Mimbar Jum'at: 7 Hal Yang Membuat Hati Tenang. Menemukan Kedamaian di Tengah Riuhnya Kehidupan Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

MIMBAR JUMAT • 16 Oct 2026 01:32 • Admin NA • 11 kali dibaca
Mimbar Jum'at: 7 Hal Yang Membuat Hati Tenang. Menemukan Kedamaian di Tengah Riuhnya Kehidupan Oleh : Ustadz H. Komiruddin Imron, Lc *)

nataragung.id - Pemanggilan - Tidak semua orang yang tersenyum hatinya bahagia. Tidak semua orang yang memiliki banyak harta hidupnya tenang. Ada orang yang tinggal di rumah mewah, tetapi sulit memejamkan mata. Ada pula yang hidup sederhana, jauh dari kemewahan, tetapi wajahnya memancarkan ketenteraman.

Mengapa demikian?

Sebab, ketenangan hati tidak selalu ditentukan oleh apa yang kita miliki, melainkan oleh bagaimana kita mengenal Allah, menyikapi kehidupan, dan memandang segala sesuatu yang telah ditetapkan-Nya.

Ada persoalan yang tidak selesai hanya dengan banyaknya uang. Ada kegelisahan yang tidak hilang meskipun semua keinginan telah terpenuhi. Ada luka yang tidak mampu disembuhkan oleh pujian manusia. Sebab, hati memiliki kebutuhan yang tidak bisa dipenuhi oleh dunia: ia membutuhkan kedekatan dengan Allah.

Lalu, apa saja yang bisa membuat hati kita tenang?

1.Mengingat Allah dengan Zikir

Di tengah kehidupan yang semakin bising, manusia sering mencari ketenangan ke mana-mana. Ada yang mencarinya dalam kesibukan, hiburan, perjalanan, bahkan dalam harta yang terus dikumpulkan. Namun, setelah semuanya diperoleh, terkadang kegelisahan itu tetap tinggal di dalam dada.

Allah telah menunjukkan tempat kembali bagi hati yang lelah.

Allah berfirman:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Zikir bukan sekadar ucapan yang bergerak di bibir. Zikir adalah kesadaran bahwa kita memiliki Allah yang selalu mendengar doa, mengetahui kesedihan, dan memahami segala sesuatu yang tidak sanggup kita ceritakan kepada siapa pun.

Ketika hati gelisah, ucapkanlah Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, dan Allahu Akbar. Perbanyak istigfar, bacalah Al-Qur'an, dan hadirkan hati ketika berdoa.

Jangan menunggu hidup menjadi sulit untuk mengingat Allah. Ingatlah Dia ketika lapang, agar ketika sempit kita tidak kehilangan arah.

Ketenangan bukan berarti hidup tanpa masalah. Ketenangan adalah ketika masalah datang, tetapi hati masih mengetahui kepada siapa ia harus bersandar.

2.Menjaga Salat dan Mendekatkan Diri kepada Allah

Ada kalanya kita begitu sibuk mencari jalan keluar hingga lupa mendatangi Dzat yang memiliki segala jalan keluar.

Kita menghubungi banyak orang, meminta pendapat ke sana kemari, dan memikirkan berbagai kemungkinan. Semua itu boleh dilakukan. Namun, jangan sampai kita melupakan salat, tempat seorang hamba berdiri di hadapan Rabb-nya.

Allah berfirman:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ

"Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu." (QS. Al-Baqarah: 45)

Salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan agar terbebas dari dosa meninggalkannya. Salat juga merupakan kesempatan bagi seorang hamba untuk mengadukan kelemahannya kepada Allah.

Di hadapan manusia, kita mungkin harus terlihat kuat. Kita menyembunyikan kesedihan agar tidak merepotkan orang lain. Kita tersenyum meskipun pikiran sedang penuh beban.

Namun, ketika berdiri dalam salat, kita tidak perlu berpura-pura kuat. Kita boleh menangis, memohon ampun, meminta pertolongan, dan mengakui bahwa diri kita sangat membutuhkan Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda kepada Bilal:

يَا بِلَالُ، أَقِمِ الصَّلَاةَ، أَرِحْنَا بِهَا

"Wahai Bilal, tegakkanlah salat; buatlah kami beristirahat dengannya."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan Abi Dawud (no. 4985). Penomoran hadis dapat berbeda menurut edisi.

