebulan, lebih dari sepuluh ribu orang menontonnya. Ada yang berkomentar: “Baru tahu saya ada rumah adat seperti ini di Lampung.”
Itulah kekuatan zaman. Dulu, satu orang tua bercerita kepada sepuluh anak di beranda. Sekarang, satu video bisa bercerita kepada sepuluh ribu anak di seluruh dunia. Sai Bumi Ruwa Jurai tidak kehilangan pendengarnya. Ia hanya berpindah panggung.
Tapi saya tidak akan berdusta. Teknologi juga membawa bahaya. Anak-anak bisa tenggelam dalam tontonan yang jauh dari adat, sementara cerita leluhur menunggu di sudut, tak pernah dibuka.
Karena itu, saya selalu berpesan kepada para pemuda di kampung: jangan hanya jadi penonton. Jadilah pembuat.

Seorang mahasiswa di Bandar Lampung pernah datang kepada saya. Namanya Febrian. Ia membuat aplikasi belajar aksara Lampung untuk telepon pintar. Di dalamnya ada huruf induk, angka, tanda baca, bahkan suara pengucapannya. Aplikasinya bisa dipakai tanpa internet. “Supaya anak-anak di pelosok tetap bisa belajar,” katanya.
Saya menyalami dia lama. Bukan karena aplikasinya sempurna. Tapi karena ia mengerti satu hal yang sering dilupakan para tetua: adat tidak akan bertahan hanya karena kita mengenangnya. Adat bertahan karena ada tangan-tangan baru yang merawatnya.

Kitab Kuntara Raja Niti mengajarkan satu prinsip yang tidak pernah basi: adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah. Adat berdiri di atas syariat, dan syariat berdiri di atas Al-Qur’an.
Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman: 
يٰۤاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقۡنٰكُمۡ مِّنۡ ذَكَرٍ وَّاُنۡثٰى وَجَعَلۡنٰكُمۡ شُعُوۡبًا وَّقَبَآٮِٕلَ لِتَعَارَفُوۡا‌ ؕ اِنَّ اَكۡرَمَكُمۡ عِنۡدَ اللّٰهِ اَ تۡقٰٮكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيۡمٌ خَبِيۡرٌ
Yaaa ayyuhan naasu innaa khalaqnaakum min zakarinw wa unsaa wa ja'alnaakum shu'uubanw wa qabaaa'ila lita'aarafuu inna akramakum 'indal laahi atqookum innal laaha 'Aliimun khabiir
"Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti."

Ayat ini turun ketika orang-orang mulai membanggakan nasab dan suku mereka. Islam tidak menghapus suku. Islam hanya meluruskan cara kita memandangnya. Marga, gelar adat, kampung asal, semua itu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk saling mengenal dan menjaga.
Di sinilah Piil Pesenggiri menemukan tempatnya yang tepat. Harga diri bukanlah sombong. Harga diri adalah ketika kita menolak berbuat curang, menolak melupakan leluhur, dan menolak membiarkan adat kita mati di tangan kita sendiri.
Nemui Nyimah mengajarkan keramahan. Nengah Nyappur mengajarkan keterbukaan. Sakai Sambayan mengajarkan gotong-royong. Ketiganya bukan sekadar istilah adat. Ketiganya adalah wajah Islam yang hidup di tanah Lampung.
Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa ingin dilapangkan rezekinya dan ditambah umurnya, maka hendaklah menjalin silaturrahim.” (HR. Bukhari).

Nemui Nyimah adalah silaturrahim yang dibungkus dengan bahasa Lampung. Sakai Sambayan adalah gotong-royong yang menjadi amal jariyah. Nengah Nyappur adalah keterbukaan yang membuat orang lain merasa aman di dekat kita.
Saya pernah bertanya kepada seorang pemuda di Pekon Negeri Katon, Pesawaran, mengapa ia rela menghabiskan waktu membuat video tentang adat. Jawabannya sederhana: “Karena saya ingin anak saya nanti tahu bahwa dia orang Lampung. Bukan hanya dari KTP, tapi dari cerita yang dia dengar dan tonton.”
Jawaban itu menyentuh saya. Karena di situlah letak inti dari semua yang kita bicarakan. Pelestarian adat bukan proyek pemerintah. Bukan pula tugas para penyimbang semata. Pelestarian adat adalah kerja setiap orang yang mengaku orang Lampung.
Kakek tadi menutup gawainya. “Sudah lihat?” tanyanya.
Cucunya mengangguk. “Keren, Kek. Ada lagi?”
Kakek tersenyum. “Banyak. Tapi kamu harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Jangan cuma nonton. Kalau kamu bisa bikin, bikin. Kalau kamu bisa cerita, cerita. Jangan biarkan adat ini mati karena kamu hanya jadi penonton.”

Cucu itu diam. Lalu ia mengambil gawainya kembali. “Kek, aku mau coba bikin video tentang wawancan. Boleh Kek ajarin?”
Malam itu, di beranda rumah panggung di Pekon Kenali, adat Lampung tidak mati. Ia berpindah tangan, dari mulut seorang kakek ke layar seorang cucu.
Tabik pun.

Daftar Pustaka
1. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Buku Seri – Asal Muasal Marga Way Lima Kabupaten Pesawaran (Seri 1: Siger Pesisir dan Sembilan Pucuk Adat). Hatipena.
2. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2025). Filosofi Tata Krama dan Unggah-Ungguh dalam Pergaulan Sehari-Hari Masyarakat Lampung. Natar Agung.
3. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah (Seri 3: Sakai Sambayan, Gotong Royong sebagai Wujud Amal Saleh). Natar Agung.
4. Bahagianda, Mohammad Medani (Dalom Putekha Jaya Makhga). (2026). Buku Seri Adat Saibatin dan Pepadun, Dua Jalan, Satu Jiwa Lampung (Seri 10: Warisan Nilai untuk Generasi Lampung). Natar Agung.
5. Lembaga Adat Provinsi Lampung. (2005). Kuntara Raja Niti: Pedoman Hidup Masyarakat Adat Lampung.
6. Al-Qur’an Al-Karim, Surah Al-Hujurat (49): 13; Surah Asy-Syura (42): 38.
7. Shahih Bukhari, no. 5986.

*) Penulis Adalah Saibatin dari Kebandakhan Makhga Way Lima. Gelar Dalom Putekha Jaya Makhga, asal Sukamarga Gedungtataan, Pesawaran. Tinggal di Labuhan Ratu, Bandar Lampung.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

3 + 7 = ?
Berita Terkait