Perhatikan ungkapan tersebut: beristirahat dengan salat, bukan sekadar menyelesaikan salat.

Maka, ketika hidup terasa melelahkan, jangan menjauh dari salat. Justru kembalilah kepadanya. Bisa jadi, yang selama ini kita butuhkan bukan sekadar jalan keluar dari persoalan, tetapi hati yang lebih dekat kepada Allah dalam menghadapinya.

3.Bersyukur atas Nikmat yang Masih Ada

Salah satu penyebab kegelisahan adalah kebiasaan membandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.

Kita melihat orang lain memiliki rumah lebih besar, kendaraan lebih bagus, pekerjaan lebih mapan, atau kehidupan keluarga yang tampak lebih bahagia. Tanpa sadar, kita mulai menganggap hidup sendiri penuh kekurangan.

Padahal, ketika mata terlalu sibuk menghitung nikmat yang dimiliki orang lain, kita sering lupa menghitung nikmat yang telah Allah berikan kepada diri sendiri.

Allah berfirman:

لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Syukur tidak berarti kita dilarang memiliki cita-cita. Syukur juga tidak berarti kita harus berhenti berusaha memperbaiki kehidupan. Syukur adalah kemampuan untuk menghargai apa yang ada, sambil tetap berikhtiar memperoleh apa yang belum kita miliki.

Bersyukurlah atas kesehatan yang masih tersisa, keluarga yang masih menemani, makanan yang masih bisa dinikmati, kesempatan untuk beribadah, dan pintu tobat yang belum tertutup.

Bahkan, jika hari ini kita masih bisa mengucapkan Alhamdulillah, itu sendiri merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Jangan sampai keinginan memiliki sesuatu yang belum ada membuat kita kehilangan kebahagiaan atas sesuatu yang sudah ada.

Orang yang selalu menghitung kekurangan akan mudah gelisah. Orang yang belajar menghitung nikmat akan menemukan banyak alasan untuk berterima kasih kepada Allah.

4.Bertawakal Setelah Berikhtiar

Tidak semua hal dalam hidup berjalan sesuai dengan keinginan kita.

Ada usaha yang belum membuahkan hasil. Ada doa yang belum terwujud sebagaimana yang kita harapkan. Ada rencana yang gagal, kesempatan yang hilang, dan pintu yang tetap tertutup meskipun sudah berkali-kali kita ketuk.

Dalam keadaan seperti itu, hati membutuhkan tawakal.

Allah berfirman:

وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ

"Siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya." (QS. Ath-Thalaq: 3)

Tawakal bukan menyerah sebelum berusaha. Tawakal adalah melakukan apa yang mampu kita lakukan, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Kita tetap bekerja, tetapi tidak menyembah pekerjaan. Kita tetap merencanakan masa depan, tetapi tidak menganggap rencana kita pasti terjadi. Kita tetap berusaha mencari kesembuhan, tetapi menyadari bahwa kesembuhan berada dalam ketetapan Allah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ

"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung." (HR. At-Tirmidzi, no. 2344)

Burung tidak tinggal diam di sarangnya. Ia keluar pada pagi hari untuk mencari makanan dan kembali pada sore hari. Hadis ini mengajarkan bahwa tawakal berjalan bersama ikhtiar.

Karena itu, lakukanlah yang terbaik, tetapi jangan memaksa diri mengendalikan sesuatu yang memang berada di luar kemampuan kita.

Berusahalah dengan sungguh-sungguh, berdoalah dengan penuh harap, lalu biarkan hati beristirahat dalam keyakinan bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya.

5.Bersabar Ketika Menghadapi Ujian

Tidak ada kehidupan yang sepenuhnya bebas dari kesulitan. Setiap orang memiliki ujiannya sendiri. Ada yang diuji dengan kemiskinan, ada yang diuji dengan kekayaan. Ada yang bersedih karena kehilangan, ada pula yang gelisah karena sesuatu yang dimilikinya terancam hilang.

Terkadang, kita mengira bahwa orang yang hidupnya tenang adalah orang yang tidak memiliki masalah. Padahal, boleh jadi ia memiliki masalah yang berat, tetapi telah belajar menghadapinya dengan kesabaran dan keimanan.

Allah berfirman:

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa perhitungan." (QS. Az-Zumar: 10)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ

"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya." (HR. Muslim, no. 2999)

Kemudian Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menjelaskan bahwa jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, dan itu pun baik baginya.

Sabar bukan berarti tidak boleh menangis. Sabar bukan berarti kita tidak boleh merasa sedih. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sendiri pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintainya.

Sabar adalah menjaga diri agar kesedihan tidak menyeret kita kepada keputusasaan, kemarahan yang melampaui batas, atau prasangka buruk kepada Allah.

Jika hari ini terasa berat, tidak mengapa berjalan perlahan. Tidak mengapa beristirahat sejenak. Tidak mengapa meminta pertolongan kepada orang yang dapat dipercaya.

Yang penting, jangan berhenti berharap kepada rahmat Allah.

Boleh jadi ujian belum segera berakhir, tetapi kesabaran dapat membuat kita tetap teguh ketika harus melewatinya.

6.Memaafkan dan Membersihkan Hati dari Dendam

Ada kegelisahan yang bukan berasal dari beratnya pekerjaan atau kurangnya harta, melainkan dari luka yang belum selesai.

Kita mengingat perkataan seseorang yang menyakitkan. Kita terus memikirkan perlakuan tidak adil yang pernah kita terima. Bahkan ketika orang yang menyakiti kita sudah melanjutkan hidupnya, kita masih membawa peristiwa itu ke mana-mana.

Tanpa disadari, orang tersebut mungkin telah melupakan perbuatannya, sementara kita terus membiarkan luka itu menguasai pikiran.

Allah berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُواۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْ

"Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?" (QS. An-Nur: 22)

Memaafkan memang tidak selalu mudah. Ada luka yang begitu dalam sehingga membutuhkan waktu untuk pulih. Karena itu, kita tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun, kita bisa mulai belajar melepaskan keinginan untuk terus membalas, berhenti memelihara kebencian, dan menyerahkan urusan keadilan kepada Allah.

Memaafkan juga bukan berarti membenarkan kezaliman atau membiarkan orang lain terus menyakiti kita. Kita tetap boleh menjaga jarak, menetapkan batas, dan mencari keadilan dengan cara yang benar.

Yang perlu kita hindari adalah membiarkan kebencian menguasai seluruh ruang di dalam hati.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا

"Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba karena sikap memaafkan, melainkan kemuliaan." (HR. Muslim, no. 2588)

Memaafkan bukan tanda bahwa kita lemah. Terkadang, memaafkan justru membutuhkan keberanian yang lebih besar daripada membalas.

Lepaskanlah dendam sedikit demi sedikit. Bukan karena semua orang pantas mendapatkan kepercayaan kita kembali, melainkan karena hati kita juga berhak memperoleh ketenangan.

Jangan biarkan kesalahan orang lain merampas kedamaian yang seharusnya bisa kita jaga.

7.Mengingat Akhirat dan Tidak Berlebihan Mengejar Dunia

Banyak kegelisahan muncul karena kita terlalu takut kehilangan sesuatu yang kita cintai.

Kita takut kehilangan harta, jabatan, kesehatan, kedudukan, dan penghargaan manusia. Kita ingin semuanya tetap berada dalam genggaman, padahal tidak ada satu pun yang dapat kita miliki selamanya.

Semakin kuat kita menggenggam dunia seolah-olah dunia adalah segala-galanya, semakin besar pula ketakutan ketika sesuatu terlepas dari tangan.

Islam tidak melarang kita mencari harta, membangun rumah, mengembangkan usaha, atau menikmati kehidupan yang baik. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai dunia menjadi penguasa hati, sedangkan akhirat hanya menjadi urusan yang sesekali kita ingat.

Allah berfirman:

وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)

Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Kita bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga mempersiapkan bekal untuk kehidupan setelah kematian. Kita merawat keluarga, tetapi tidak melupakan kewajiban kepada Allah. Kita membangun masa depan, tetapi tidak mengorbankan akhirat demi sesuatu yang fana.

Ketika menyadari bahwa hidup di dunia hanya sementara, kita akan lebih bijaksana dalam menyikapi kehilangan.

Harta yang berkurang tidak selalu berarti hidup kita gagal. Kehilangan kedudukan tidak berarti kehormatan kita ikut hilang. Tidak mendapatkan pujian manusia bukan berarti amal kita sia-sia.

Selama kita masih diberi kesempatan untuk bertobat, memperbaiki diri, berbuat baik, dan mendekat kepada Allah, masih ada banyak hal berharga yang bisa kita kerjakan.

Jadikan dunia sebagai jalan menuju Allah, bukan tujuan terakhir perjalanan kita.

Hati akan lebih tenang ketika kita tidak lagi menuntut dunia memberikan kebahagiaan yang hanya dapat disempurnakan di akhirat.

PENUTUP: TENANG BUKAN BERARTI HIDUP TANPA AIR MATA

Ketenangan hati bukanlah keadaan ketika semua keinginan terpenuhi dan seluruh masalah selesai. Ketenangan adalah kemampuan untuk tetap beriman ketika keadaan tidak sesuai dengan harapan.

Mengingat Allah ketika gelisah. Menjaga salat ketika sibuk. Bersyukur ketika memiliki nikmat. Bertawakal setelah berikhtiar. Bersabar ketika diuji. Memaafkan ketika disakiti. Dan mengingat akhirat ketika dunia begitu menggoda.

Ketujuh hal ini bukan jaminan bahwa kita tidak akan pernah bersedih. Namun, semuanya merupakan jalan untuk membangun hati yang lebih dekat kepada Allah dan lebih kuat menghadapi perubahan kehidupan.

Jika hari ini hatimu sedang gelisah, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Allah telah meninggalkanmu. Bisa jadi, engkau sedang melewati masa yang berat. Bisa jadi, ada sesuatu yang perlu diperbaiki, ada doa yang perlu terus dipanjatkan, atau ada pelajaran yang belum sepenuhnya engkau pahami.

Kembalilah kepada Allah, meskipun langkahmu masih tertatih-tatih.

Tidak perlu menunggu menjadi manusia sempurna untuk mendekat kepada-Nya. Datanglah dengan segala kekurangan, kesalahan, air mata, dan harapan yang masih tersisa.

Sebab, kita bukan hamba yang selalu kuat. Kita adalah hamba yang membutuhkan pertolongan Allah setiap saat.

DOA MEMOHON KETENANGAN HATI

اللّٰهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ قَلْبًا مُطْمَئِنًّا، وَنَفْسًا رَاضِيَةً، وَإِيمَانًا صَادِقًا، وَتَوَكُّلًا عَلَيْكَ فِي كُلِّ أَمْرٍ

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hati yang tenteram, jiwa yang ridha, iman yang tulus, dan tawakal kepada-Mu dalam setiap urusan."

Doa ini merupakan susunan doa dengan makna yang baik, bukan kutipan hadis tertentu.

Ya Allah, tenangkanlah hati kami dengan mengingat-Mu. Lapangkanlah dada kami dengan keimanan. Ajarkan kami bersyukur ketika menerima nikmat, bersabar ketika menghadapi ujian, dan bertawakal ketika hasil tidak sesuai dengan harapan.

Jangan biarkan dunia menguasai hati kami. Jangan biarkan kesedihan menjauhkan kami dari-Mu. Bimbinglah kami agar senantiasa berjalan di jalan yang Engkau ridhai, hingga kelak kami kembali kepada-Mu dalam keadaan beriman.

آمِيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Aamiin, ya Rabbal 'alamin. (*)
_____
✒️ H. Komiruddin Imron, Lc
☀️ Shobahul Khair 
📚 Mimbar Jum'at

*) Penulis adalah Anggota Majelis Pertimbangan Dewan Dakwah Islam Indonesia Propinsi Lampung, tinggal di Pemanggilan, Natar.

Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan komentar!

Tinggalkan Komentar

1 + 9 = ?
Berita Terkait